Dropping Air PDAM Tak Maksimal, Warga Sambat ke DPRD

KOTA MALANG – Dropping air melalui tandon-tandon portabel menjadi salah satu cara yang dilakukan PDAM Kota Malang untuk mengatasi krisis air. Sembari proses perbaikan pipa yang rusak dilakukan.

Tapi nyatanya, dropping ini belum mampu mengakomodir kebutuhan air warga. Seperti yang terjadi di Perumahan BTU (Bulan Terang Utama), Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang.

Di Kluster 33 misalnya, PDAM Kota Malang hanya melakukan dua kali pengisian setiap harinya. Adapun, tandon portabel memiliki kapasitas 2.000 liter.

“Kami sampai harus berjaga di sekitar tandon agar ketika ada truk air lewat bisa kami kinta untuk dropping,” jelas Nenny Annisa warga Perumahan BTU kluster 33.

Nenny mengungkapkan, air di tandon hanya bisa bertahan 3-4 jam. Sebab, yang mengambil air itu bukan hanya warga Kluster 33. Tapi juga kluster lain di sekitarnya.

Keluhan Nenny dan warga lain disampaikan pada anggota Komisi B yang melakukan kunjungan kerja di BTU, pagi tadi (21/1).

“Saya meminta bantuan pak dewan agar air tidak hanya di dropping dua kali saja. Sebab, saat kami minta dropping lagi, sopir truk tangki air menolak karena satu tandon hanya dijatah 2 kali sehari,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Trio Agus Purnomo berjanji akan melakukan audensi dengan PDAM Kota Malang untuk mengatasi masalah ini. “Kami minta warga untuk bersabar. Namun kami akan tetap melakukan audensi dengan Direktur PDAM agar setidaknya tandon portabel bisa di-dropping 3 hari sekali,” tukasnya.

Pewarta : Choirul Anwar
Foto : Choirul Anwar
Editor : Indra M