Di Blora, Ganjar Sambangi Penjual Mi Ayam Pendiri Sekolah Difabel

Di Blora, Ganjar Sambangi Penjual Mi Ayam Pendiri Sekolah Difabel

Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat bertamu ke kediaman Suharyanto di Blora.
(dok. Tim Media Ganjar-Yasin)

RADAR MALANG ONLINE – Dua bulan jelang masa coblosan Pilgub Jateng 2018, salah satu kandidat cagub Ganjar Pranowo untuk kesekian kalinya menyambangi Kabupaten Blora. Pada kunjungannya kali ini, sang petahana memetik pengalaman luar biasa dari suami istri penjual mie ayam.

Adalah Suharyanto, 34, dan Sutiah ,36, pasangan penjual mie ayam sekaligus es bertempat di RT 5 RW 2 Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Mereka bukan pedagang minuman dan makanan biasa, lantaran dengan segala daya dan upaya yang ada, keduanya mampu mendirikan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Dikisahkan Suharyanto saat Ganjar bertamu ke kediamannya, ia dan istri telah tiga bulan belakangan memanfaatkan ruang tamunya di rumahnya untuk tempat belajar sekitar 24 anak difabel. Sekolah ini hanya punya satu guru pengajar. Waktu belajarnya yakni Sabtu pukul 11.00-13.00 WIBdan Minggu pukul 08.00-12.00 WIB.

“Belum ada tempat yang layak, rumah ini pun milik kakak saya, saya numpang tinggal di sini,” ujar Suharyanto kepada Ganjar, Selasa (24/4).

Suharyanto bercerita bahwa dirinya tergerak memfasilitasi pendidikan difabel karena puteranya juga terlahir sebagai penyandang kebutuhan khusus. Rizky Pratama Putra yang kini berusia 8 tahun terlahir autis. Dari kesulitan mendapatkan pendidikan difabel, pria yang akrab disapa Antok ini akhirnya membuat sekolah sendiri. 

“Di Blora selatan ini tidak ada sekolah luar biasa atau SLB, makanya anak difabel kesulitan belajar, baru yang ada dititipkan di sekolah inklusi tapi jumlahnya tidak bisa menampung banyak,” katanya. 

Dalam penyelenggaraan sekolah yang belum bernama ini, Suharyanto merogoh kantong pribadinya. Anak-anak yang belajar di tempatnya tidak ditarik iuran alias gratis. Ia juga merasa bersyukur kala ada guru pendamping difabel yang mau mewakafkan waktunya untuk datang dua kali sepekan. 

“Guru ini cuma kami kasih uang transport Rp 10 ribu per pertemuan, seharusnya memang butuh guru tambahan tapi belum ada,” katanya lagi.

Kepada Ganjar, Suharyanto berujar hanya ingin menitip harap agar ke depan dibangun SLB di Randublatung. Ia tidak minta sekolah miliknya dibangun atau bantuan apapun. “Harapan kami anak-anak kebutuhan khusus dapat pendidikan baik inklusi maupun SLB (Sekolah Luar Biasa) dengan fasilitas yang baik,” harapnya. 

Mendengar hal itu, Ganjar mengungkapkan, SLB saat ini menjadi kewenangan provinsi. Ia akan menyampaikan pada dinas pendidikan agar dilakukan pengkajian pendirian SLB di Blora bagian selatan. “Jika hasil kajiannya memang dibutuhkan akan dibuat, jika tidak maka bisa memaksimalkan sekolah negeri untuk jadi inklusi,” katanya. 

Sementara menunggu itu, ia meminta Suharyanto mengajukan usulan bantuan sarana belajar mengajar untuk difabel. “Yang pasti niat tulus Pak Antok harus didukung warga sekitar, ada banyak cara untuk mendapat bantuan selain pemerintah bisa dari perusahaan lewat CSR atau crowd funding,” jelasnya. 


(gul/JPC)