Dianggap Jadi Sarang Paham Radikalisme, Universitas Brawijaya Masuk Radar Badan Antiteror

MALANG KOTA – Universitas Brawijaya (UB) sedang dalam pantauan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ini menyusul data yang dimiliki BNPT jika di kampus negeri terbesar ini tumbuh subur paham radikalisme. Yakni, ideologi dengan misi ingin ada perubahan politik yang cenderung menggunakan cara-cara kekerasan. Ideologi ini juga menentang Pancasila dan pemerintahan yang sah. Dari data BNPT, radikalisme di UB ini banyak menyusup ke mahasiswa dari fakultas eksakta. Mulai fakultas kedokteran, fakultas MIPA, fakultas pertanian, dan teknik. Data itu disampaikan Direktur Pencegahan BNPT Hamli pada Jumat lalu (25/5) di Jakarta.

Dari data BNPT, ada enam kampus lain yang diduga kuat menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikalisme. Yaitu, Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).

Hamli memang tidak menyebut seberapa besar jumlah mahasiswa UB yang sudah terpengaruh doktrin radikal. Namun, dari hasil intelijen badan antiteror tersebut, paham radikalisme di UB tergolong subur.

Menyikapi data dari BNPT tersebut, pakar terorisme UB Yusli Effendi mengakui pola yang dipakai untuk menyusupkan paham radikalisme di UB melalui jalur kajian kerohanian. Rata-rata mereka yang terpapar radikalisme adalah mahasiswa urban atau mahasiswa yang berasal dari desa pindah ke kota.

”Tingkat berpikir kritis mahasiswa dari beberapa daerah ada yang kurang dan ada yang tinggi,” ungkap dosen di Jurusan Politik, Pemerintahan, dan Hubungan Internasional (PPHI) FISIP UB ini.

Yang dia amati selama ini, mahasiswa yang ikut paham radikal mayoritas tidak memiliki latar belakang agama yang kuat. Jadi, mental spiritualnya lemah.

”Berbeda dengan mahasiswa yang dulunya mondok, mereka sudah punya pakem yang tidak mudah ditembus,” tambah pria yang dikenal sebagai pengamat politik Timur Tengah ini.

Yusli menambahkan, menurut data risetnya, mahasiswa di fakultas eksakta cenderung mudah menerima paham radikal. Kebanyakan mahasiswa eksakta memiliki sifat umum yang tidak argumentatif, tidak cukup kritis melihat argumen yang bisa dikritisi.

”Karena yang mereka hadapi adalah benda mati, bukan seperti mahasiswa humaniora yang fokus pada sosial,” jelas Yusli.

Di UB sendiri, ada sembilan fakultas eksakta. Mulai dari kedokteran, teknik, perikanan, pertanian, peternakan, kedokteran gigi, informatika, MIPA, dan teknologi pertanian. Nah, peminat mahasiswa UB masuk di fakultas eksakta itu sangat tinggi.

Kondisi ini menjadi ladang subur bagi pihak yang ingin menyusupkan paham radikalisme.
Dia mengakui, di UB sudah dikepung banyak kelompok pengajian bersifat sporadis (menyebar) yang patut diduga menyebarkan paham radikal. Bentuknya berupa kelompok kecil dengan jumlah anggota minimal lima hingga puluhan orang.

”Pengajian sporadis memudahkan rekrutmen anggota dengan cepat dan tidak terlacak,” tambah Yusli.

Karena itu, untuk mengantisipasi radikalisme, dia mengusulkan ke rektorat untuk memperkuat pendidikan agama melalui jalur resmi mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di seluruh fakultas.

”Agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh radikalisme. Sebab, ketika mahasiswa memiliki pemikiran labil, disusupi materi keagamaan yang agak aneh, mereka cenderung menganggap itu benar,” tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan llmu Politik (FISIP) UB Prof Dr Unti Ludigdo menjelaskan, UB sendiri sudah memiliki kurikulum yang bermuatan Pancasila dan berbasis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Kami menjaga melalui pengajaran yang mendukung Pancasila. Ada mahasiswa yang anti-Pancasila, lebih baik jangan belajar di UB,” tegas Unti.

Unti menambahkan, memang ada indikasi mahasiswa berpaham radikal yang wira-wiri di kampus. Dia mengakui, susah mengontrol interaksi mahasiswa satu dengan yang lain.

”Kalau terbuka, dengan mengaku sebagai kaum radikal belum ada. Rata-rata bersembunyi,” ujar Unti.

Rektor terpilih UB Prof Dr Nuhfil Hanani ketika dikonfirmasi soal data BNPT itu hanya menjawab singkat. ”Saya menentang adanya radikalisme,” tegas Nuhfil.

