Di Medaeng, Anton Rutin Salat Awal Waktu dan Jadi Penceramah

”Tadi pagi (kemarin) keluarga menemui saya sebelum sidang, mereka selalu men-support saya. Makasih juga buat relawan yang selalu kasih semangat.” - Moch. Anton, Wali Kota Malang Nonaktif.

Moch. Anton, Wali Kota Malang Nonaktif

Wali Kota Malang nonaktif Moch. Anton menganggap kalau episode hidupnya saat ini adalah bagian dari skenario Tuhan. Karena itu, pria berlatar belakang pengusaha ini terlihat tegar meski harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam sidang kedua di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya kemarin (22/6), wartawan Jawa Pos Radar Malang sempat ngobrol dengan politikus PKB ini. Meski suasana di pengadilan riuh, tapi Anton masih mau melayani wawancara. Suasana riuh mulai terasa saat Anton turun dari mobil yang membawanya, yakni mobil Nissan Evalia berwarna hitam dengan nomor polisi L 1547 VP.

Begitu keluar dari mobil, puluhan simpatisan yang menunggu sejak pagi, menyambut Anton dengan gegap gempita.

”Minal aidin wal faizin, Abah. Yang penting Asik (slogan paslon Moch. Anton-Syamsul Mahmud di pilwali, Red),” kata beberapa simpatisan secara bergantian.

Anton tak banyak bicara saat dikerumuni puluhan simpatisan. Dia hanya terus tersenyum simpul. Dia juga secara bergantian melayani permintaan foto bersama simpatisan.



Beberapa menit kemudian, petugas KPK meminta Anton menuju ruang transit. Ruang ini semacam tahanan mini yang diperuntukkan bagi para terdakwa ketika menunggu persidangan.

Di balik jeruji besi itulah, dia berbagi kisah dengan wartawan koran ini. Dia bercerita, khususnya saat menjalani proses hukum di Rutan Medaeng, Surabaya. Alumnus ITN Malang ini mengaku mendapat banyak hikmah atas ”ujian” itu.

Salah satunya adalah Anton mengaku bisa lebih tepat waktu dalam menjalankan salat lima waktu. Karena di lapas tersebut, bagi yang muslim, salatnya diminta awal waktu.

”Saya bisa salat lima waktu di awal waktu selama di sana (Rutan Medaeng),” ucap pria yang juga berlatar belakang pengusaha tetes tebu ini.

Tak hanya itu, Anton juga bisa istiqamah dalam membaca Alquran. Dia rutin membaca kitab pedoman umat Islam tersebut usai salat Asar dan Magrib. Bahkan, Anton juga pernah beberapa kali diminta memberi kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Rutan Medaeng, Surabaya. Hal ini dilakukan saat bulan Ramadan beberapa waktu lalu.

”Ya, diminta ceramah di depan teman-teman. Temanya seputar Ramadan,” ungkapnya.

Hanya, Anton tersenyum saat disinggung badannya lebih tampak segar. Beberapa menit kemudian, dia memberikan rahasianya. ”Semua dijalani dengan ikhlas,” terang pria yang akrab disapa Abah Anton ini.

Selain itu, untuk menjaga kebugarannya, dia rutin berolahraga selama di tahanan. Olahraga yang menjadi favoritnya adalah bulu tangkis dan tenis meja. ”Olahraga. Tenis meja, badminton,” imbuhnya.

Lalu, Anton tampak sedikit menarik napas, tepatnya saat ditanya, apakah ada keluarga yang mendampingi saat sidang kemarin. Karena berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Malang, tidak ada anggota keluarganya di area Pengadilan Tipikor.

”Tadi pagi (kemarin) keluarga menemui (sebelum sidang), mereka selalu men-support saya. Makasih juga buat relawan yang selalu kasih semangat,” imbuhnya.

Anton juga berharap agar warga Kota Malang tetap kompak dalam membangun kotanya. Terutama dalam menghadapi pesta demokrasi 27 Juni mendatang. ”Warga Malang harus tetap kompak,” harapnya.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Falahi Mubarok