Diburu, Penyuplai ”Urban” Drop-dropan

KOTA BATU – Selama bulan Ramadan ini Pemkot Batu cukup disibukkan dengan hadirnya sejumlah pengamen, pengemis, gelandangan, orang telantar (PGOT) dan anak jalanan. Hampir tiap hari, di setiap sudut selalu ada kaum ”urban” dari berbagai daerah tersebut. Mereka sudah dalam batas mengganggu pengunjung wisata. Karena itu, pihak pemkot sedang fokus mencari, siapa penyuplai ”urban” yang tiap hari di-drop dan tersebar di Kota Batu itu.

Dalam sepekan ini, sudah dua kali ada razia ketertiban umum. Yakni di hari Rabu (15/5) dan Sabtu (18/5). Tercatat 25 PGOT terjaring oleh tim dari dinas sosial (dinsos) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Razia pertama, tim merasa informasi operasi diduga bocor sehingga hanya menjaring lima orang saja. Berbeda di operasi yang kedua, total mendapat 20 PGOT termasuk anak jalanan.

Sayangnya, ibarat permainan catur, mereka hanyalah pion saja dan bukan pemain utama. Sebab, belakangan ini bila ada jaringan khusus yang mengirim mereka ke Kota Wisata Batu. ”Tapi kami belum ada informasi terkait waktunya, tidak menentu jam berapa dia ditaruh,” terang Kabid Pelayanan Rehabilitasi dan Perlindungan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu Sri Yunani.

Beberapa informasi yang didapat, untuk titiknya sudah ditandai oleh dinsos. Sementara waktu PGOT datang dan ditaruh masih belum ada. ”Ini yang masih menjadi pertanyaan, kami butuh peran masyarakat maupun organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya untuk saling bekerja sama,” ungkap Yunani. Menurut dia, jika ada informasi tersebut akan membantu pemkot dalam memberantas pengamen dan PGOT di Kota Batu. ”Sehingga wisatawan bisa merasa nyaman berada di Kota Batu,” tambahnya.

Sementara ini, hasil penangkapan tersebut diidentifikasi dan dikembalikan ke daerah asalnya. Dari 25 orang yang terjaring, enam di antaranya asal Kota Batu. Sisanya, dari luar Kota Batu bahkan hingga Bandung. ”Tapi tetap saja, setelah dikembalikan ada yang kembali lagi,” jelasnya. Sehingga perlu adanya perlakuan khusus agar menimbulkan efek jera. Di sisi lain, tidak adanya shelter penampungan di Kota Batu juga menjadi kendala tersendiri. Pasalnya, tidak ada kesempatan untuk memberikan assesment maupun pembinaan secara mendalam.



Begitu juga yang dirasakan oleh Satpol PP Kota Batu. Sulitnya mengendus penyuplai PGOT karena minimnya informasi. ”Sejauh kami melakukan pengembangan, kebanyakan dari mereka sifatnya mandiri,” terang Kasi Pengendalian Operasional (Dalops) Satpol PP Kota Batu Deny Ardian.

Maksudnya, mereka datang ke Kota Batu karena inisiatif sendiri tanpa dibantu oleh pengirim. Sedangkan dalam razia yang dilakukan sebelumnya tidak dalam kapasitas untuk mencari siapa di belakangnya. ”Sifatnya operasi penertiban, membantu penertiban maupun pendataan di tempat kejadian, dan diserahkan kepada dinsos,” jelas Deny.

Namun, dia tidak memungkiri jika adanya pengaduan akan dilakukan sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang berlaku. ”Nanti kita kroscek, pengamatan dan melakukan operasi,” ungkapnya.

Dengan catatan, prosedur tersebut dilakukan dalam satu hari. Sehingga tidak memerlukan waktu yang lama. ”Siang atau sore pengamatan, malamnya kami operasi,” sambungnya.

Terkait penyuplai ini, pihaknya merasa masih membutuhkan proses pengumpulan data. Salah satunya inspeksi mendadak (sidak) kepada orangnya yang diduga sebagai penyuplai. ”Yang berpotensi dituduh itu kan juga perlu pengembangan, tidak bisa dalam waktu yang singkat,” paparnya. Dalam upayanya satpol tidak diam diri, yakni ada penertiban secara rutin.

Sebelumnya, forum Sinergisitas Insan Pariwisata se-Malang Raya merasakan hal yang tidak menyenangkan dengan adanya pengamen dan PGOT ini. Terutama pengamen dan pengemis yang tiba-tiba masuk ke dalam bus pariwisata dan mengganggu kenyamanan para wisatawan.

Pewarta : Mochamad Sadheli
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib
Fotografer : Mochamad Sadheli