Dirikan Bank Sampah, Sulap Popok Bekas Jadi Vas Bunga

Ernawati Agustina dan Dewi Rahayu adalah sosok inspiratif. Berkat kreativitasnya, Desa Kepuharjo, Karangploso, telah menjadi desa kreatif. Erna dan Dewi memanfaatkan sampah di kampungnya menjadi ”mesin” pencetak uang.

 

MIFTAHUL HUDA

Tumpukan sampah anorganik memenuhi sekeliling rumah Ernawati Agustina, 28, di Dusun Turi, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso. Mulai teras, samping rumah sebelah kanan dan kiri yang terlihat hanya  barang bekas.

Barangkali bagi tetangga kanan-kiri, tumpukan sampah itu cukup mengganggu dan tidak ada manfaatnya. Namun tidak demikian bagi Ernawati. Justru tumpukan sampah itulah yang jadi mesin pencetak uang. Dari sampah itulah dirinya bersama 49 kaum perempuan di kampungnya mendapatkan pendapatan. Bukan hanya secara materi yang didapat, tapi juga kampung dan sungai menjadi bersih dari sampah. Ibaratnya, sekali mendayung, dua pulau terlewati.



Ya, di kampungnya, Ernawati yang dibantu rekannya Dewi Rahayu, 45, menjadi inisiator terbentuknya bank sampah. Jadi, para tetangga diajak bergabung di komunitas peduli sampah. Tujuannya mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas dari bahan plastik dan popok bayi. Semua barang itu dikumpulkan di bank sampah. Setelah terkumpul, semua barang bekas itu dia jadikan beragam kerajinan tangan untuk suvenir. Lalu, suvenir itu dijual. ”Kami memulai ini sekitar tiga bulan lalu, tepatnya pada 15 September 2018,” terang  Erna mengawali cerita.

Ketika akan membentuk bank sampah, dia mengaku sempat ragu. Dia khawatir tidak ada yang mendukung. Maklum, kebanyakan kalau mengurus sampah banyak warga yang merasa jijik. Untungnya dia dipertemukan dengan rekan yang punya visi sama: Yakni Rahayu. Bersama Rahayu, dia mengajak para perempuan lain di kampungnya untuk membuat gerakan mengumpulkan sampah anorganik sebagai bahan suvenir. ”Kebanyakan ibu-ibu di sini awalnya jijik untuk memproses sampah menjadi produk yang layak jual,” imbuh perempuan yang juga ketua Bank Sampah Desa Kepuharjo ini.

Dia bersama Rahayu tergerak untuk mendirikan bank sampah ini usai ikut pelatihan dari pegiat bank sampah Ngalam West Bank pada September lalu. Dari pelatihan itu, dia dan Rahayu lantas mendapat ide memanfaatkan sampah popok bekas menjadi semacam pot tanaman hingga vas bunga cantik. Prosesnya terbilang sederhana, dia hanya perlu satu popok celana bayi bekas. Mula-mula popok bayi dipisahkan terlebih dahulu antara kain dan gel yang ada di dalamnya. Selanjutnya, kain popok lantas dicuci menggunakan detergen hingga bersih. Kemudian, proses selanjutnya membuat adonan yang terbuat dari semen. Untuk takarannya, semen lima sekop taman berbanding dengan air satu gelas ukuran 350 ml.

”Semua adonan selanjutnya diaduk agar mencampur. Untuk proses ini, adonan tidak boleh terlalu cair,” imbuh Rahayu yang didampingi Erna.

Lebih lanjut perempuan paro baya berambut sebahu tersebut menjelaskan, proses selanjutnya menyiapkan cetakan dari toples berdiameter sekitar 10 cm. Kemudian permukaan dalam toples dilapisi plastik. Setelah itu adonan yang sudah siap selanjutnya dimasukkan ke dalam toples. Ketika setengah kering, plastik beserta adonan kemudian diangkat dan dipisahkan antara adonan yang setengah jadi dengan plastik. Pot yang setengah jadi lantas dibentuk menggunakan tangan sesuai keinginan. Dalam satu hari, rata-rata dia mampu memproduksi 25 pot dari popok bekas.

”Sebenarnya prosesnya cukup simpel, yang lama itu saat penjemuran. Kalau cuaca terik ya 25 produk bisa dihasilkan dalam sehari,” imbuhnya.

Berkat kegigihan mereka, bank sampah yang digagas sejak 2017 lalu itu kini dalam dua minggu, sedikitnya 25 kilogram popok bekas terkumpul dan siap mereka olah. Dari idenya tersebut, aliran sungai di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, yang tercemar karena limbah sampah anorganik, kini perlahan sudah mulai teratasi berkat kreativitas kedua perempuan hebat ini. ”Awalnya memang saya cukup miris melihat sungai yang tercemar limbah, salah satunya ya kebiasaan warga yang membuang popok ke sungai. Padahal, sampah jenis popok ini sangat sulit terurai,”sambung Erna.

Kreativitasnya tidak hanya berbentuk pot dan vas bunga, ada beberapa tas kecil yang terbuat dari bahan popok bekas. Untuk harga yang dibanderol sangat variatif. Menurut dia, semakin besar bentuk dan kesulitan membuat pola ukiran potnya, maka semakin mahal pula harganya. Untuk satu pot kecil bisa dihargai Rp 10 ribu hingga tas cantik seharga Rp 200 ribu. Untuk saat ini pemasaran produk daur ulangnya hanya masih melalui online di media Facebook @taswongturi. ”Selain di Facebook, pembeli juga bisa langsung mengunjungi produk kami di toko online @kepuhkreatifa,” terangnya sembari berpromosi.

Pewarta: *
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Miftahul Huda