Donald Trump Siap Berunding

JawaPos.com – Ketegangan antara AS dan Iran masih mencekam. Kedua pihak saling menegaskan bahwa mereka siap berunding. Padahal, pemerintah masing-masing masih mengeluarkan ancaman.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan kesediaannya duduk di meja perundingan. Dalam wawancara suara dengan NBC, dia mengatakan bahwa tujuan utama AS dalam menekan Iran hanyalah untuk mencapai kesepakatan. “Saya tidak punya niat berperang,” ungkapnya Minggu (23/6).

Bagi Trump, syarat untuk mencapai kesepakatan dengan AS sangatlah mudah. Iran hanya perlu berjanji menghentikan dua hal. Pertama, menghentikan total program nuklir. Kedua, berhenti menyokong pemberontak di luar negeri.

Soal jaminan pasokan minyak bumi, Trump berkata peduli setan. Menurut dia, AS tak punya kepentingan ekonomi dengan Iran atau wilayah Selat Hormuz yang sering terpengaruh. Negeri Paman Sam sedang melalui masa bulan madu di sektor energi setelah penemuan shale gas atau gas alam dalam serpihan batu.



“Tiongkok mendapatkan 91 persen pasokan minyak dari selat (Hormuz, Red), Jepang 62 persen. Lalu, kenapa kami yang harus menjaga keamanan di sana?” ungkapnya melalui akun Twitter pribadinya.

Sikap Trump langsung diikuti bawahannya. Senin (24/6) Gedung Putih dijadwalkan menerapkan sanksi ekonomi tambahan untuk Iran. Namun, hingga berita ini dibuat pukul 21.00, belum ada kabar soal sanksi tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berkeliling di Timur Tengah dan Asia. Kemarin dia baru saja bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) di Jeddah. Tujuannya, membuat koalisi untuk melawan Iran.

“Kami ingin membuat dunia sadar tantangan yang dihadapi dari penyokong teror dunia,” ujar Pompeo kepada Agence France-Presse.

Arab Saudi punya kepentingan dalam isu tersebut. Selain statusnya sebagai sekutu AS, kerajaan itu baru saja mendapat serangan rudal dari kelompok Houthi di Yaman.

Rudal tersebut menewaskan 1 orang dan melukai 21 lainnya. Pangeran MBS sudah berkali-kali menuduh Iran sebagai sponsor alutsista kelompok aliran Syiah tersebut.

“Kami siap bernegosiasi jika memang mereka punya niat. Mereka tahu di mana mencari kami,” imbuh Pompeo.

Sebaliknya, Iran bersikap dingin. Mereka menganggap remeh rencana sanksi tambahan dari AS. Menurut Jubir Kemenlu Iran Abbas Mousavi, hukuman terbaru AS tak akan memberikan dampak kuat.

“Mau apa lagi yang dilarang? Mereka mungkin hanya akan menambah daftar sanksi terhadap perusahaan,” ungkapnya.

Pemerintahan Hassan Rouhani menganggap bahwa semua upaya AS menyerang Iran berakhir gagal. Termasuk serangan siber AS yang baru-baru ini mencuat di media massa. Menurut mereka, upaya peretasan sistem itu tak berhasil menembus tameng dunia maya yang disebut Dejpha.

“Bukan hanya satu, tapi 33 juta sudah kami gagalkan,” ungkap Menteri Telekomunikasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi.