Disdik Instruksikan Sekolah Bentuk Tim Khusus

MALANG KOTA – Masih adanya kasus kekerasan terhadap pelajar ditanggapi serius oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang. Secara khusus, mereka membentuk satuan tim pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di semua jenjang pendidikan.

Mulai dari tingkat TK hingga SMP. Selain meminta masing-masing sekolah membuat satu tim khusus, disdik juga menginstruksikan adanya agenda outing class.

Keputusan Disdik Kota Malang ini dilakukan dalam rangka menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan (Permendikbud) RI Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

”Karena dari pusat sudah menginstruksikan perlindungan bagi siswa. Baik dari kekerasan fisik maupun verbal,” jelas Kepala Disdik Kota Malang Dra Zubaidah MM.

Meski saat ini di setiap sekolah telah memiliki bimbingan konseling, namun adanya tambahan tim, diharapkan bisa melengkapi tugas konseling. Komposisi tim khusus itu nantinya bakal diisi guru, kepala sekolah, hingga komite dan pihak terkait.

”Misal diisi dari dinas pendidikan atau sosok lain yang dianggap bisa membantu, ya silakan (dimasukkan tim),” terang Ida, sapaan akrabnya.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, sejumlah kasus yang menimpa pelajar memang sempat mencuat di Kota Malang pada tahun 2018 lalu.

Kala itu ada kasus pem-bully-an hingga kekerasan seksual yang menimpa beberapa siswa SD di Kota Malang. Ada pula kasus kenakalan antarremaja di salah satu SMP Negeri saat itu.

Baru-baru ini, sempat viral juga kasus kekerasan dari oknum motivator terhadap 10 siswa di SMK Muhammadiyah 2. Khusus untuk permintaan adanya kegiatan outing class, disdik turut memberi sejumlah kisi-kisinya.

”(Outing Class) itu bisa dilakukan setengah hari, mudah-mudahan setiap tahun bisa dilaksanakan,” jelas Ida.

Di outing class atau pembelajaran luar kelas itu nantinya bakal ada deklarasi ramah anak. Ada pakta integritas antara sekolah dan komite yang diteken. ”Isinya mengenai sekolah aman, bebas narkoba, porno aksi, radikalisme,” singkatnya.

Instruksi tersebut sudah dijalankan sejumlah sekolah. Salah satunya yakni SMPN 4 Malang. Di sana, ada beberapa kegiatan khusus yang digeber antar-jenjang siswa.

”Semisal untuk kelas tujuh dan delapan melaksanakan senam germas dan makan bersama lauknya ikan. Kemudian dipisah, kelas tujuh ikut sosialisasi pergaulan remaja, dan kelas delapan mengikuti permainan tradisional,” jelas Kepala SMPN 4 Pancayani Dinihari.

Dia mengakui bila kegiatan outing class bisa membuat anak-anak semakin rukun dan berbaur. ”Karena ada sistem zonasi, tentu ada banyak  wilayah yang semakin berbaur.

Jadi, ini tantangan sekolah bagaimana caranya membuat sistem di mana anak-anak ini bisa berbaur,” imbuh Panca.

Langkah pencegahan serupa juga dilakukan di SDN Percobaan 1. Mereka turut melibatkan orang tua untuk bergabung di peringatan Hari Ramah Anak.

Kepala SDN Percobaan 1 Dra Annysa Ida menyatakan, urusan konsumsi dalam peringatan itu sengaja diserahkan semuanya kepada wali murid. ”Jadi, orang tua paguyuban yang masak. Biar menunya sama.

Istilahnya ini seperti kenduri. Makan bareng lesehan, biar kebersamaan anak-anak itu semakin kuat,” kata dia. Dia turut memberi dukungan terhadap imbauan adanya outing class seperti itu.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya