Diujikan 110 Hari, Produk Kentang Naik 21 Persen

Berawal dari curhatan petani karena produksi kentang yang minim, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menemukan alat bernama KerabaTani. Alat yang dipadukan dengan aplikasi smartphone ini mampu mengukur suhu, pH (keasaman), dan kelembapan (tanah dan udara). Hasilnya, panen menjadi melimpah.

NUGRAHA PERDANA

Pendampingan yang dilakukan lima mahasiswa UM terhadap petani di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, sejak 2017 tak sia-sia. Dari keluhan para petani, Ari Gunawan (fakultas ekonomi), Austin Fascal Iskandar (fakultas teknik), Made Radikia Prasanga (fakultas teknik), Moh.

Hafidhuddin Karim (fakultas MIPA), dan Widad Lazuardi (fakultas MIPA) berpikir mencari solusi. Akhirnya mereka sepakat membuat aplikasi untuk mengurai masalah para petani. Ketemulah persoalan soal kualitas tanah yang tidak bagus.

Kemudian pada Desember 2018, Ari bersama rekannya melakukan riset lapangan dengan mengukur suhu, pH, dan kelembapan (tanah dan udara). Hasilnya diketahui penyebabnya adalah pemberian air, pestisida, dan pupuk dengan dosis yang berlebihan.

Para petani tidak sadar kegiatan tersebut berpengaruh terhadap menurunnya tingkat kesuburan tanah. ”Kualitas tanahnya itu menjadi jelek dari 100% menjadi turun 38%,” terang Ari Gunawan.

Dari masalah itu muncul ide menemukan sebuah alat pertanian di pasaran yang dapat mengukur suhu, pH, kelembapan (tanah dan udara). Tapi, alat ini yang ditemukan ternyata memiliki kekurangan.

Yaitu, diperjualbelikan secara terpisah dengan harga yang mahal. Dari situlah mereka membuat sebuah alat pertanian, khususnya untuk kentang, yang dapat mengukur suhu, pH, kelembapan (tanah dan udara) dengan satu alat saja.

Mereka menamakan alat karyanya dengan KerabaTani. Mulai Mei 2019, alat itu diujicobakan untuk 10 petani kentang. Para petani dalam lahan satu hektare diminta untuk menggunakan tiga alat KerabaTani selama proses pertumbuhan kentang.

Dalam waktu 110 hari dilakukan pendampingan, dengan alat tersebut mereka terbantu untuk mengetahui ukuran suhu, pH, kelembapan (tanah dan udara).

Selain itu, mereka dapat melihat beserta rekomendasi petunjuk perawatan tanaman kentangnya sampai tahap panen yang dikolaborasikan bersama aplikasi KerabaTani yang ada di smartphone. Rekomendasi menyesuaikan dengan data-data yang ada di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitjestro) Kota Batu.

Pada masa percobaan, mereka membandingkan dengan lahan pertanian kentang yang tidak menggunakan alat KerabaTani. Hasilnya, lahan tersebut produktivitasnya tidak bagus. ”Ya, mereka tanamannya banyak yang rusak. Hasil kentangnya pun juga begitu,” katanya.

Kemudian terdapat perbedaan berat satu kentang yang dihasilkan sebelum petani menggunakan alat KerabaTani hanya 1–1,5 kg. Sedangkan ketika para petani menggunakan alat KerabaTani, hasilnya satu kentang diklaim Ari bisa mencapai berat 3 kg.

”Selain itu, dulu sebelum mereka menggunakan alat KerabaTani hanya dapat menghasilkan 19 ton kentang dalam sekali panen. Tapi setelah menggunakan alat tersebut, hasil panen yang mereka dapatkan 23,4 ton (21 persen),” jelasnya.

Kelebihan dari alat ini adalah tidak menggunakan listrik. Tenaga yang dihasilkan melalui adanya solar cell yang ditanam pada alat KerabaTani. Kemudian Ari menjamin alat ini dapat bertahan sampai 5 tahun.

Di sisi lain, Ari menjelaskan terdapat juga kelemahan dari alat ini yang masih harus dikembangkan. Data-data rekomendasi penjelasan tentang petunjuk proses penanaman, perawatan, hingga panen pertanian kentang masih belum menyeluruh.

Kendala yang dihadapi selama uji coba alat KerabaTani adalah kurangnya para petani dalam memahami terhadap sosialisasi yang diberikan. Menurut Ari, supaya hasil panen kentang baik maka para petani harus memahami cara kerja dan penggunaan dari alat tersebut.

”Ini yang kita juga pikirkan bagaimana para petani juga banyak yang usianya lanjut. Mereka tidak begitu bisa menggunakan smartphone. Rencana ke depannya juga, data-data petunjuk dalam proses penanaman kentang bisa diaplikasikan melalui bentuk SMS supaya memudahkan para petani,” jelasnya.

Alat ini juga sudah memiliki hak cipta dan proses pendaftaran hak paten dari Kemenkum HAM. Mereka juga memiliki website, yaitu KerabaTani.com untuk menginformasikan seluruh kegiatan mereka kepada masyarakat. Untuk membuat satu alat ini membutuhkan waktu sebulan dan modal Rp 1,4 juta.

Alat ini sudah mulai diproduksi untuk diperjualbelikan. ”Sudah pernah dipesan oleh 3 petani kentang dari Banyuwangi dengan harga per unit Rp 1,7 juta,” katanya. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan digunakan untuk pengembangan selanjutnya.

Selain itu, dalam waktu dekat, rencananya alat KerabaTani akan bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember untuk memodifikasi casing dengan ukuran yang lebih kecil lagi. Hal ini untuk menekan modal produksi supaya lebih murah lagi.

Mereka juga ingin membuat tambahan pendeteksi unsur hara dalam alat KerabaTani dan mengembangkan inovasi teknologi pertanian lainnya.

Saat ini alat KerabaTani sedang diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) penerapan teknologi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2019 yang puncak acaranya diselenggarakan di Bali.

Menurut dia, alat KerabaTani memiliki peluang yang bagus dalam ajang ini. Dia berharap dengan masuknya alat KerabaTani dalam PKM di Pimnas 2019 dapat memberikan yang terbaik untuk Universitas Negeri Malang (UM).

Sebelum diikutkan PKM dalam Pimnas 2019, alat KerabaTani juga mendapatkan support dana sebesar 15.000 dolar Amerika dari dikti dalam Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT) 2019.

Selain itu, alat KerabaTani sudah diikutsertakan dalam lomba tingkat dunia, yaitu Korea Startup Grand Challenge 2019 yang diadakan Pemerintah Korea Selatan. Dalam lomba tersebut, tim alat KerabaTani masuk dalam peringkat 40 besar sedunia dan mendapatkan pendanaan 10.500 dolar Amerika.

Harapan dari Ari dan teman-teman, alat KerabaTani dapat disempurnakan sehingga bisa diterapkan kepada seluruh petani. Selain itu, mereka ingin bermitra lebih luas lagi, terutama dengan instansi pemerintahan terkait supaya adanya kontribusi pemerintah dalam penerapan alat ini.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
penyunting : Abdul Muntholib