Di Kampus UMM, Kementerian PPA Gagas Aturan Soal Gadget untuk Anak

MALANG KOTA – Mabuk gawai dan gadget yang dialami anak-anak menjadi keprihatinan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yembise. Keprihatinan itu dia sampaikan di sela menjadi pembicara pada acara Muktamar ke-XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

”Saya menteri yang menghadapi kasus paling banyak. Terutama pernikahan dini dan gawai (gadget) pada anak,” ucapnya usai memberikan materi mengenai perempuan dalam dunia legislatif, kemarin.

Dalam waktu dekat, Kementerian PPPA bersama dengan Kementerian Kominfo, Kemenag, dan Kemendikbud akan membahas solusi masalah gadget pada anak. ”Dicari solusinya bersama untuk mencegah penggunaan HP yang berlebihan pada anak,” imbuh perempuan asal Papua Barat ini.

Kemungkinan, Yohana melanjutkan, akan ada aturan dan program bersama yang wajib direalisasikan dalam waktu dekat. ”Tetapi masih kami buatkan rumus yang pas, agar bisa diterapkan secara merata di seluruh daerah,” tukas perempuan yang akrab disapa Mama Yo ini.

Aturan ini diterapkan bukan tanpa alasan. Selama dirinya menjabat, kasus yang diakibatkan oleh gadget, paling banyak ditemui di kalangan pelajar SD. Akibatnya, mereka rentan menjadi korban kejahatan di internet. Misalnya saja cyberbullying. Selain itu, terlalu kerap menggunakan gawai, membuat daya nalar anak menjadi rendah. Ini karena mereka sudah tidak lagi berpikir kritis dan analitis.

Yohana tidak begitu menyukai pekerjaan rumah (PR) atau materi dalam yang terlalu bersumber pada internet. ”Awalnya kan dari situ. Lama-lama kok enak, akhirnya menjadi kebiasaan,” tukas Yohana.

Perempuan kelahiran Manokwari, Papua Barat, ini meminta guru, baik tingkat SD maupun SMA kembali menggalakkan budaya baca buku. ”Saya jadi profesor ini juga karena baca banyak buku,” kata perempuan yang sudah 30 tahun menjadi dosen di Universitas Cenderawasih ini.

Pewarta: Sandra Desi Caesaria
Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq