Diajak Khusus Bupati Tampil di Bali, Diundang Kick Andy

Semangat hidup Nur Slamet ini cukup jempolan. Kelemahan fisik yang dialami Nur sejak lahir (maaf) tidak memiliki kedua kaki, tak membuatnya putus asa. Dia justru punya kemampuan di bidang seni tradisional. Selain mahir sebagai penabuh gendang, dia juga perajin alat jaranan.

IMRON HAQIQI

Nur Slamet tampak begitu telaten menganyam bambu yang hendak dibuat kerajinan jaranan ketika wartawan koran ini datang di kediamannya, Desa Jabung, Kecamatan Jabung, Sabtu (16/11), sekitar pukul 13.00.

Meski kala itu terik matahari menyengat serta cuaca gerah, tapi hal itu tampak tidak mengganggu pekerjaannya sama sekali. ”Supaya cepat selesai, Mas. Agar bisa segera diantarkan ke pemesannya,” ujarnya sembari mempersilakan wartawan koran ini masuk ke dalam rumahnya.

Meski tidak memiliki kedua kaki, tapi Nur tampak lincah dalam melakukan banyak hal. Seperti berjalan maupun ketika menaiki kursi. Ya, dia juga mengaku kekurangan itu sama sekali tidak menyulitkannya dalam melakukan banyak hal. ”Hanya, kalau mengendarai motor tidak bisa karena kesulitan kalau mau mendorong,” tuturnya.

Saat itu, kata pria berusia 34 tahun ini, dia sedang menggarap jaranan pesanan dari warga Blitar. ”Mereka tahu kalau saya membuat kerajinan ini dari media sosial Facebook. Saya kan sering posting hasil kerajinan buatan saya ke grup jaranan di Facebook, akhirnya beberapa orang yang juga bergabung di sana tertarik,” jelasnya.

Harga yang dipatok dari satu jaranan itu pun bervariasi, mulai dari yang paling murah Rp 50 ribu hingga yang paling mahal Rp 250 ribu. Harga itu bergantung tingkat kesulitan dalam membuat serta tingkat kualitasnya. ”Bergantung permintaan konsumennya bagaimana,” sambungnya.

Dia menjamin hasil karyanya itu bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Selain kemampuannya membuat kerajinan jaranan, dia juga mempunyai kepandaian dalam memainkan gendang jaranan. Dari kelihaiannya itu tidak jarang dirinya diundang tampil di berbagai daerah di Malang Raya jika ada pagelaran seni jaranan maupun bantengan.

Bahkan, pada 2010 lalu dia didapuk sebagai penabuh gendang kesenian bantengan yang ditampilkan di Denpasar, Bali. Sebagai penabuh gendang dalam event itu, dia diundang langsung oleh bupati Malang waktu itu, Sujud Pribadi. ”Ya, waktu itu Pak Sujud sendiri yang datang ke sini (rumahnya) dan menyuruh saya berangkat ke Bali,” terangnya.

Dua keahlian tersebut dipelajari oleh anak dari pasangan Ngasran dan Paisri itu secara otodidak. Dia tidak pernah belajar secara khusus kepada orang lain.

Bagi dia, kesenian jaranan secara umum sudah mendarah daging sejak dia kecil. ”Memang dari kecil dasarnya saya sudah menyukai kesenian jaranan dan bantengan,” terang pria yang masih single itu. Lantas, seiring berjalannya waktu, pihaknya terus menekuni kedua kemampuannya itu.

Bahkan, atas dasar kecintaannya kepada kesenian jaranan dan bantengan, beberapa tahun silam dia juga pernah menginisiasi komunitas bantengan bersama kakaknya, Kabul. Menurut dia, komunitas yang dirinya bangun itu sudah sering diundang ke berbagai daerah di Malang Raya. ”Namun, hanya bertahan beberapa tahun saja, habis itu tidak aktif lagi,” imbuhnya.

Karena kondisi fisik kurang sempurna tapi memiliki keahlian, beberapa waktu lalu salah stasiun televisi nasional pernah meliput aktivitasnya. Terutama soal membuat alat kesenian jaranan dan keahlian menabuh gendang.

Dari liputan itu, salah satu program Metro TV, Kick Andy juga pernah mengundangnya. Hanya, waktu itu dia tidak berkenan hadir. Lantaran waktunya bersamaan dengan beberapa agenda di luar kota yang juga tidak bisa dia tinggalkan. ”Waktu itu kebetulan saya sedang ada urusan di luar kota, jadi gak bisa datang,” tukas pria yang akrab disapa Nur Kutung ini.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib