Donald Trump Janji Negosiasi Tarif Lagi di KTT G7

JawaPos.com – Banyak negara, terutama di Eropa, yang tak setuju dengan Trump. Perang tarif antara dua negara adidaya, AS dan Tiongkok, dianggap sebagai salah satu penyebab kemerosotan ekonomi global. Presiden AS Donald Trump pun kini tak terlalu menggebu-gebu soal perang tarif itu.

“Saat ini saya belum punya rencana. Sebenarnya kami saat ini rukun dengan Tiongkok. Kami sedang berbicara,” ujar Trump kepada para jurnalis dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Biarritz, Prancis, Minggu (25/8). Presiden ke-45 AS itu bahkan menegaskan bahwa dirinya memiliki pemikiran kedua untuk segala sesuatu.

Pernyataan itu Trump lontarkan untuk menjawab pertanyaan tentang ancamannya sebelumnya. Bahwa dia bisa menggunakan perintah eksekutif untuk memaksa perusahaan AS keluar dari Tiongkok.

Penolakan atas kenaikan tarif juga dilontarkan di tanah AS. Para pelaku usaha sudah gerah dengan kebijakan Trump. Jumat (23/8) Trump mengumumkan akan menaikkan pajak barang-barang dari Tiongkok dari 25 persen menjadi 30 persen. Nilai barang yang dinaikkan itu mencapai USD 250 miliar atau setara Rp 3,5 kuadriliun. Kebijakan itu berlaku mulai 1 Oktober. Sedangkan untuk impor barang lain senilai USD 300 miliar (Rp 4,2 kuadriliun) dari Tiongkok, tarif naik dari 10 persen menjadi 15 persen mulai 1 September.



“Pasar global terguncang karena kekhawatiran resesi global. Pengumuman itu hanya menambah luka pada bisnis, pekerja, dan keluarga Amerika,” tegas Presiden dan CEO Consumer Technology Association Gary Shapiro seperti dikutip The Straits Times.

Menurut dia, yang dilakukan Trump sudah cukup. Kenaikan tarif tidak membuat AS menjadi negara yang luar biasa, tapi justru sekali lagi menghasilkan kesalahan ekonomi luar biasa.

Hal senada dilontarkan oleh kelompok-kelompok industri lainnya. Salah satunya datang dari Presiden dan CEO American Apparel & Footwear Association Rick Helfenbein. Menurut dia, strategi yang diambil Trump merupakan bencana untuk konsumen, bisnis, dan ekonomi.