Dikenal sebagai Relawan Kemanusiaan hingga Jadi Imam di Masjid Jerman

Hingga hari ke-6 meninggalnya Shinta Putri Dina Pertiwi, keluarga dan sahabatnya masih belum bisa melihat jenazahnya. Prestasi dan perilaku baiknya tak akan pernah dilupakan oleh orang yang pernah bersamanya. Bagaimana korban saat hidup di mata orang-orang yang mengenalnya?

Rumah Shinta di Jalan Bandulan, gang 12, nomor 359, kemarin siang (14/8) tampak diselimuti haru. Hanya air mata ibu korban, Umi Salamah, yang tampak jelas. Wanita 55 tahun ini tak kuasa menahan air matanya saat banyak kerabatnya datang melayat.

Sejak kemarin pagi, ibu tiga anak ini tidak menanggalkan mukenanya usai salat Duha. Saat ditemui wartawan Radar Malang, kedua matanya berkaca-kaca akibat sering menangis. Namun, Umi Salamah dengan tabah dan sabar melayani pertanyaan Radar Malang. ”Kalau hasil otopsi di Jerman sudah tuntas, insya Allah jenazah sudah bisa diterbangkan ke Malang,” kata dosen IKIP Budi Utomo ini. Update terakhir yang dia peroleh, Pemerintah Jerman masih menunggu hasil otopsi kematian putrinya. Jika tidak ada yang janggal, jasad mahasiswi Jerman asal Malang yang meninggal dunia karena tenggelam di Danau Trebgas, Jerman, itu bisa segera dipulangkan.

Selain itu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jerman masih dijadwalkan datang ke rumah duka untuk melayat pada hari Rabu (15/8) ini. Jenazah sekarang disemayamkan di Frankfurt. Kenapa harus di Frankfurt? Umi menyatakan, di sana banyak penduduk atau pendatang muslim. ”Saya ditelepon takmir masjid Frankfurt, Dek Shinta akan dimandikan dan disalati di sana,” tutur wanita yang juga menjadi dosen Universitas Brawijaya (UB) ini.

Umi melanjutkan, apabila jadwal tersebut (memandikan dan mensalati) tidak tuntas di hari Rabu, jenazah akan dipulangkan Kamis besok (16/8). Dia melanjutkan, KJRI sudah mengurus administrasi kepulangannya di Jerman.

Umi menuturkan, putrinya sudah 5 tahun tinggal di Jerman. Putrinya dikenal sebagai wanita yang gigih, tak mudah putus asa, selalu ingin belajar, dan mencoba hal baru. Umi masih ingat saat Shinta mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UM PTN). Meski sudah diterima di Politeknik Negeri Malang, tapi Shinta masih mengikuti tes Fakultas Kedokteran di Universitas Diponegoro (Undip) dan akhirnya diterima juga. Nah, saat ada tawaran program beasiswa ke Jerman inilah, Shinta memutuskan untuk mengambilnya.

Namun takdir berkata lain, di tahun terakhirnya menjelang lulus kuliah di Negeri Kanselir itu, hidup Shinta harus berakhir. Sejatinya, mahasiswi semester akhir Jurusan Kedokteran, Konsentrasi Biokimia, University of Bayreuth, ini dijadwalkan mengakhiri studi sarjananya di tahun 2018. Thesis yang disusun tinggal diujikan.

Shinta tenggelam di danau saat berenang hingga akhirnya meninggal saat ditemukan keesokan harinya. Ibunya menyatakan jika Shinta memang senang berenang. Nah, saat summer school inilah, Shinta rekreasi bersama teman-temannya. Korban berenang di danau dekat kampus seluas 68 ribu meter persegi. Di danau tersebut, Shinta mengembuskan napas terakhirnya.