Untuk memastikan apakah UB telah jadi ”sarang” paham radikalisme, Jawa Pos Radar Malang berhasil menemui salah satu mantan anggota paham radikal. Sebut saja namanya RPM, mahasiswa UB angkatan 2014. Dia menyebut, mahasiswa UB yang terjebak paham radikalisme mencapai ribuan orang. Tidak ratusan lagi.

”Ada kok kalau ribuan mahasiswa UB yang tergolong radikal,” kata RPM.

Dia berani menjamin jika penghitungannya tepat. RPM bukan satu-satunya mahasiswi yang jatuh ke dalam lembah radikalisme. Sembari mengingat, angkatan di fakultasnya ada kurang lebih 200 mahasiswa.

”Dan 10 persen dari 200 orang itu saya jamin radikal, 20 persen setengah radikal,” paparnya.

Saat ini RPM masih proses keluar dari kelompoknya. Dia merasa sudah tidak nyaman. Namun, teman-temannya terus mengejar. Ada yang meneror melalui telepon maupun mendatangi tempat tinggalnya. Dia mengaku ikut paham radikal berawal ketika ada temannya yang mengajak diskusi soal Islamic State Iraq and Syria (ISIS).

”Saya ini pingin tahu saja, dia ngajak diskusi di beberapa tempat,” ujarnya.

Awalnya di taman dekat rektorat, di kelas, lanjut ke diskusi di kos. Bahkan, dia juga dilatih merekrut mahasiswa baru melalui beberapa cara. ”Kami nyamar jadi pendamping mereka selama menjadi maba, nyariin kos, hingga minjemin buku,” ujar RPM.

Tak hanya itu, RPM juga sempat merekrut anggota dengan cara menjemput calon mahasiswa baru ke kampung halamannya. ”Kami terbagi dalam kelompok kecil sebesar 5–20 orang,” ujarnya.

Ada 90 orang lebih yang dia tahu dan dibagi dalam tiga kelompok kecil. Kelompok ini berafiliasi dengan salah satu jaringan yang menjadi otak pengeboman di Surabaya dua pekan lalu.

Selama bergabung dengan kelompok ini, dia dan anggota lain kerap dicekoki ajaran menantang Pancasila dan antidemokrasi. ”Demokrasi itu bagi kami ide sinting! Tidak sesuai ketentuan Allah,” ujarnya tegas.

Selama berkomunikasi dengan anggota lain, mereka menggunakan Telegram. Di kanal Telegram itu, RPM kerap dipertontonkan gerakan ISIS dan anti-Pancasila.

”Ada video yang memenggal kepala kaum kafir, itu sudah kami tonton berkali-kali,” ujar mahasiswi asli Blitar tersebut.

RPM merasa sempat ragu dan bilang kepada ustadahnya kalau dia tidak kuat melihat video seperti itu. ”Katanya harus kuat, kafir itu mencincang kaum muslim lebih parah dari itu,” jelasnya.

Terbakar ucapan ustadahnya, dia rajin memperbanyak anggota. Sebulan, prestasi perekrutannya besar. Ada lima mahasiswi yang berhasil dia rekrut. ”Via Instagram, saya menjaring ikhwan (anggota lelaki) tiga kali,” ucapnya bangga.

Selain memperbanyak anggota, di kanal media sosial, RPM diajak belajar berpedang, mengangkat senjata, dan melihat bahan perakitan bom dirancang.

Lain lagi dengan cerita MBA. Mahasiswa asli Ponorogo ini mendapat mandat tidak langsung dari pemimpin organisasi untuk membuat Indonesia melek khilafah.

”Tidak ada sistem rekrutmen anggota, kami hanya disuruh dakwah,” jelas mahasiswa angkatan 2012 ini.

Bagi dia, khilafah itu ajaran yang sudah sesuai kepentingan umat. Demokrasi dan Pancasila dinilai belum bisa membangun negara yang baik.

”Salah kalau organisasi kami mengarah pada jihadis. Kami hanya menjelaskan pemikiran kami saja,” ujar pria yang dikenal aktif di organisasi kampus ini.

Meskipun menolak disebut radikal tingkat ekstrem, dia mengakui organisasinya memang berindikasi radikal.

Cara pendakwahannya juga mudah. Dia hanya tinggal duduk di ruang terbuka seperti perpustakaan maupun di dalam aula fakultasnya. Ketika ada mahasiswa baru, dia ajak kenalan lalu berdiskusi.

”Setelah itu, saya ajak salat. Setelah salat, lanjut ngobrol soal Pancasila. Kami lihat reaksinya,” ujarnya.

MBA mengakui sempat setuju dengan pembentukan negara Islam. Jadi, dia aktif di kelompoknya ini. Namun, dalam satu waktu, dia ada perselisihan dengan ketua kelompoknya sehingga kini dia keluar.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy editor: Dwi Lindawati
Grafis: Andhi Wira