Di Darul Hadits, Tiap Malam Santri Berzikir Ribuan Kali

Para santri dan jamaah Ponpes Darul Hadits menggelar pengajian rutin.

Riyadhoh (gemblengan batin dan spiritual) di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah, Jalan Aris Munandar, Kota Malang, ini relatif cukup berat. Sebab, semua santri harus menjalankan beragam ritual setiap malam.

Sekitar 20 santri sedang khusyuk berzikir di masjid dalam pondok pesantren pimpinan Al-Habib Muhammad bil Faqih tersebut kemarin sore (17/6). Mereka sedang melantunkan nadhoman (bait-bait) berbahasa Arab pada kitab yang mereka pegang. Bait-bait yang dimaksud itu adalah bacaan zikir yang di kalangan pesantren biasa disebut dengan raatib. Yakni rangkaian susunan berbagai jenis zikir mulai tahlil, tahmid, dan tasbih. Juga ada ayat kursi dan sejumlah bacaan lain.

Ada empat jenis raatib yang menjadi bacaan rutin di pesantren ini. Ada raatib al-haddad, raatib al-attos, raatib al-faqih, dan raatib al-idrus. Setiap hari, para santri membaca satu di antara empat jenis raatib ini. Butuh ribuan kali untuk melafalkan zikir setiap malam.

Salah satu guru Ponpes Darul Hadits, Ahmad Fahsin, menjelaskan, ritual pembacaan raatib memang dilakukan setiap malam. Namun, setiap malam raatib yang dibaca itu berbeda-beda.

”Kalau malam ini (kemarin) yang dibaca raatib al-idrus, besok ya (hari ini) al-haddad. Bergantian setiap malamnya,” terang dia.



Pembacaan raatib tersebut biasanya dilakukan secara berjamaah dan membacanya secara jelas dan terang (jahr). Tidak dianjurkan membaca di dalam hati. Sebagaimana diriwayatkan Baihaqi, dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda; Jika kalian melewati taman-taman surga, maka nikmatilah. Mereka bertanya, wahai Rasulullah, apa taman-taman surga? Rasulullah menjawab, halaqu dzikir (yaitu sekelompok orang yang duduk melingkar).

Pembacaan raatib setiap setelah Magrib, kata Fahsin, dilakukan dengan jahriyah atau pembacaan dengan suara jelas dan terang (tidak membaca dalam hati). Kenapa? Sebab, berzikir jahriyah lebih utama. Pasalnya, dapat menggoreskan kesan yang lebih kuat pada masing-masing hati yang berzikir dan juga yang mendengarkan.

Raatib tersebut dibaca sehabis salat Magrib hingga beberapa jam. Setelah raatib, kemudian dilanjutkan dengan membaca maulid (puji-pujian atas lahirnya Nabi Muhammad).

”Nah mauled-nya juga bergantian,” imbuhnya. Ada tiga maulid yang dibaca setelah raatib. Yaitu simtud duror, dibai’ie yang dibaca setiap Kamis malam, dan salawat burdah yang dibaca setiap Minggu malam.

Tidak hanya itu, setelah dilakukan dua ritual tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil. Bahkan, salat Isya pun dimundurkan jadwalnya untuk menyelesaikan raatib tersebut. ”Salat Isya di sini awakhir (di waktu akhir atau tengah malam),” tuturnya.

Gemblengan terhadap sekitar 580 santri tak hanya cukup di situ. Selain harus menjalankan ribuan kali zikir, setiap Jumat pagi mereka juga diharuskan menggelar tahlil di makam pendirinya, Habib Abdul Qodir bil Faqih, di Pemakanan Umum Kasin.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka