Domba Tetanus, Cara Puskesmas Cisadea Atasi Bayi Kurang Gizi

KOTA MALANG – Langkah Puskesmas Cisadea untuk meningkatkan dan menggerakkan operasi timbang yang mereka beri nama Dengan Operasi Timbang Kita Temukan dan Tangani Kasus (Domba Tetanus) selama tahun 2018 berbuah hasil. Terbukti, angka bayi yang masuk dalam kategori Bawah Garis Merah atau BGM menurun.

BGM ini merupakan warning untuk menentukan penanganan lanjutan terhadap bayi. “Multi, sebab BGM ini, ada yang dari lahir sudah BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) beratnya kurang dari 2500 gram,” papar Kepala Puskesmas Cisadea, Kustiningtyas SKL.

Kasus lainnya dari BGM juga didasari faktor lain yaitu faktor bawaan, salah satunya susah makan. Ada juga karena kasus ekonomi kelurga.

“Pada tahun 2017 di salah satu kelurahan kami di Purwantoro angka BGM nya sangat tinggi paling tinggi di Kota Malang,” ujar Tyas.

Pada saat itu, ada sekitar 27 kasus bayi dengan status BGM. “Akhirnya kami dengan petugas gizi membuat satu inovasi, dengan meningkatkan dan menggerakkan operasi timbang,” sebutnya.

Upaya yang mereka lakukan adalah rutin mengadakan jadwal kunjungan tiap 1 minggu 1 RW. Upaya Puskesmas yang berada di Jalan Cisadea 19, Purwantoro, Blimbing, Kota Malang ini rupanya berbuah hasil.

“Alhamdulillah kasusnya sampai pada bulan ini sudah menurun dari 27 menjadi 15 orang,” Kata Dia.

Pemberian makanan tambahan seperti susu dan makanan pendamping lain hasil droping dari Dinas Kesehatan (Dinkes) juga diberikan kepada bayi.

Dengan rutinnya program tersebut dalam rentang bulan januari hingga maret, bayi dengan BGM sudah menurun dari 27 sampai jadi 22 bayi.

“Maret sampai sekarang intensif kita tangani terus sampai kesini hingga sampai 15 orang,” tutup Tyas.

Puskesmas akan terus berusaha menanggalkan masalah ini sampai tuntas. Agar permasalahan bayi BGM tuntas, peran masyarakat dibutuhkan, khususnya orang tua untuk terus memantau tumbuh kembang anaknya dan memberikan gizi yang cukup dan seimbang.

Pewarta: Elfran Vido
Foto: Elfran Vido
Penyunting : Fia