Di Balik Mudahnya Pembelian Obat Mata Berlabel Merah Asal Tetes, Bisa Fatal Akibatnya

Saat menderita sakit mata, banyak orang memilih langsung membeli obat tetes ke toko atau apotek. Padahal penggunaan obat tetes mata sembarangan bisa berakibat fatal. Memperingati World Sight Day, Jawa Pos Radar Malang mengulas tentang bahaya obat tetes mata. Seperti apa?    

Bagi yang pernah sakit mata, tentu sangat mengganggu. Mulai dari mata merah, terasa gatal, nyeri hingga membuat penglihatan bermasalah. Banyaknya merek obat mata yang dijual bebas di toko maupun apotek sering kali membuat masyarakat mencoba-coba obat yang dirasa cocok. Padahal, kebiasaan ini bisa berbahaya.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Malang Raya dr Safaruddin Refa SpM KVR menyatakan, pemberian obat tetes yang sembarangan bisa menyebabkan efek samping yang fatal.

Mulai dari glaukoma, katarak, melembeknya kornea mata yang pada kasus tertentu bisa berujung pada kebutaan. ”Pemakaian obat mata tanpa resep dokter bisa membahayakan penglihatan,” terangnya.

Menurut dr Refa–sapaan akrabnya, di pasaran ada obat mata berlabel merah dengan tulisan ”K”, yakni obat keras yang penggunaannya harus dengan resep dokter. ”Obat yang berlabel merah adalah obat tetes mata yang mengandung kortikosteroid.

Obat ini bisa dipakai untuk anti-alergi, anti-infeksi, dan mata merah,” ungkapnya. Sayangnya, di masyarakat obat jenis ini sering disalahgunakan penggunaannya. Masih banyak pasien yang membeli obat ini ke apotek tanpa resep.

Menurut dr Refa, umumnya, hanya dengan menunjukkan botol obat dengan label merah tersebut kepada petugas apotek, warga dapat membeli obat tetes mata berlabel K tersebut.

Kepala Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini menjelaskan, obat dengan kandungan kortikosteroid akan berbahaya bila digunakan dalam waktu 2 minggu atau lebih.

Karena obat ini akan membuat tekanan bola mata menjadi tinggi sehingga menyebabkan kerusakan hingga tidak berfungsinya saraf mata. Dalam kasus tertentu, pasien bisa mengalami kebutaan seumur hidup. ”Bayangkan jika hal ini dialami oleh anak-anak. Matanya akan buta selamanya akibat terjadi glaukoma,” tutur dia.

Obat lain yang sering disalahgunakan pemakaiannya adalah Mydriatikum. Obat ini akan membuat penglihatan lebih terang sehingga sering dicari pasien meskipun tanpa resep dokter. ”Padahal, pemakaian obat tetes mata yang tidak tepat dapat membuat tekanan bola mata naik sehingga menimbulkan kebutaan,” terangnya.

Sementara itu, dr Nanda Wahyu Anandita SpM(K) menambahkan, selama ini banyak pasien datang yang mengeluhkan mata merah karena pemakaian obat tetes mata berlabel merah tanpa menggunakan resep.

”Biasanya di awal memang pasien mendapat anjuran dari dokter, tetapi pemakaian selanjutnya tanpa resep dan tanpa kontrol, ini yang berbahaya,” ungkap dr Nanda–sapaan akrabnya.

Dia menuturkan dalam sebulan, pihaknya menangani 2–3 pasien dengan keluhan kesalahan pemakaian obat tetes mata.

Sementara itu, selain yang berlabel merah, di apotek juga ada obat mata dengan label biru (bebas terbatas). Yakni obat tetes yang bisa didapatkan di apotek tanpa resep dokter. Fungsinya untuk mengatasi gejala mata kering, menyejukkan mata, dan sebagai lubrikan mata.

Meskipun dijual bebas di apotek, penggunaan obat mata dengan label biru juga tak boleh sembarangan. Karena sebaiknya didahului dengan konsultasi kepada dokter.  ”Karena mata adalah salah satu organ tubuh yang vital, sebaiknya pemakaian obat dikonsultasikan ke dokter karena bisa jadi setiap orang akan berbeda-beda penanganannya,” tutur dia.

Pewarta : nr2
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani