Diminati Turis Manca, Kembangkan Wisata Kampung Batik

Anjani Sekar Arum dikenal sebagai sosok penggagas batik motif bantengan, khas Kota Batu. Komitmennya mengedukasi masyarakat agar melek soal batik dilakukannya dengan membuka kursus, khususnya kepada anak-anak. Kini dia antusias mewujudkan Bumiaji menjadi Desa Wisata Batik.

MIFTAHUL HUDA

Sosok perempuan berjilbab yang satu ini mungkin sudah cukup terkenal di Kota Batu. Lewat tangan terampilnya, sudah ada ratusan kain batik berhasil memikat mata masyarakat. Mulai dari warga Kota Batu hingga ke negara Eropa seperti Itali, Prancis, dan Inggris.

Bukan hanya itu, karya batik khasnya tersebut juga rutin diikutkan pameran setiap tahunnya hingga ke Taiwan. Keberadaan batik dengan motif banteng itu juga memaksa para turis datang untuk sekadar tahu makna dan filosofi di balik batik Anjani Sekar Arum.

Aroma khas malam dan pewarna batik langsung tercium begitu memasuki tempat workshop di Jalan Brantas No 3 Gang II Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Ngaglik, Kota Batu.  Beberapa pembatik terlihat sedang asyik dengan canting dan kain sebagai media melukis.

Tangan-tangan terampil itu cekatan melukis di kain berwarna putih. Seakan sudah otomatis, canting di tangan pembatik bergerak lincah mengikuti pola. Selain ada yang sedang mengerjakan penebalan pola, ada juga yang tengah sibuk memproses pewarnaan.

”Saya sudah empat tahun menekuni seni membatik ini. Dulu saya mengabdi untuk anak-anak, tapi untuk saat ini saya berusaha fokus dengan program desa wisata,” kata Anjani. Menurut Anjani, selama ini Sanggar Batik Andhika miliknya berada di Jalan Brantas No 3 Gang II, Kelurahan Ngaglik.

Namun, karena banyaknya anak-anak yang berminat untuk belajar membatik, tempat workshop awal itu pun terlalu penuh. Karena kurang efektif, Anjani kemudian membeli tanah dan membangun rumah sekaligus tempat workshop baru di Jalan Nangka, Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.

Di sanalah dia tidak hanya fokus terhadap anak-anak saja, pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar, khususnya perempuan juga dimulai.

”Sekarang ada sekitar 50 anak yang ikut belajar di sanggar saya. Sekarang para ibu-ibu pun juga saya bimbing agar nantinya sama-sama membangun Bumiaji menjadi desa wisata batik,” katanya.

Menurut dia, dengan tetap mempertahankan motif bantengan di setiap batik kreasinya, Anjani yakin karakter tersebut akan menjadi salah satu identitas Kota Batu. ”Saya memang banyak terinspirasi dari Ayah saya yang kebetulan memang menggeluti kebudayaan bantengan,”  tegas anak dari pasangan Agus Rianto dan Anik Sulastri ini.

Menurut dia, budaya bantengan hingga kini masih sering kali dilihat sebelah mata. Dia menilai, masyarakat masih berpandangan jika bantengan lekat dengan sesuatu yang bersifat mistis dan juga menyeramkan. ”Sisi menarik bantengan itulah yang saya angkat menjadi motif batik saya selama ini,” bebernya.

Dari situlah, batik kreasi Anjani banyak diminati pembeli dan juga banyak anak-anak yang ingin belajar membatik di tempat workshop-nya.

Bagi Anjani sendiri, keputusannya untuk mengambil fokus mata kuliah seni kriya dengan jalur batik di Fakultas Pendidikan Seni Rupa UM tak sia-sia. Hal itu ditambah dengan semangatnya belajar di sejumlah sanggar di wilayah Jogjakarta sekitar enam bulan. ”Waktu itu ada banyak pengalaman berharga agar bisa menguasai dunia batik,” terangnya.

Anjani mengaku, saat itu dia masih menjadi mahasiswa dan harus bekerja paro waktu. Macam-macam yang dijual kala itu. Mulai dari tempura hingga aneka es agar dirinya bisa membeli sehelai kain putih untuk belajar batik. ”Dulu ya harus mengumpulkan uang untuk membeli satu helai kain sebagai bahan baku,” terang alumnus S-1 Pendidikan Seni Rupa UM tersebut.

Setelah cukup banyak warga, mulai dari anak-anak, terutama ibu-ibu yang sudah belajar di tempat workshop-nya, perempuan berusia 28 tahun itu kini mulai mengabdikan dirinya untuk memberdayakan kaum perempuan di Dusun Binangun.

Tujuannya, dengan menggandeng BUMdes, dia berharap bisa mewujudkan gagasan wisata kampung batik. ”Ini akan menjadi yang pertama dengan konsep wisata batik di Kota Batu,” tambahnya.

Anjani juga tak ingin para pembatik yang diajari justru punya persepsi dan orientasi berbeda. Karena dari sekian banyak muridnya yang piawai membatik, ada di antaranya yang justru menjiplak ilmunya dan mengembangkan di daerah lain.

”Ya dengan bekerja sama dengan BUMdes, harapannya bisa lebih terkoordinasi, tidak ada lagi penjiplakan karena nantinya kami akan memiliki galeri serta tempat workshop yang lebih lengkap,” imbuhnya.

Impiannya menciptakan wisata batik memang patut diacungi jempol, tapi hal itu juga perlu didorong dengan SDM yang mendukung. Tak mau berlama-lama, perempuan berjilbab ini rela melepas status tenaga pengajar di sekolah, hanya untuk mewujudkan Dusun Binangun menjadi satu-satunya wisata batik di Kota Batu. Keputusan itu dia pilih karena terbatasnya tenaga yang benar-benar mumpuni di bidang seni membatik.

”Karena SDM yang kurang, saya terpaksa berhenti mengajar. Ya, saya akan fokus ke wisata kampung batik. Namun, sanggar saya masih tetap menerima anak-anak yang ingin belajar membatik,” tutupnya.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Miftahul Huda