Dokter Asal Myanmar Teliti Gizi Anak Sekolah dengan Pola Diet Biskuit

Dokter Asal Myanmar Teliti Gizi Anak Sekolah dengan Pola Diet Biskuit

JawaPos.com – Pemenuhan gizi anak sekolah seringkali luput dari perhatian. Padahal mereka membutuhkan asupan gizi terbaik sebagai generasi penerus yang sedang berkembang dalam aspek kognitifnya. Berkaca dari Myanmar, sama dengan di Indonesia, status gizi anak sekolah dasar menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kritis.

Sebab prevalensi stunting, wasting, dan underweight semakin tinggi. Kebiasaan diet anak-anak sekolah Myanmar telah berubah menjadi pola nutrisi padat energi karena mereka suka makan banyak camilan.

Karena itu, Dokter asal Myanmar dr. Le Thandar Soe, MPH mengambil S3 di Universitas Indonesia meneliti dalam gelar Doktor dalam Ilmu Gizi yang diraihnya dengan judul ‘Effect of Optimized Food-Based Recommendation and Biscuits Fortified with Essential Fatty Acids and Micronutrients on Cognitive Performance of Myanmar School Children’.  Jadi penelitian ini bertujuan untuk fokus pada anak sekolah dasar untuk melengkapi kegiatan promosi gizi.

Biskuit kaya nutrisi untuk anak sekolah. (Istimewa)

“Penelitian ini untuk meningkatkan kinerja kognitif anak-anak sekolah sehingga dapat memiliki hasil yang lebih baik dalam prestasi akademik,” kata Le Thandar Soe di sela-sela promosi Doktor di kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Selasa (17/7).



Saat ini, kata dia, orang tua harus memastikan diet atau pola makan yang optimal bagi siswa. Studinya mengembangkan rekomendasi berbasis makanan (FBR) menggunakan linear pendekatan pemrograman (LP). Dari nutrisi berbasis makanan itu, dioptimalkan dalam kebutuhan nutrisi yang sebenarnya untuk anak sekolah. Dihitung dan diperkaya menjadi biskuit berdasarkan kebutuhan siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi biskuit atas status gizi (z-skor, hemoglobin, status besi, ALA plasma) dan pengaruh kognitif (perhatian, ingatan, kecepatan informasi pengolahan akademis) dari anak-anak sekolah dasar di Myanmar. Temuan penelitian ini memberikan bukti bahwa asupan asam lemak esensial dan mikronutrien pada anak-anak sekolah masih rendah.

Pola makan itu dioptimalkan berdasarkan pendekatan khusus jika selama ini anak tidak cukup asupan nutrisi untuk zat besi, folat, kalsium, vitamin B1, omega-3, EPA dan DHA. Untuk memenuhi nutrisi, biskuit difortifikasi dan diformulasikan dengan nutrisi yang sebenarnya. Yaitu dengan 7 mg zat besi, 85 ug folat, 0,3 mg vitamin B1, 100 mg kalsium dan 400 mg omega-3.

Targetnya meningkatkan berat badan dan status anemia. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa biskuit tersebut mendukung hasil yang lebih baik kinerja kognitif yang dapat memenuhi asupan gizi harian siswa.

“Jadi studi ini merekomendasikan untuk strategi fortifikasi makanan lebih lanjut untuk pemenuhan nutrisi kebutuhan anak-anak,” paparnya.

(ika/JPC)