Di Tahun 2018 Nasib Arema Yo Opo Ker?

MALANG KOTATerpuruknya prestasi Arema FC di Liga 1 tahun 2017 ini tak hanya memantik keprihatinan suporternya. Presiden Kehormatan Arema FC Rendra Kresna pun ikut prihatin.

Karena dengan nama besarnya, Arema FC rasanya kurang pantas jika berada di posisi sembilan dengan 49 poin. Padahal, dari sisi materi pemain, kualitasnya bisa dibilang setara dengan tim-tim papan atas lain. Namun entah mengapa, prestasi Arema yang bagus di awal kompetisi, langsung melorot di pertengahan hingga akhir kompetisi.

Nah, tak mau berlarut dalam kesedihan, Rendra Kresna menggagas untuk mengumpulkan semua pihak yang merasa peduli dengan masa depan Arema. Tujuannya, mencari solusi bagaimana agar di musim 2018 mendatang, tim berjuluk Singo Edan ini kembali menjadi tim elite tanah air. Bahkan, kalau perlu merebut juara. ”Banyak hal yang harus kami bicarakan dengan jajaran direksi atau manajemen Arema, Aremania, maupun tokoh-tokoh sepak bola,” ungkap Rendra kemarin (17/11).

Rendra menambahkan, untuk ukuran prestasi, sebenarnya tidak terlalu mengecewakan amat. Sebagai tim profesional, Arema FC tidak bisa ditarget untuk selalu berada di atas. ”Bahkan, Arema itu pernah terdegradasi,” imbuhnya.

Bahkan, bila dibandingkan dengan Indonesia Super League (ISL) musim 2011/2012, apa yang dicapai Arema FC di Liga 1 masih lebih baik. Kala itu, Arema finis di posisi 13 dan mengumpulkan 38 poin. Namun, ketika jebloknya prestasi juga diiringi dengan makin rendahnya animo suporter, hal itu mengundang pertanyaan besar. ”Saya lihat Arema pernah hanya didukung 3.000 penonton, pasti ada sesuatu,” kata pria yang juga menjabat sebagai bupati Malang ini.

Beragam persoalan yang sedang melanda Arema menjadi bahan pembahasan dan dicarikan solusi dalam pertemuan dalam waktu dekat nanti. Karena apa pun, Arema ini sudah bukan lagi milik para pengurus, tapi milik warga Malang Raya. Bahkan, warga di luar Malang pun banyak yang merasa juga memiliki Arema.

Atas rencana dialog bareng ini, sejumlah Aremania mendukungnya.  Sebab, persoalan tersebut mau tidak mau harus dipecahkan semua stakeholder yang mempunyai kepedulian kepada tim ini. Jangan sampai, pada musim 2018, Arema FC kembali babak belur. ”Ini jeda kompetisi, ini momentum untuk membenahi Arema FC,” kata Achmad Ghozali, humas Aremania, kemarin.

Untuk membenahi Arema FC, menurut dia, harus ada langkah taktis yang dilakukan manajemen. Semisal, mengumpulkan berbagai stakeholder sepak bola. ”Seperti dari unsur manajemen, suporter, pengamat sepak bola, sponsor, dan media, semuanya harus berembuk membahas nasib Arema FC,” imbuh pria yang juga Aremania Korwil Klayatan ini.

Sedangkan dari sisi teknis, menurut Ghozali, saat ini Arema FC butuh pemain yang layak jual. ”Pemain Arema itu-itu saja,” katanya. Tak hanya itu, untuk pelatih juga harus dirombak. ”Harus ada pelatih yang berwibawa dan juga memiliki daya pikat, baik kepada suporter, sponsor, dan media,” imbuhnya.

Pelatih yang mempunyai ciri khas tersebut, menurut dia, biasanya dimiliki sosok pelatih asing. ”Kalau pelatih asingnya siapa, saya kira manajemen lebih tahu,” kata ayah dua anak ini.

Senada dengan Ghozali, Hari Pandiono, salah satu Aremania, menyatakan, dari berbagai obrolannya dengan beberapa Aremania yang lain, menurut dia, ada banyak hal yang perlu diperbaiki jika ingin Arema berprestasi. ”Dari segi permainan harus khas Malangan, yakni lugas, keras, ngeyel, dan mainnya berpola,” kata pria yang bekerja sebagai konsultan cost manajemen di perusahaan tambang yang ada di Kanada, dan Afrika Tengah ini saat dihubungi kemarin. ”Pemain asing juga harus satu karakter, kira-kira seperti saat Arema juara,” imbuhnya.

Menurut dia, saat ini Arema FC kurang mempunyai pemain yang haus gol. Pemain yang haus gol itu harus berada di atas rata-rata pemain di Indonesia, bahkan di Asia. ”Dulu ada Along (eks pemain timnas Singapura Noh Alam Shah), cukup bagus, untuk pemain tengah perlu pemain sekelas Gustavo Lopes, di belakang harus punya penjaga gawang tangguh, minimal selevel Andritany Ardhiyasa (penjaga gawang Persija Jakarta),” imbuhnya.

Perihal pelatih, Hari berpendapat, kalau pelatih Arema FC harus berpengalaman. Menurut dia, Arema FC tim besar dan harus mempunyai pelatih yang bermental juara. ”Semisal mengambil mantan pelatihnya Shandyong, juara ACL, maupun mantan pelatih Sydney Wonder yang sekelas Marcello Lippi, bisa juga sekelas Robert Rene Alberts (pelatih PSM), atau di atasnya,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Arema FC juara Liga Indonesia pada 2009–2010 karena ditangani pelatih asing, yakni Robert Rene Alberts.

Sedangkan untuk minimnya jumlah suporter, menurut Hari, manajemen perlu membuat sistem agar Aremania benar-benar nyaman saat menonton di stadion. ”Seperti saat bertanding, harus menghilangkan nyanyian yang berbau rasis dan kebencian,” katanya. ”Sebab, banyak Aremania yang diintimidasi kelompok suporter lain karena hal tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Ade Herawanto, tokoh Aremania lain, menambahkan, untuk mengurai permasalahan di Arema FC, banyak pihak memang harus duduk bareng. Mulai dari manajemen, tokoh sepak bola, Aremania, media, dan sponsor. ”Mungkin dari berkumpul itu akan menemukan solusi,” kata pria yang akrab disapa Ade d’Kross ini.

Salah satu persoalan yang perlu dipecahkan, menurut Ade, adalah minimnya jumlah suporter. ”Saya benar-benar sedih, kalau Arema main, tapi suporter sedikit banget,” kata pria yang juga kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) ini. (riq/c2/abm)