Drh Deddy Fachruddin Kurniawan Jadi Rujukan Peternak Se-Indonesia

Peternak Batu Temukan Teori Mempercepat Kehamilan pada Sapi

Drh Deddy Fachruddin Kurniawan memberi makan sapi perah miliknya di Kampung Sapi Kamis lalu (8/2).

Kota Batu memiliki peternak andal. Namanya drh Deddy Fachruddin Kurniawan. Melalui tangannya, sapi yang umumnya bunting 16 bulan hingga dua tahun sekali, kini bisa bunting setiap tahun. Bagaimana caranya?

Kandang sapi di Jalan Makam, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, itu jauh dari keramaian. Menuju kawasan tersebut, Jawa Pos Radar Malang harus keluar dari jalan utama Malang–Batu, kemudian melintasi jalan di lereng perbukitan kawasan Beji. Jalan tersebut sepi dan berdempetan dengan makam.

Di kandang tersebut ada belasan sapi. Itulah Kampung Sapi, kandang milik drh (dokter hewan) Deddy Fachruddin Kurniawan. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan kandang tersebut. Sapinya juga hanya 15 ekor.

Namun, kandang tersebut sudah didatangi peternak dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tertarik sekaligus belajar kepada Deddy tentang bagaimana cara beternak sapi. Ya, Deddy memang tidak sekadar sebagai peternak biasa. Namun, dia merupakan peternak yang mempunyai keunggulan di atas rata-rata. Di tangannya, sapi bisa bunting setiap tahun.

”Kalau pada peternak lain, umumnya buntingnya dua tahun sekali,” kata suami dari Zahrotul Fitriah tersebut.



Kamis lalu (8/2), wartawan koran ini menyambangi Deddy di Kampung Sapi. Belasan sapi miliknya tampak gemuk dan sehat. Pola perawatannya memang berbeda jika dibandingkan milik peternak lain.

Umumnya, peternak lain mengikat sapinya di kandang. Sementara di Kampung Sapi, Deddy tidak pernah mengikat hewan ternaknya. Beberapa sapi bebas berkeliaran di kandang berukuran sekitar 20 meter x 15 meter itu.

Tempatnya juga bersih. Tentu Deddy punya alasan mendesain kandangnya tersebut. Dia menyadari jika sapi juga seperti manusia. Membutuhkan sosialisasi dengan sesamanya sekaligus nyaman suasana yang bersih.
Polanya merawat sapi tidak lepas dari pengalamannya memelihara sapi saat bekerja di New Zealand dan di Pakistan. Kala itu, Deddy bekerja di perusahaan sapi. Ada ribuan sapi yang dia rawat. Selain itu, dia belajar ilmu hewan saat kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor).

Berkat keberhasilannya memelihara sapi, Deddy mengaku heran dengan kegagalan para peternak di Indonesia. ”Saya heran kenapa peternak sudah puluhan tahun beternak, tapi hanya begitu saja hasilnya,” katanya.

Dari sisi kesejahteraan juga tidak meningkat. Padahal, selama ini kebutuhan susu sapi di Indonesia sangat besar. Dan, itu masih dikuasai pihak asing. ”Sekitar 80 persen kebutuhan susu dipenuhi dari impor,” tutur ayah 4 anak itu.

Berawal dari keprihatinan tersebut, Deddy membuat peternakan Kampung Sapi itu. ”Di farms (peternakan) ini saya jadikan tempat untuk belajar sekaligus laboratorium,” paparnya lantas tersenyum.

Pada 2008 silam, Deddy mulai membangun peternakan. Saat itu peternakannya masih biasa dan belum banyak dikenal orang. Namun, pada 2011 sudah menjadi peternakan percontohan sekaligus peternakan edukasi.

”Sampai sekarang tidak kami kembangkan karena orientasinya untuk percontohan dan tempat belajar,” katanya.

Peternak sapi dari berbagai daerah sudah mendatanginya. Mulai peternak rakyat yang masih tradisional, peternak yang sudah berpendidikan atau menengah, hingga peternak berskala industri besar.

Agar semua peternak bisa memahami programnya, Deddy mengklasifikasinya menjadi beberapa kelas. Untuk peternak rakyat yang ingin belajar, dia tidak memungut biaya. ”Saya mengadakan pelatihan itu empat kali dalam satu tahun,” kata alumnus SMAN 1 Batu tersebut.

Lalu, seperti apa yang dia ajarkan? Salah satunya adalah memanusiakan sapi. Artinya, peternak tidak boleh mengekang kebebasan sapi. Misalnya membiarkan berkeliaran di kandang tanpa diikat. Itu bisa meningkatkan produktivitas sapi.

Program produktivitas ini memang berbayar karena harus melibatkan dokter hewan. Namun, dari sisi penghasilan peternak, program ini jauh lebih menguntungkan. ”Itu ada programnya dan harus dilakukan dokter hewan,” kata dia.

Meski begitu, penghasilan dari hasil ternak lebih banyak jika dibandingkan tanpa menerapkan program milik Deddy. Program itu bisa diterapkan untuk semua jenis sapi. Termasuk sapi perah. Bahkan, produktivitas untuk sapi perah bakal meningkat.

Deddy misalnya, dari hasil peternakannya bisa menghasilkan 4.000–4.500 liter susu per ekor dalam setahun. Sementara peternakan lain rata-rata hanya menghasilkan 3.000–3.500 liter susu dalam setahun.

”Per ekor sapi bisa menghasilkan keuntungan Rp 11 juta. Biaya dokter hewannya kan hanya menghabiskan Rp 1 juta setahun, dan itu kami jamin hasilnya,” kata pria yang tinggal di Kelurahan Sisir itu.

Melalui programnya tersebut, Deddy sudah memiliki banyak mitra. Untuk Kota Batu saja bermitra dengan 10 peternak. Mereka bisa menyetor susu ke Deddy dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga di pasaran, yakni Rp 7 ribu per liter.

”Kalau dari mitra, kami menjamin kualitasnya sehingga berani mematok dengan harga lebih tinggi,” terangnya.

Selain di Kota Batu, dia juga punya mitra di beberapa daerah di seluruh Indonesia. Misalnya dari Surabaya, Tulungagung, Depok, Bandung, Lampung, Palembang, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka