Distribusi dan Wawasan Pembukuan Jadi Masalah UMKM di Kota Malang

KOTA MALANG – Data Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro Kota Malang, saat ini terdapat lebih dari 10 ribu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Terdiri dari 99.213 adalah usaha mikro, 9.942 usaha kecil, dan 3.711 merupakan usaha menengah.

Puluhan ribu UMKM tersebut pastilah punya kendala dalam melakoni bisnisnya. Seperti misalnya UMKM Vie Cookies yang menjual produk K’tetong (Bahasa Belanda artinya lidah kucing). Bisnis milik Evi Mariana ini kesulitan dalam hal distribusi.

“Kami ini memproduksi sejenis cookies yang gampang rapuh. Kami kesulitan distribusi keluar kota, karena kan rawan hancur. Sebenarnya kami butuh lebih banyak lagi wawasan packaging, meskipun hal seperti itu sebenarnya sudah ada,” kata Evi, Jumat (8/11).

Meski begitu, bisnisnya terbilang moncer. Dengan modal Kredit Usaha Rrakyat (KUR) pada tahun 2017, kini ia mampu meraup omzet dari penjualan cookiesnya Rp 4 sampai Rp 5 juta per bulan. Bahkan bisa Rp 11 juta saat momen high season seperti Natal atau Idul Fitri.

Harga cookiesnya sendiri Rp 12 ribu untuk berat kemasan 70 gram. Dengan varian tiga rasa yakni original, cokelat, dan apel. Ia menjelaskan bahwa varian apel lah yang menyumbang 60 persen pendapatan daripada varian yang lain.

“Alhamdulillah kalau distribusi kami meskipun di Malang Raya saja tapi tetap signifikan. Sekarang kami sudah jadi supplier 23 toko. Kebanyakan toko oleh-oleh di Kota Batu. Ya per bulan 2000 kotak lah,” ungkapnya.

Sementara owner Pandubima, Heri yang menjual aneka kripik buah mengaku kesulitan dalam hal majerial. Utamanya mengenai pembukuan. Hingga saat ini ia mengaku tak pernah membukukan secara pasti omzetnya per bulan.

“Ya kalau laku 1000 lebih kemasan sih mungkin. Ada lebih dari 100 toko yang sudah kami supply. Tapi untuk pembukuan angkanya kami bener-bener butuh wawasan yang lebih, ya sudah ada tapi siapa tahu ada lagi,” kelakarnya

Pandubima sendiri merupakan produk dari CV Puri Pangan Lestari. Usaha ini telah berdiri sejak tahun 1993. Sebanyak 12 varian kripik yang dijual diantaranya kripik apel, salak, semangka, hingga mix fruits. Dengan kemasan 50 gram dan harga perkemasan Rp 10 ribu.

“Yang paling laku ya mix fruits itu. Kami juga punya kemasan ekonomis, isinya 7 pack kripik dengan harga Rp 75 ribu. Cocok untuk oleh-oleh,” tandasnya.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Penyunting: Fia