Diduga Dikeroyok Penyebab Serma Achmad Meninggal, Apakah Benar?

SINGOSARI – Teka-teki penyebab meninggalnya Sersan Mayor (Serma) Achmad, 45, prajurit TNI yang berdinas di Divisi Infanteri (Divif) 2 Kostrad, mulai menemui titik terang. Hasil penyelidikan kepolisian mengarah pada dugaan pembunuhan. Tentara bintara tersebut diduga meninggal setelah dikeroyok.

”Dugaan awal adalah kasus penganiayaan, dan pelakunya terindikasi lebih dari dua orang,” ujar Kepala Satuan Resor Kriminal (Kasatreskrim) Polres Malang AKP Azi Pratas Guspitu kemarin (25/12).

Seperti diberitakan, jenazah Serma Achmad ditemukan Minggu lalu (24/12) sekitar pukul 08.00 di saluran irigasi Dusun Boro Kandang, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Saat ditemukan Supomo, warga Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, jenazah Serma Achmad dalam keadaan telentang. Mulut korban terikat kain, dan terdapat beberapa luka di kepala bagian belakang dan lutut.

Disinggung mengenai dugaan pembegalan yang sempat beredar, Azi punya pandangan lain. Menurutnya, hilangnya sepeda motor Honda Beat tidak bisa dijadikan acuan korban meninggal karena dibegal. Dia menganggap, pelaku sengaja menghilangkan sepeda motor Honda Beat untuk menghilangkan jejak.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, keberadaan Serma Achmad bersama istrinya di sekitar Rumah Sakit (RS) Brawijaya, Jalan Sumber Waras, Kecamatan Lawang, sempat terekam CCTV (closed circuit television).



Saat dikonfirmasi hal ini, Azi membenarkan. Tapi, dia belum bisa memberikan keterangan lebih detail. ”Masih kami dalami terkait apa motif dan siapa pelakunya. Kami mencari rekaman dari CCTV, namun hasil rekaman seperti apa saya belum mengetahui pasti,” tegas Azi.

Terpisah, Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menegaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI guna mengungkap kasus tersebut. Dia juga mengatakan bahwa ada dugaan penganiayaan terhadap korban. ”Analisa sementara, korban dianiaya sebelum meninggal. Untuk itu, tim di lapangan terus melakukan pendalaman,” kata Ujung.

Sementara itu, suasana duka masih menyelimuti Nur Amalia, istri korban. Kemarin (25/12), Amalia bersama anaknya berada di rumah orang tunya di Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Dia enggan memberikan keterangan terkait meninggalnya suaminya. Tapi, saat bercerita kepada beberapa pelayat, Amalia menceritakan beberapa jam sebelum suaminya meninggal. ”Sabtu (23/12) sekitar pukul 20.00 saya sempat diajak suami pergi. Namun dia tidak menjelaskan hendak pergi ke mana,” tutur Amalia.

Meski tidak tahu tujuannya, Amalia ikut saja. Dia dibonceng suaminya mengendarai sepeda motor Honda Beat. Sesampainya di RS Brawijaya, Lawang, Serma Achmad menurunkan istrinya. Sebelum pergi, korban meminta Amalia tetap di lokasi dan dijanjikan akan dijemput. ”Karena khawatir, saya menghubunginya lewat WhatsApp. Tapi, percakapan yang terjalin berakhir sekitar pukul 23.00,” tutur Amalia.

Karena tak ada balasan hingga Minggu (24/12) pukul 01.00 dini hari, Amalia memutuskan pulang jalan kaki ke rumah orang tuanya di Kelurahan Kalirejo. Pagi harinya, dia mendapatkan kabar bahwa suaminya ditemukan meninggal.

Anak pertama korban, Andi Dodi Alvan, masih terpukul setelah ayahnya meninggal. Apalagi, Dodi adalah anggota keluarga terakhir yang menerima kabar itu. Minggu pagi dia mendapatkan pesan dari ibunya untuk menjemput sang ibu di rumah kakeknya di Kelurahan Kalirejo. ”Saya sempat menanyakan keberadaan ayah. Namun ibu saya bilang tidak ada kabar dari semalam,” kata Dodi saat ditemui di halaman rumah duka. (pit/c1/dan)