Dinkes Kota Malang Minta Petugas Medis Waspada Monkeypox

KOTA MALANG – Kasus monkey pox atau cacar air menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan, termasuk Dinas Kesehatan Kota Malang. Dalam edaran yang diterima radarmalang,id, Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kota Malang menghimbau seluruh petugas kesehatan di Kota Malang untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala penyakit endemik Afrika Tengah dan Afrika Barat itu.

“Dihimbau para petugas medis meningkatkan kewaspadaan jika ada pasien dengan gejala yang diduga terkait Monkeypox,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Asih Tri Rachmi.

Selain itu, Asih juga mengingatkan agar dalam memberikan pelayanan kesehatan, petugas kesehatan selalu menggunakan alat pelindung diri, minimal masker dan sarung tangan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebarluasan penyakit yang diderita pasien dan mencegah penyebaran jika terdapat suspect monkeypox.

“Jika menemukan kasus suspek Monkeypox, segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kab/kota dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi,” imbuh dia.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Kesehatan Singapura pada tanggal 9 Mei 2019, telah terjadi satu kasus konfirmasi Monkeypox (MPX) pertama di Singapura. Kasus yang ditemui adalah warga negara Nigeria, yang merupakan salah satu negara endemis Monkeypox, berkunjung ke Singapura pada tangal 28 April 2019 dan dinyatakan positif terinfeksi virus yang dikenal dengan anam cacar monyet itu pada tanggal 8 mei 2019. Kasus dan 23 orang yang kontak erat dengannya telah dikarantina.



Berdasarkan data WHO, Afrika Tengah dan Afrika Barat merupakan daerah endemis Monkeypox. Penyakit ini ditularkan oleh hewan terutama hewan pengerat yang mengandung virus Monkeypox.

Penularan terjadi melalui gigitan, cakaran, kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi di kulit atau mukosa hewan, dan makan daging yang tidak dimasak dengan baik. Penularan dari manusia ke manusia bisa dimungkinkan namun sangat terbatas, melalui sekret pernapasan atau lesi pada kulit.

Gejala Monkeypox mirip dengan smallpox (cacar) namun lebih ringan. Masa inkubasi 5 — 21 hari, gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening (vesikel), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14 — 21 hari. Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 1096 kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit monkeypox.

Berdasarkan data dari SINKARKES dari bulan Januari sd 10 Mei 2019, kedatagan kapal yang terbanyak adalah dari Singapura (18.176 kapal) serta penerbangan dari Singapura relatif cukup banyak sehingga penyebaran penyakit monkeypox ke Indonesia bisa terjadi, meskipun menurut Kementerian Kesehatan Singapura risiko penyebarannya rendah di Singapura.

Penyunting: Fia
Foto: istimewa