Dua Kali Prabowo Kalah di Pilpres, Suara Gerindra Terus Melonjak

Dua Kali Prabowo Kalah di Pilpres, Suara Gerindra Terus Melonjak

Menurut Andi, logika bahwa melawan incumbent itu berat dinilainya tidak beralasan sama sekali. Sebaliknya, beban Jokowi justru semakin berat, terutama dalam menjaga ekspektasi publik yang begitu tinggi.

“Sebab, kesalahan kecil bisa berakibat fatal di tahun terakhir pemerintahannya,” ujar Andi melalui keterangan tertulisnya kepada RADAR MALANG ONLINE, Selasa (3/4).

Tidak hanya itu, Andi menuturkan, konflik yang tengah menimpa partai Golkar saat ini memberikan keuntungan pada Gerindra, karena hanya PDIP yang dapat menjadi pesaing utama partai besutan Prabowo itu.

Kedua parpol terbesar di Indonesia itu pun paham, saat ini hanya mantan Wali Kota Solo itu yang dapat menghentikan Prabowo.

“Karena itu cukup mengejutkan Megawati Soekarnoputri begitu dini mengumumkan pencalonan Jokowi sebagai Presiden, Mega tidak ingin bermain dengan waktu dan mencium bahaya di depan mata,” ungkapnya.



Namun, anehnya Partai Gerindra, menurut Andi, saat ini malah terlihat grogi dan ragu untuk mendeklarasikan pencalonan sang ketua umumnya itu. Ia menuturkan, Prabowo seharusnya berdiri di depan untuk menggerakan moralitas tempur dan mesin politik.

“Prabowo adalah pusat gravitasi partai Gerindra, sebagai mantan komandan pasukan khusus, Prabowo harusnya paham betul syarat-syarat memenangkan sebuah peperangan yang besar,” tuturnya.

Selain itu, Andi menjelaskan, sebagai partai oposisi yang konsisten berada di luar kekuasaan selama 10 tahun lamanya, partai Gerindra akan mudah mengakumulasi ketidakpuasan terhadap pemerintahan Joko Widodo.

Sementara itu, kondisi yang berbeda justru terjadi di kubu koalisi pendukung Jokowi, pemilih Jokowi belum tentu suka pada PDIP. Karena pemilih punya alternatif lain, seperti partai Hanura, Nasdem, PKB, ditambah dua pendatang baru Perindo dan PSI.

“Diprediksi suara tidak akan terakumulasi di PDIP, dengan demikian peluang untuk Gerindra semakin terbuka lebar sebagai pemenang Pileg 2019. Itu hanya bisa terwujud, jika Prabowo Subianto berada  di barisan paling depan sebagai Capres,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata Andi, noda kekalahaan dua kali dalam kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dinilai tak selalu berujung petaka. Hal itu ditenggarai dengan fakta melonjaknya suntikan elektoral kepada masyarakat yang begitu besar kepada partai Gerindra.

“Dikalahkan SBY ketika mendampingi Megawati Soekarnoputri sebagai Cawapres pada Pemilu 2009. Namun Gerindra sebagai partai pendatang baru berhasil mendapat dukungan 4,46 persen suara dengan persolehan 26 kursi di DPR RI,” ucapnya.

Lima tahun kemudian, kekuatan Gerindra malah sudah berlipat ganda saat Pemilu 2014. Prabowo Subianto yang saat itu menggandeng Hatta Rajasa harus menelan kekalahan dari pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang unggul dengan 53,15 persen.

“Meski hanya mendapat 46,85 persen suara di Pilpres, namun di Pemilihan Legislatif Gerindra mampu memastikan posisi ketiga dengan perolehan suara 11,81 persen suara dan 73 kursi DPR RI. Hanya terpaut tipis dari Partai Golkar yang berada di posisi kedua dengan suara 14,75 persen,” lanjutnya.

Karena itu, Andi berpendapat, perhelatan pilpres dan pileg yang akan digelar tahun depan bisa jadi posisi yang menguntungkan partai Gerindra dan Prabowo. Pasalnya, peluang untuk mendapatkan dua kemenangan sekaligus semakin jelas di depan mata. 

“Ketimbang malah mencalonkan figur lain, sangat beresiko kekalahan di dua medan tempur sekaligus. Presiden tak didapat, Kursi parlemen tidak signifikan,” pungkasnya.


(aim/JPC)