Di Jazz Gunung Bromo, Djaduk Ferianto “Acak-acak” Tembang Didi Kempot

Djaduk Febrianto saat tampil bersama Ring Of Fire, Sabtu malam (19/8).

PROBOLINGGO – Seniman Djaduk Ferianto dikabarkan meninggal dunia pagi ini (13/11) karena serangan jantung. Pria kelahiran 1964 itu semasa hidupnya ‘hobi’ mengarransement ulang berbagai genre musik menjadi bernuansa jazz etnik, salah satunya lagu Didi Kempot.

Dalam acara Jazz Gunung Bromo, Sabtu (27/7) lalu misalnya, Pentolan Ring of Fire Project ini sukses mencuri perhatian penonton. Ia mengolaborasikan lagu campur sari dari Lord Didi dengan musik hip hop, jazz, sampai jaran kepangan.

Lagu pertama yang saat itu diaransemen adalah ‘Stasiun Balapan’. Lagu ini bersama Djaduk Ferianto dan Ring of Fire Project diubah dari nuansa campur sari menjadi jazz. Iringan saxophone sangat ketara, namun tak meinggalkan tabuhan ketipung.

Di lagu kedua waktu itu Lord Didi serta Djaduk Ferianto dan Ring of Fire Project memberi kejutan. Lord Didi menyanyikan lagu ‘Kangen Kowe’ dengan seorang rapper. Meski intonasi rapper yang cepat, namun Djaduk sukses menjodohkannya dengan irama saxophone yang lembut.

Lalu di lagu ketiga, tak kalah hebohnya, Djaduk Ferianto dan Ring of Fire Project melatari lagu ‘Banyu Langit’ dengan musik ala jaran kepang. Djaduk saat itu memilih meniupkan alat musim mirip terompet yang mengeluarkan suara khas jaran kepangan. Usai improvisasi musik jaran kepangan itu perlahan musik jaran kepang menghilang diganti nada musik khas jazz.

“Enak yo? Enak lah? Seng nyanyi seng menggeh-menggeh. Saya cuma 1 kali latihan dengan mas Djaduk, ya saya belajar,” ujar Didi Kempot saat akan memulai performnya kala itu.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: dok JPRM
Penyunting: Fia