Diaborsi Masih Selamat, lalu Dibunuh

MALANG KOTA – Apa jadinya jika kehamilan sudah berusia enam bulan lantas digugurkan? Bayi itu terlahir sehat. Namun, beberapa saat kemudian dia meninggal setelah mulut mungilnya itu dibekap oleh ibu kandungnya.

Si ibu itu berinisial ASF, 20, mahasiswi di salah satu perguruan tinggi (PT) di Kota Malang. Mahasiswi asal Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, yang kos di kawasan Blimbing itu nekat membunuh buah hatinya karena tidak ingin aib hasil hubungan gelap dengan kekasihnya diketahui orang lain. Kemarin (14/10) ASF dikeler aparat Polres Malang Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Peristiwa itu berawal Oktober 2018 lalu. Kala itu, ASF curhat kepada BHN, teman sekampusnya, bahwa dia telat dua bulan. Oleh BHN, ASF disarankan untuk membeli obat penggugur kandungan kepada TDAS.

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, BHN juga pernah mengonsumsi obat tersebut. Diduga, sebelumnya BHN pernah membeli obat serupa kepada TDAS sehingga mereka sudah saling mengenal.

Setelah transaksi, ASF mendapat dua butir pil dari TDAS dengan harga Rp 100 ribu per butir. Setelah dikonsumsi, obat tersebut tidak memberi efek apa pun terhadap kandungannya. Makin hari, perutnya makin membuncit.

 

 

 

 

 

 

 

Awal Maret lalu, ketika usia kehamilannya mencapai enam bulan, ASF kembali curhat kepada BHN. Dia resah karena tidak ingin melahirkan jabang bayi, sementara tidak bersuami.

ASF disarankan untuk membeli obat lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Akhirnya pada 4 Maret lalu, ASF membeli lima butir pil kepada TDAS. Agar hasilnya manjur, TDAS menyarankan agar dua pil diminum lebih dulu. Sedangkan sisanya tiga butir dimasukkan ke dalam (maaf) alat vital ASF.

Dua hari kemudian, tepatnya 6 Maret lalu, ASF melahirkan. Namun, yang membuat dia heran, janin yang dua kali digugurkan sejak dalam kandungan itu terlahir hidup. ”Tepat pukul 06.30 lahir di dalam kosnya, ASF memotong sendiri tali ari-ari janinnya menggunakan gunting,” terang Kapolres Kota Malang AKBP Dony Alexander kemarin.

Seketika itu ASF bingung. Dalam kondisi itu dia menelepon BHN untuk meminta saran. Oleh BHN, ASF disarankan membunuh bayi yang baru dilahirkan itu. Kemudian ASF mengambil handuk berwarna merah di dekatnya, lalu membekap mulut bayi itu hingga meninggal dunia.

Setelah memastikan bayi tidak berdosa itu meninggal, ASF kembali menghubungi BHN. Pada hari itu juga, BHN datang bersama kekasihnya membawa jasad janin tersebut ke lapangan Pacuan Kuda, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, kemudian menguburkannya. Kini kekasih BHN itu diperiksa oleh aparat kepolisian. ”Sejauh ini kekasih BHN statusnya masih tersangka,” terang Dony.

Aksi tak bermoral itu baru terbongkar pada awal Oktober lalu. Mulanya, Polres Malang Kota menerima informasi dari masyarakat bahwa TDAS kerap transaksi obat penggugur kandungan. Polisi kemudian melakukan pengintaian. Sehari kemudian, tepatnya pada 2 Oktober, TDAS dibekuk ketika transaksi dengan salah satu konsumennya.

Berdasarkan pengakuannya ketika diperiksa, TDAS yang kesehariannya menjadi karyawan swasta tersebut sudah memasok obat aborsi sejak 2018 lalu. Dalam kurun waktu setahun belakangan ini, TDAS sudah beberapa kali melayani perempuan single yang menggugurkan kandungan. ”Sudah (melakukan) 10 kali transaksi penjualan,” kata TDAS ketika diperiksa polisi kemarin.

Pria berusia 22 tahun itu mengaku menjual obatnya aborsi itu dengan harga Rp 100 ribu per butir. Sementara dia mendapat dari pemasok dengan harga Rp 50 ribu per butir. Dengan demikian, setiap butir dia mengais keuntungan Rp 50 ribu.

Dari keterangan TDAS ini, kemudian polisi mengembangkannya. Di antara yang pernah membeli obat aborsi dari TDAS adalah ASF dan BHN.

Lantas dari mana TDAS mendapat obat aborsi itu? Selama ini, TDAS dipasok oleh II, 32, pegawai apotek di kawasan Pasar Besar Malang (PBM). II mendapatkan pil terlarang itu dari TS, distributor asal Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis. Sedangkan distributor tersebut dipasok dari Kepanjen, Kabupaten Malang.

Mereka adalah sindikat yang beroperasi di Malang. Kini mereka sudah dibekuk aparat Polres Malang Kota. ”Obat ini diedarkan di apotek luas, salahnya itu mereka jualnya tanpa resep. Karena obat ini dibeli harus dengan resep dokter,” papar Dony.

Tersangka ini akan dijerat dengan Pasal 77 A Ayat 1 UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Junto Pasal 56 KUHP. Karena itu, mereka terancam hukuman pidana selama 10 tahun.

”Untuk tersangka TDAS ini masih terus kami dalami, karena yang bersangkutan statusnya bukan dokter ataupun apoteker,” tandas polisi berpangkat dua melati emas itu.

Sementara itu, wartawan koran ini berusaha menelusuri keseharian ASF ketika di kos-kosan. Berdasarkan informasi aparat kepolisian, ASF kos di kawasan Blimbing. Tapi, ketika ditelusuri, tidak ada. Demikian juga ketika informasi berkembang bahwa kosnya di Jalan Jakarta, juga tidak ada warga sekitar yang mengenalnya.

Pewarta : nr1
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan