Dua Bocah SD Berhasil Lolos dari Penculikan, Pelakunya Pria Bercadar

JawaPos.com – Kasus penculikan anak di Samarinda Seberang, Kalimantan Timur kembali terjadi, Rabu (11/12). Dua bocah Rapak Dalam berinisial RK, 11, dan sepupunya RY, 9, menjadi korban penculikan di Jalan Pattimura, Kelurahan Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir, pukul 13.00 Wita.

Siang itu, korban yang masing-masing duduk di bangku kelas VI dan IV itu tengah berjalan kaki. Tiba-tiba keduanya dimasukkan ke dalam mobil oleh dua pria tak dikenal, berbadan kekar, namun menggunakan penutup wajah atau cadar.

Pelaku penculikan membekap kedua mulut korban. Ketika penculikan terjadi, RY menangis dan berusaha memberontak. Namun, pelaku semakin kuat membekap.

Sementara RK lebih tenang meski hatinya waswas. Mereka tak dapat berkutik lantaran diapit kedua pelaku. Beruntung, aksi penculikan itu bisa digagalkan.

“Satu di depan (nyetir, Red), dua di belakang (kursi tengah) mengapit saya dan RY,” tutur RK, dikutip dari Samarinda Pos (Jawa Pos Group), Sabtu (14/12).

RK bercerita, selama di dalam mobil, pelaku terus saja menanyakan nomor telepon orang tua mereka. “Kami dibawa ke arah Jembatan Mahakam. Sepanjang jalan, kami ditanya nomor telepon orang tua. Tapi saya sama RY tidak tahu. Itu terus yang ditanyakan. Tidak ada ancaman dibunuh,” ujar RK polos.

Tak kunjung mendapatkan nomor telepon orang tua RK maupun RY, pelaku hilang kesabaran. Ketika melintas di Jalan Slamet Riyadi, Karang Asam, Sungai Kunjang, keduanya diturunkan tepat di depan Mahakam Lampion Garden (MLG).

“Kami ditendang keluar. Setelah itu mobilnya pergi,” ucap RK.

RY masih menangis sesenggukan. Itu karena dia trauma dengan kejadian penculikan itu. RK berusaha menenangkan dengan mengajak RY pulang.

“Pulang jalan kaki. Saya ingat jalan,” kata RK.

Ketika sedang berjalan menuju arah Jembatan Mahakam, tiba-tiba hujan turun. Kedua bocah itupun lantas memilih berteduh di sekitar Masjid Darunni’mah Karang Asam.

Ayah RK, Agus Susanto, 40, menambahkan salah seorang warga setempat mengenali RK yang sedang berteduh di masjid itu. Kebetulan, warga tadi juga sedang berteduh di sana.

“Yang mengenal itu kebetulan juga anak tetangga yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Kemungkinan dia mau kuliah, jadi anak saya itu sempat dibawa ke kampusnya di Polnes (Politeknik Negeri Samarinda),” kata Agus.

Anak tetangga Agus yang menolong putrinya itupun mengabari Agus melalui kekasihnya, yang kemudian datang ke rumah Agus. “Saya langsung menjemput anak saya itu bersama sepupu ke kampus itu (Politeknik, Red) sekitar pukul 17.00 Wita,” kata Agus.

Bertemu dengan Agus, RK barulah menangis dan menceritakan apa yang dialaminya. “Anak saya itu dan sepupunya (RY, Red) ketika itu mau kasih kejutan temannya yang berulang tahun. Nah, mereka mau ambil kado di rumah sepupunya itu, tapi ketika mau menuju rumah sepupunya tiba-tiba diadang dan diculik,” ujar Agus.

Agus memang tak punya firasat apapun ketika penculikan terjadi pada putri pertama itu. Dia merasa anaknya sudah pandai karena memang sudah terbiasa keluar rumah tanpa didampingi.

“Saya memang sering mengajarkan kepada anak saya untuk berani. Dia sekolah pun kadang diantar dan dijemput,” ucap Agus.

Kasus penculikan itupun diakui Agus tak dilaporkannya secara resmi kepada polisi, dengan alasan RK maupun RY dalam keadaan selamat dan tanpa luka. “Cuma ya tetap waspada. Karena saya tidak tahu apakah pelakunya itu orang dekat atau siapa. Ini sudah meresahkan,” ucapnya.