Di Balik Ancaman Perang Iran versus Amerika Serikat

KAMIS lalu (20/6) bisa saja menjadi titik awal konflik bersenjata AS melawan Iran. Setelah saling lempar sindiran, ancaman, dan serangan lokal, Presiden AS Donald Trump hampir saja memberangkatkan pesawat pengebom ke wilayah Iran. Perintah itu dianulir 10 menit kemudian. Tapi, dunia masih resah dengan ancaman peperangan.


Media internasional masih belum bosan membicarakan tentang drama yang terjadi malam itu. Menurut New York Times, Trump sudah memberikan lampu hijau serangan militer saat rapat dengan petinggi militer. Rencananya, mereka menyerang tiga lokasi sebagai aksi balas dendam.

Beberapa jam sebelumnya, pesawat drone mereka, RQ-4 Global Hawk, ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara. “Setelah itu, saya tanya berapa yang akan mati (pasca serangan ke Iran, Red). Seorang jenderal menjawab ada 150 orang,” ungkap Trump lewat akun Twitter-nya.

Saat itu Trump langsung melepaskan jari dari pelatuk. Dengan santai, dia mengira bahwa serangan balasan AS tak berimbang. Toh, yang dijatuhkan Iran merupakan pesawat tanpa awak. Tak ada jiwa yang gugur.



“Saya merasa tak perlu buru-buru. Militer AS adalah yang terbaik di dunia,” imbuh ayah Ivanka itu menurut Daily Express.

Soal rugi, tentu Pentagon sangat kehilangan. Menurut Agence France-Presse, Global Hawk adalah salah satu drone termahal di dunia. Satu unit bernilai USD 120 juta (Rp 1,6 triliun). Tapi, serangan petang di negara yang dipimpin Hassan Rouhani itu bisa berujung ke sesuatu yang lebih genting.

Beberapa kantor berita mengungkapkan bahwa konflik Iran dan AS bisa menjadi benih perang dunia ketiga. Beberapa lainnya menganggap prediksi itu berlebihan. Namun, politikus AS mengaku khawatir jika memang perang dunia terjadi. Pasalnya, Trump sudah menyinggung banyak negara dalam 2,5 tahun masa jabatan presiden.

“Dia menganggap pekerjaannya sekarang sama dengan reality show The Apprentice. Dia seakan tak tahu dampak keputusannya terhadap dunia,” kata senator Republik Bob Corker.

Kubu oposisi merasa jauh lebih buruk. Jantung Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi hampir berhenti ketika tahu AS hampir saja melakukan agresi militer. Dia sampai memuji Trump yang masih mempertahankan kepala dingin. Sebagai pentolan Demokrat, Pelosi hampir tak pernah memuji suami Melania tersebut itu. “Saya tidak mendapatkan informasi tentang rencana serangan tersebut,” ungkapnya.

Tak ada yang tahu apa benar perang global bakal terjadi saat AS melakukan agresi. Namun, banyak yang menekankan bahwa konflik tersebut pasti menyeret kubu lain. Setidaknya, negara-negara di Timur Tengah.

Jika dibandingkan apple-to-apple, kekuatan militer Iran kalah jauh dari AS. Satu-satunya kelebihan adalah lokasi peperangan dan jumlah tentara. Iran punya lebih dari 700 ribu tentara. Itu belum termasuk personel Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang mencapai 125 ribu.

Tentu, desas-desus yang beredar, Iran punya teknologi yang bisa mematikan. Pakar geopolitik Brandon Weichert mengatakan, Iran punya senjata gelombang elektromagnetik (EMP). “Senjata itu bisa melumpuhkan kekuatan AS sebelum mereka menyerang,” ungkapnya.

Iran sudah menegaskan bahwa pihaknya tak mencari masalah. Mereka merilis bukti tak menembak jatuh Navy P-8A Poseidon yang terbang tak jauh dari Global Hawk. Alasannya, pesawat tersebut pasti memuat awak, sedangkan Iran tak ingin jatuh korban jiwa. “Tujuan kami hanyalah memperingatkan AS,” ujar Amir Ali Hajizadeh, komandan IRGC.

