Donald Trump Terpojok, Komite Yudisial Siapkan Pasal Pemakzulan

JawaPos.com – Demokrat mempercepat langkah. Komite Yudisial DPR kini menyusun pasal-pasal pelengseran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Proses dengar pendapat dilakukan hari ini, Senin (9/12). Selanjutnya, pengambilan suara diperkirakan berlangsung pekan depan. Jika lolos, giliran senat yang memproses. Mungkin proses di senat berjalan pada awal Januari.

’’Presiden Trump telah menyalahgunakan kekuasaannya, mengkhianati keamanan nasional kita, dan merusak pemilihan kita. Semuanya hanya demi keuntungan pribadinya. Konstitusi hanya memerinci satu perbaikan untuk pelanggaran ini, pemakzulan,’’ papar Kepala Komite Yudisial dari Demokrat Jerry Nadler sebagaimana dikutip BBC.

Baca juga: Pemakzulan Donald Trump Tinggal Tunggu Waktu

Laporan 52 halaman milik Komite Yudisial itu berisi penjabaran dasar hukum dan sejarah pemakzulan. Berbeda halnya dengan laporan Komite Intelijen yang menyajikan bukti dan kesaksian untuk melawan Trump. Tujuan utama laporan tersebut adalah membantah pembelaan Partai Republik dan Gedung Putih terkait dengan pemakzulan yang tengah berjalan.

Beberapa pakar menilai, Trump dan Republik berharap kasus itu akan berakhir seperti pemakzulan mantan Presiden Bill Clinton. Namun, Trump dan Clinton berbeda. Selama pemakzulan, angka kepercayaan penduduk kepada Clinton terus naik. Saat dengar pendapat, rata-rata tingkat kepercayaan publik mencapai 60 persen. Ketika proses sidang di senat diadakan, angkanya naik menjadi 73 persen. Itu tertinggi sepanjang masa jabatannya.

Di pihak lain, kepercayaan publik kepada Trump terus menurun menjadi sekitar 40 persen. Bahkan, saat dia terus menyerang lawannya dan memaparkan keberhasilannya, dukungan publik kepadanya tak lantas meningkat tajam.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sudah lelah dikaitkan terus dengan pemakzulan Trump. Dalam kunjungannya ke Estonia baru-baru ini, salah seorang reporter bertanya tentang kasus Trump. Hanya dengan mendengar nama Trump, Zelenskiy sudah tahu apa yang ditanyakan tanpa menunggu penjelasan dari penerjemah.

’’Bahkan, tanpa memahami bahasa Anda yang indah, saya sudah paham. Kita kini berada di Estonia. Sayangnya, semua orang tertarik dengan apa yang terjadi dengan Trump,’’ ujar Zelenskiy.

Zelenskiy tentu saja tidak menjawab lebih lanjut pertanyaan jurnalis tersebut. Dia merasa lebih tertarik menjabarkan hubungan dua negara. Bagi Zelenskiy, situasi itu tidak mengenakkan. Terlebih, dia masih baru menjabat presiden. Sebelumnya, dia adalah seorang komedian.

Mau tak mau, Ukraina dan Zelenskiy kini menjadi pembicaraan di mana-mana. Sebab, skandal telepon Zelenskiy-lah yang menjadi sumber upaya pelengseran Trump. Zelenskiy diminta suami Melania tersebut untuk menyelidiki Hunter, putra Joe Biden.