Dr Widodo H.S. MPD, Dosen UM Pencetus Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)

Pernah Beri Les Gratis ke Turis Asing, Sempat Dicemooh Teman

Widodo Hs peraih anugerah tokoh kebahasaan dan kesastraan 2016, dosen bahasa indonesia di kampus UM juga penggiat bahasa indonesia penutur asing sepanjang hayat.

Dr Widodo H.S. MPd, dosen Universitas Negeri Malang (UM), berhasil mengembangkan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai mata kuliah baru di Jurusan Bahasa Indonesia. Upayanya itu sempat dicemooh. Tapi, kini BIPA menjadi salah satu program unggulan hingga dia dianugerahi sebagai Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan oleh Kemendikbud.

Widodo tampak tegap menuju ruang Indonesian Studies Program (ISP) Malangkucecwara College of Economics (MCE) Senin pekan lalu (7/1). Pria yang kesehariaannya berkecimpung dalam pengajaran bahasa sebagai dosen Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra UM ini memang jadi penasihat ISP MCE. Selain dosen Bahasa Indonesia, dia juga jadi penggiat BIPA pertama di Malang. Dia adalah pengajar serta tokoh BIPA di tingkat daerah maupun nasional.

”Berawal pada Februari 1972, saya mulai mengajarkan BIPA, karena saat itu ada teman saya dari Belanda yang meminta saya untuk mengajarkan bahasa Indonesia,” ujar suami Indri Suhartini ini.

Melihat adanya prospek bahasa Indonesia bisa dikenal dan dipelajari oleh orang asing, mulailah tercetus ide di dalam kepala pria yang akrab disapa Pak Wid ini untuk memberikan pembelajaran BIPA secara lebih formal dengan materi dan private class kepada pelajar asing.

”Teman saya ingin lebih bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Meskipun saya tidak dibayar waktu itu, tetapi saya dengan tulus membantu, sekalian memperkaya bahasa Belanda,” terangnya.



Selang dua minggu setelah mengajarkan bahasa Indonesia kepada temannya dari Belanda itu, ada beberapa ekspatriat Jepang yang juga memintanya untuk diajarkan bahasa Indonesia. Mendapatkan tawaran yang terus-menerus, itu membuatnya makin terdorong untuk melanjutkan mengajar materi bahasa Indonesia kepada orang asing.

”Pembelajaran saya laksanakan dengan trial and error dan materi seadanya. Yang terpenting, pelajar asing dapat memahami materi dan bisa meningkatkan komunikasi bahasa Indonesianya,” imbuh kakek dengan dua cucu itu.

Setelah lulus seleksi Consorium for the Teaching of Indonesian (COTI) pada tahun 1974 di IKIP Malang, persepsinya terhadap orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia semakin kuat. Widodo tak hanya menyampaikan materi bahasa Indonesia, tetapi juga memperkenalkan bahasa Jawa dan budaya Jawa.

Di saat mengikuti program COTI, pada tahun yang sama juga dia terlibat sebagai penyelenggara program asing dari beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Prancis, Australia, dan Jepang. Keterlibatannya dalam mengajarkan bahasa Indonesia mulai dikenal oleh beberapa perguruan tinggi lain dan perusahaan yang mempekerjakan orang asing di Malang.

Kesibukannya sebagai dosen di IKIP Malang (sekarang UM) dan memberikan private class untuk para pelajar asing membuatnya kewalahan membagi waktu. Maka, pada tahun 1984, mulailah idenya tentang pembentukan BIPA sebagai suatu ilmu menjadi sesuatu nyata. Tetapi, tentu saja perjuangannya penuh dengan berbagai hambatan. Misalnya, banyak yang masih menyangsikan idenya itu, dan karena itulah dia sempat dicemooh.

*Selengkapnya baca Jawa Pos Radar Malang edisi Senin 15 Januari 2018

Pewarta: Silvia Ligan
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Silvia Ligan