Di saat yang sama, pemerintah Rouhani juga memamerkan taring. Mereka mengatakan bahwa militer siap merespons jika AS benar-benar melakukan serangan. “Serangan apa pun pasti akan berdampak secara regional atau internasional,” ucap Seyed Sajjadpour, wakil menteri luar negeri, kepada BBC.

Pertanyaannya, seberapa dekat kita dengan perang Iran-AS? Banyak pakar yang merasa bahwa itu tidak jauh. Menurut Kepala International Crisis Group Rob Malley, alasan utama Trump membatalkan serangan itu adalah perhitungan anggaran. Ya, sang taipan memang sering mendahulukan keuntungan daripada yang lain.

Dalam kampanyenya, dia berjanji memulangkan tentara di luar negeri yang menghambur-hamburkan anggaran serta menyiksa kerabat. “Jadi, dua instingnya bertabrakan. Satu bilang bahwa perang berkepanjangan bakal menguras kantong AS. Satu lagi bilang bahwa AS tak bisa diperlakukan seenaknya,” ungkap Malley yang jadi penasihat keamanan Gedung Putih di era Barack Obama.

Di sisi lain, sikap Trump justru bakal memancing kubu radikal Iran untuk bersikap lebih keras. Mereka bakal menyimpulkan bahwa Trump hanya pandai menggertak. Dengan begitu, mereka bakal melakukan serangan yang lebih besar.

“Benak oknum Iran bakal berkata, ‘Lihat! Trump tak mau berperang, ayo kita tekan lebih jauh’,” ujar Aniseh Bassiri Tabrizi, peneliti di Royal United Services Institute.

Antara Minyak Bumi dan Selat Hormuz

Ambangkonflik bersenjata Iran dan AS selalu punya satu benang merah: minyak bumi. Dari komoditas itu, kedua negara kini hampir mengulang sejarah.

Tiga dasawarsa lalu, Iran dan AS (bersama Iraq) terjebak dalam perang lantaran minyak. Dimulai dari persaingan dua negara tetangga di kawasan Teluk tersebut, AS yang saat itu dipimpin Ronald Reagan sampai dibuat pusing karena pasokan minyak dunia terganggu.

Tahun lalu minyak pula yang membuat Iran kembali mengamuk. Trump kembali mengembargo komoditas minyak Iran. Langkah itu membuat ekonomi Iran menyusut 3,9 persen. Padahal, ekonomi mereka pada 2017 baru saja tumbuh 3,8 persen.

”Tahun ini prediksi ekonomi mereka turun 6 persen. Mereka pasti merasa tidak punya pilihan lain,” tutur Aniseh Tabrizi, peneliti Royal United Services Institute, kepada CNBC.

Karena itu, hampir setahun setelah sanksi AS berlaku, kapal tanker di Selat Hormuz mulai berguguran. Mereka dikabarkan lumpuh karena serangan dari Iran. Tentu, Hassan Rouhani bersikukuh menyangkal semua tudingan.

Mereka berharap insiden itu bisa membuat pasokan dunia terganggu. Dengan begitu, harga minyak bumi bisa naik. Beberapa hari ini harga minyak Brent memang naik hingga USD 65 (Rp 918 ribu) per barel. Kalau tidak ada penyelesaian problem, harga bisa menembus USD 100 (Rp 1,4 juta) per barel.

Pengamat ekonomi menilai ”dorongan” dari Iran kurang ampuh. Mereka masih tertutupi dengan isu perang dagang Tiongkok-AS. Namun, kemungkinan Iran melakukan aksi yang lebih besar dari serangan sporadis ke kapal tanker sangat kecil. ”Saya yakin Iran pun tidak ingin sampai perang dan menutup jalur Selat Hormuz. Hal itu akan menjadi bumerang bagi mereka,” kata Eugene Gholz, pakar politik University of Notre Dame, kepada Politico