”Teman-temannya telepon saya, mereka turut berduka. Mereka bilang, Dek Shinta sangat supel dan berpenampilan kasual,” ucapnya sambil menunjukkan foto semasa hidup Shinta saat kuliah bersama teman-temannya. ”Rencananya, Desember ini Shinta pulang dan menikah,” katanya sambil menitikkan air mata. Calon suami Shinta bernama Dwiki. Pasangan ini sudah saling kenal sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dwiki berkuliah di Indonesia. Menurut Umi, Dwiki dan putrinya sudah berpacaran agak lama.

Namun, rencana menikah itu pupus. Tidak hanya itu, Umi juga mengenang putrinya yang punya keinginan untuk melanjutkan kuliah di Jerman lagi. Sehabis menikah, Shinta akan melanjutkan kuliah forensik di Jerman. ”Sudah ada rencana, dia kuliah lagi ke Jerman,” kata Umi.

Semasa hidup, Shinta tidak hanya terkenal karena prestasinya. Dia juga baik, sopan santun, dan memiliki rasa empati yang tinggi. Hal tersebut sudah dirasakan oleh orang-orang terdekatnya sejak 6 tahun lalu, saat masih menjadi siswa di SMAN 7 Kota Malang.

Adalah Budi Harsono, kepala SMAN 7 Kota Malang, yang pada waktu itu turut berbela sungkawa dengan meninggalnya Shinta yang turut mengharumkan nama sekolahnya kala itu. Padahal, menurut Budi, SMAN 7 Malang waktu itu bukanlah sekolah favorit. Akan tetapi, dengan tercatatnya nama Shinta yang memenangkan juara 3 Kompetisi Web Muda yang diadakan media massa Kompas di Jakarta, nama SMAN 7 pun semakin terangkat dan mulai disegani masyarakat. ”Dia seakan turut membantu mengharumkan nama sekolah yang masih terseok-seok pada waktu itu,” ungkap pria 62 tahun ini kepada Radar Malang. Budi mengungkapkan, Shinta memiliki karakter yang kuat. Perilaku kepada guru-guru dan teman-temannya pun patut diacungi jempol. ”Tidak pernah saya mendengar catatan buruk dari gurunya tentang dia. Malah prestasi yang saya dengar,” tutur mantan kepala SMAN 2 Malang itu.

Hal yang sama dituturkan oleh Agustina Dwi Astuti, guru matematika di SMAN 7 Malang. Menurut dia, Shinta merupakan satu-satunya siswa yang mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. ”Selama saya mengajar hingga sekarang, masih dia satu-satunya siswa SMAN 7 yang kuliah di luar negeri,” ujarnya. Guru berusia 57 tahun ini menambahkan, Shinta yang dia kenal adalah sosok siswa yang cerdas dan berprestasi di kelasnya. ”Meskipun begitu, dia tetap mau berbagi pengetahuan dengan temannya,” ungkapnya.

Bahkan, dalam suatu kesempatan, dirinya pernah mengungkapkan kepada Shinta mengenai keinginannya untuk memiliki siswa yang berprofesi sebagai dokter. Hal itu pun terwujud saat dia mendengar kabar bahwa Shinta mendapatkan beasiswa kedokteran di Jerman. ”Sebagai guru, saya bangga sekali dengan apa yang diperolehnya itu,” ujarnya.

Di sisi lain, hal senada juga diungkapkan oleh Hayuning Dwi Saraswati, salah satu teman Shinta di Jerman. Melalui Umi Salamah, Hayuning Dwi Saraswati menyatakan bahwa Shinta merupakan sosok yang aktif dalam segala kegiatan di kampusnya. ”Apalagi kegitan sosial sebagai relawan,” ungkap Umi Salamah. Lebih lanjut, meskipun Shinta masih satu tahun lebih di Univesity of Bayreuth, Jerman, dia merupakan salah satu mahasiswa yang populer di kampusnya. Hal itu karena keaktifannya di berbagai kegiatan.

Di samping itu, saat kuliah di Jerman, dia merupakan salah satu sosok yang sukses menghilangkan persepsi tentang anggapan radikalisme agama Islam di Jerman. ”Malahan, Shinta jadi imam salat untuk mahasiswa muslim di Jerman,” pungkasnya.