Di Wilis, Buku-Buku Berat Kian Diminati

MALANG KOTA – Buku murah di Toko Buku Wilis rupanya tidak hanya ramai saat ajaran baru tiba. Sejumlah buku fiksi juga laris manis di tempat ini. Saat film Dilan dirilis, toko buku ini menjadi jujukan para pembeli buku Dilan.

Bahkan, hingga saat ini buku itu masih paling laris dibanding buku fiksi lainnya. Meskipun buku-buku bergenre berat seperti buku karya Franz Kafka, Geroge Owell, F.Nietzsche juga banyak diburu pembaca.

Sejak kemarin pagi (27/4), banyak mahasiswa yang asyik numpang membaca dan menawar buku-buku yang dikenal sangat dalam dan rumit untuk dibaca. Misalnya, di lapak milik S.M. Barok, slaah satu pedagang, lumayan dilirik para pembaca untuk mencari buku-buku bergenre tersebut dengan harga yang murah.

Untuk buku Dilan, saban hari di toko buku ini ludes 5–10 buku. ”Buku-buku penulis asing itu penjualannya hampir mendekati buku Dilan,” katanya.

Kalau harga, di berbagai lapak hampir sama. Untuk buku karangan Franz Kafka dibanderol mulai dari Rp 65 ribu–Rp 89 ribu. Untuk buku bekasnya, sekitar Rp 50 ribu.



Cukup mahal dibanding buku filsafat yang juga naik daun. Kalau karya Geroge Owell, ada sekitar Rp 45 ribu–Rp 60 ribu dan karya F.Nietzsche dibanderol Rp 65 ribu–Rp 80 ribu.

Sayangnya, ketersediaan buku bekas yang makin langka akhirnya membuat beberapa penerbit yang jeli kembali menerbitkan karya-karya penulis abad ke-20. Pak Zan, salah satu pedagang buku, juga melihat minat pembaca saat ini lebih banyak yang berbobot ”serius”.

”Daya literasinya tinggi sepertinya, jadi bosan dicekoki karya fiksi yang biasa-biasa saja,” imbuhnya.

Misalnya, dia pernah meletakkan satu buku My Name is Red (namaku adalah si merah) oleh Umberto Eco, penulis dan filsuf Italia, di rak dagangannya. Salah satu pembeli datang dan besoknya, ada banyak orang yang tiba-tiba mencari buku yang awalnya saja dia tidak tahu itu buku yang sangat populer.

”Dari pembaca itu, saya makin tahu buku berat itu judulnya apa saja,” ujarnya.

Demi pelanggannya, dia sempat kesulitan mencari stok buku. Sampai ada yang sengaja menitipkan nomor HP. ”Ya, sekarang diterbitkan lagi, kadang-kadang ada yang jual kemari atau dapat stok murah dijual lagi,” ujarnya.

Berapa banyak, dia bilang tidak sebanyak Kafka maupun Owell. Rata-rata 3 buku untuk Umberto Eco. Sementara penulis lain, karya Camus maupun F.Nietzsche, per bulan bisa terjual antara 5 atau sebulan bisa 12 kali penjualan.

”Kadang rebutan stok buku,” imbuhnya.

Salah satu pengunjung, Ratih Pandu sempat memborong tiga buku. Selain animal farm, dia memborong karya Jean Paul Sartre dan satu buku tentang mitologi. Ditanya mengapa dia memborong buku-buku tersebut, Ratih mengakui dia sempat mengira buku dari penulis abad ke-20 itu susah dicerna atau susah dipahami.

”Memang bahasanya tidak seperti cinta-cintaan, tapi masih dalam taraf mudah dipahami,” ujarnya.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto