Diklaim Pertama di Malang, Ingin Orang Tak Remehkan Tukang Kayu

Hobi tak biasa dilakoni dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berawal dari hobi menjadi tukang kayu, dia membuka kelas kayu atau kelas yang khusus belajar tentang perkayuan. Kelas seperti ini diklaim yang pertama di Malang. Seperti apa?

 

MOCHAMAD SADHELI

 

Dalam video berdurasi empat menit itu, Adhyatman Prabowo, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ini seolah menunjukkan perjalanannya di dunia perkayuan. Video yang dia unggah di YouTube itu ingin menunjukkan hobinya, tapi juga memperlihatkan kegelisahannya.

”Kalau seperti ini (jualan produk kayu, Red), lalu apa bedanya saya dengan produsen-produsen yang lain. Karena itulah, saya menggagas kelas kayu,” kata Adhyatman Prabowo dalam video yang diunggah di channel-nya yang diberi nama DK Wood Craft ini.

Ya, yang digagas Adhyatman tersebut memang jauh dari profesinya sebagai pengampu mata kuliah psikologi klinis. Dia menyatakan, antara kayu dan psikologi memang tidak ada hubungannya. ”Karena saya anggap bermain kayu ini adalah hobi, bukan pekerjaan,” imbuhnya.

Selama ini, dia rutin membuka kelas kayu di rumahnya di daerah Bumiasri, Sengkaling, Blok DD Nomor 2, Dau, Kabupaten Malang. Di rumah yang belum rampung seratus persen itu, seminggu sekali terdengar riuh gergaji mesin pemotong.

Aktivitas itu merupakan bagian dari kelas kayu yang dia ampu. Dari potongan-potongan itu, lalu terciptalah gantungan kunci, rak bumbu, hingga lemari yang terbuat dari kayu. Bermain kayu, dia menjelaskan, berawal dari ketertarikannya saat masih kecil. Hingga beberapa tahun lalu, dia bisa membuat aneka macam produk dari kayu.

Tapi, batinnya belum merasa puas karena ilmu perkayuannya hanya bermanfaat bagi dirinya saja. Karena itulah, sejak awal 2017 lalu, dia membuat kelas kayu. Sebelum mendirikan kelas kayu itu, dia pernah mengalami gagal dalam mengerjakan proyek karena dia dapat banyak pesanan, tapi tidak mampu mengerjakan akhirnya proyek tersebut gagal.

Selain kegagalan itu, dia juga ingin bermanfaat melalui media kayu. ”Saya terinspirasi dari Brotherwood dari Bandung. Saya coba buka di Malang,” terangnya.

Kelas yang dia buat sejatinya ingin membuat sesuatu yang beda dari yang lain. ”Jadi, tak hanya bisnis, tapi juga ada unsur edukasinya,” tandas pemilik akun Instagram @dk_woodcraft ini.

Setiap kelas kayu, peserta hanya tinggal datang. Lantaran, alat hingga makan siang sudah dia sediakan. Bahkan, hasil karya bisa dibawa pulang. Peserta cukup membayar biaya pendaftaran, besar kecil biaya bergantung dengan materi yang akan diberikan. ”Saya tak membatasi bagi yang mau ikut, ada pekerja, mahasiswa, sampai perempuan juga silakan. Bahkan, ada yang dari luar Malang,” ujar pria asal Ponorogo itu.

Sejauh ini, sudah sembilan kelas yang pernah dia buka. Beragam proses pembuatan karya dari kayu sudah dia bagikan. ”Peserta sangat senang, mereka dapat produk juga dapat pengalaman cara membuatnya,” tambahnya.

Semua yang dia ajarkan benar-benar dari nol. Dari yang tidak punya basic sampai yang berpengalaman. Bahkan, sering peserta tidak pernah membayangkan bisa membuat produk dari kayu, setelah dia ajari menjadi bisa. ”Cara membuat, edukasi tentang alat, memiliki kayu yang bagus, memotong, mengelem, dan proses finishing, semua kami ajarkan,” imbuh pria berusia 34 tahun ini.

Tempat dia berkreativitas tak lebih dari ruang berukuran 3×3 meter. Kecil memang, tapi peralatan yang dia miliki sudah dibilang lengkap. Beberapa alatnya, bahkan di-endorse dari sebuah perusahaan asal Amerika Serikat yakni Dewalt. ”Saya bermimpi menggandeng rumah kreatif BUMN, Bekraf, atau investor lainnya,” imbuhnya.

Tidak hanya berhenti di situ, jiwa akademisinya menghilangkan sifat bisnisnya. ”Hobi ini sifatnya edukasi,” ujarnya. Dia sangat berkenan jika diajak oleh karang taruna atau institusi pemberdayaan untuk membagi sedikit ilmunya. ”Saya tidak memikirkan biaya, secara cuma-cuma saya kasih,” ucap dosen psikologi ini.

Apa yang dilakukan Adhyatman tentang dunia perkayuan itu, ingin mengubah pemikiran bahwa tukang kayu bukanlah pekerjaan yang bisa diremehkan. ”Mindset orang kalau tukang kayu itu pekerjaan yang kotor,” ujarnya. Padahal, pekerjaan tukang kayu itu tidak banyak orang yang bisa meniru sehingga peluang masih sangat besar. Lebih-lebih tukang kayu di Indonesia juga tidak begitu melek terhadap teknologi. ”Padahal, kalau mau melakukan inovasi-inovasi, lihat di YouTube, teori soal perkayuan, beh, ilmunya sangat banyak,” tandasnya.

”Saya (juga) mau menggagas, ’ayo main kayu’. Itu yang menjadi brand saya,” tegasnya.

Jadi, semua orang bisa menjadi tukang kayu dan menjadi tukang kayu itu mudah. Menurut dia, di era milenial seperti ini karya bisa menjadi mahal dan kecenderungan orang akan membuat sendiri. ”Do it yourself (DIY), gaya hidup orang luar tentang DIY ini pasti akan muncul juga di Indonesia,” jelasnya.

Meski kelas kayu ini dianggap bukan pekerjaan, tapi Adhyatman mendapatkan banyak manfaat. ”Pertama, manfaatnya ini bisa jadi refreshing setelah menangani kasus psikologi,” katanya.

Selain itu, dia juga dapat hadiah jalan-jalan ke Thailand berkat lomba video perkayuan yang dia ikuti. Dia keliling Thailand pada Juni lalu, dan semuanya ditanggung panitia. ”Karena inilah, saya sekarang lebih fokus pada edukasi perkayuan melalui kelas kayu, tidak lagi memproduksi barang untuk dijual karena sudah tidak ada waktu,” katanya. ”Jadi, intinya fokus saya di dunia kayu ini sekarang adalah pada pemberdayaan,” pungkasnya. 

Pewarta: *
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: M Sadheli