Dituding Sebar Ujaran Kebencian, Dandhy Laksono Berstatus Tersangka

RADARMALANGID – Jurnalis, aktivis HAM, sekaligus pendiri rumah produksi WatchDoc, Dandhy Laksono ditangkap polisi dari Polda Metro Jaya Kamis malam (26/9).

Dilansir dari Amnesty International Indonesia melalui akun Twitternya (27/9), Dandhy ditangkap pada pukul 23.00 WIB. Dandhy dituduh menyebarkan ujaran kebencian lantaran cuitannya soal kerusuhan di Jayapura dan Wamena.

Kuasa hukum Dandhy, Alghiffary Aqsa, menyebut cuitan Dandhy yang dipersoalkan ada 1. Cuitan tersebut dipublikasikan Dandhy melalui akun Twitternya @Dandhy_Laksono pada 22 September.

“Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Wamena. Rusuh. Ada yang tewas,” cuit Dandhy, dan menambahkan, “Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak.”

Atas cuitan itu, Dandhy ditangkap pada Kamis (26/9) malam di kediamannya. Meski telah dipulangkan, kini ia menyandang status tersangka karena diduga melanggar Pasal 28 ayat (2), Pasal 45 A Ayat (2) UU No. 8 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Pasal 14 serta Pasal 15 No. 1 tahun 1946 mengenai hukum pidana.

“Sudah boleh pulang, tapi Dandhy jadi tersangka,” ujar Alghif kepada awak media.

Nama Dandhy Laksono sudah tak asing lagi di Indonesia. Kiprahnya dikenal atas konsistensinya menyoroti berbagai isu sosial dan Hak Asasi Manusia (HAM), dan dikenal karena ia merupakan sutradar dari film dokumenter milik WatchDoc, Sexy Killers.

Film tersebut sempat menjadi buah bibir karena perilisannya yang bersamaan dengan waktu Pilpres 2019 dan menyebut beberapa politikus terlibat dalam kerusakan lingkungan akibat industri pertambangan perusahaan miliknya.

Dandhy juga kerap membela dan menyuarakan berita-berita tentang Papua sebagai upaya memperbaiki kondisi HAM dan demokrasi.

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Istimewa
Editor:Indra M