Desak Putu Ayu Devi Oktaviani, Mahasiswi UB Jadi Raki Jatim 2018

Desak Putu Ayu Devi Oktaviani saat malam puncak penganugerahan Raka-Raki Jatim 2018

Usai dinobatkan sebagai Mbakyu Malang 2017, Desak Putu Ayu Devi Oktaviani terpilih menjadi Raki Jawa Timur 2018. Apa keistimewaan mahasiswa Universitas Brawijaya itu?

TUTUR katanya halus, namun tegas. Itulah kesan yang tampak saat Jawa Pos Radar Malang berbincang dengan Desak Putu Ayu Devi Oktaviani Rabu lalu (4/4). Di sela-sela kesibukannya sebagai Raki Jawa Timur 2018, gadis 21 tahun itu bersedia menceritakan perjalanannya mendapatkan gelar yang diterimanya itu. Dari awal hingga menjadi duta pariwisata di Jawa Timur (Jatim).

Mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) itu mengaku tak menyangka bisa dinobatkan sebagai Raki Jatim 2018. Jangankan menjadi duta wisata di Jatim, saat mengikuti Kakang Mbakyu 2017 saja dia sempat grogi.

”Pengalaman pertama saya ya di ajang Teruna-Teruni Bali,” tutur Devi.

Pada ajang pertamanya itu Devi kalah. Kekalahannya di ajang Teruna-Teruni Bali itulah yang membuat Devi tidak terlalu berharap lebih ketika mengikuti kontes Kakang Mbakyu Malang 2017. Apalagi, tidak banyak yang dia persiapkan. Pada waktu itu, Devi benar-benar berpikiran akan kalah.



”Tapi, dukungan orang tua dan teman-teman kampus itu yang bikin saya percaya diri dan optimistis hingga babak eliminasi,” katanya.

Di hadapan dewan juri, Devi berusaha menunjukkan kemampuannya. Pertanyaan yang diajukan dewan juri pun dijawab dengan cekatan. Tanpa ragu. Rupanya, penampilannya pada malam grand final Kakang Mbakyu 2017 1 Oktober tahun lalu itu mengesankan dewan juri. Pukul 21.00, nama Devi disebut sebagai peraih gelar Mbakyu Malang 2017.

”Iya, saya kaget dan gemetar setelah mengetahui saya menang,” kata gadis asal Bali itu.

Ketika turun panggung, dia berpapasan dengan seniornya yang tergabung di Payuguban Kakang Mbakyu (Pakandayu). Malam itu pula, Devi dimotivasi seniornya.

”Saya dipanggil senior, dibilangin, ’next project-mu harus menang Raka-Raki Jatim’,” kata Devi menirukan pesan seniornya.

Devi tentu saja kaget. Dipercaya menjadi Mbakyu saja seolah mimpi baginya. Apalagi ditarget meraih gelar Raki Jatim. Saingannya pasti lebih berat. Sebab, pesertanya adalah seluruh pemenang duta wisata dari kabupaten/kota lain di Jatim.

”Kaki saya lemas. Tapi tahapan menuju Raka-Raki Jatim harus saya lalui,” katanya.

Di ajang Raka-Raki Jatim 2018, Devi menjadi wakil Kota Malang. Di ajang itu pula ada Joko Roro dari Kabupaten Malang, dan Kangmas Nimas dari Kota Batu.

Berdasarkan pengalaman Devi, penilaian Kakang Mbakyu dan Raka-Raki Jatim berbeda. Saat grand final Kakang Mbakyu, dia hanya diminta menjawab pertanyaan sesuai wawasannya. Tapi saat Raka-Raki Jatim, dia membawa nama Kota Malang. Orientasinya pada pengembangan wisata di Kota Malang. Misalnya, potensi apa saja di Kota Malang yang bisa dimaksimalkan untuk menggaet wisatawan.

Mulailah Devi menggali potensi Kota Malang. Dia tidak kesulitan melakukan itu. Sebab, sejak SMA Devi sudah terbiasa melakukan penelitian di kampung halamannya di Pulau Dewata. Bahkan, mahasiswi sementer IV itu beberapa kali menjuarai karya tulis ilmiah (KTI).

Berbekal pengalamannya, Devi mulai memetakan isu-isu yang layak diangkat. Setelah mengumpulkan materi, dia memutuskan mengangkat kampung tematik. Sejak kepemimpinan Wali Kota Malang Moch. Anton, Kota Malang punya beberapa kampung tematik. Mulai Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Putih, Kampung Arema, dan sempat mencuat wacana kampung janda.

Devi mengangkat isu kampung tematik karena dia menganggap kampung-kampung seperti ini amat langka. Berdasarkan pengetahuan Devi, hanya Kota Malang yang punya kampung tematik.

”Saya mengunjungi empat kampung tematik dari 10 kampung di Kota Malang,” tutur perempuan yang juga kerap menjadi MC (master of ceremony) di beberapa kegiatan itu.

Ada empat isu yang dia angkat dari kampung tematik tersebut. Yakni, lingkungan, kesehatan, sumber daya alam, dan ekonomi. Cara kerja Devi melakukan penelitian sangat tersistem layaknya peneliti umumnya. Tidak bergantung pada hasil browsing, Devi turun ke masyarakat, mewawancarai mereka, dan menarik beberapa isu dan masukan.

”Ada sekitar 20 orang yang saya wawancarai. Mulai ketua RT dan ketua RW, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar,” jelasnya.

Devi juga melengkapi datanya dengan mengorek keterangan dari organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Malang. Misalnya, dinas kesehatan (dinkes), dinas pendidikan (disdik), dan juga dari dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar).

Mengapa harus survei ke dinas? Devi mengatakan, dia tidak ingin persentasinya hanya perkenalan Kota Malang semata. Dia harus lebih mengenalkan Kota Malang dari sisi yang berbeda.

”Pemerintah juga punya andil besar membangun kampung tematik. Saya angkat juga andilnya,” tutur Devi.

”Saya tetap promosikan kampung tematik. Saya ingin paparkan apa saja di balik kampung tematik itu, sistem kerja dan potensinya,” tambah perempuan murah senyum itu.

Atas usahanya selama lima bulan itu, Devi mendapatkan apresiasi tinggi dari dewan juri. ”Pertanyaan juri kepada saya cukup panjang dan detail. Mereka tertarik dengan data yang saya paparkan,” kata alumnus SMAN 1 Denpasar itu.

Devi masih ingat ada juri yang menanyakan nilai ekonomi daerah, pendapatan daerah, dan segala pertanyaan ekonomi yang bikin pusing pengunjung. ”Lawan saya kaget, kok saya ditanya angka ekonomi, peningkatannya, sementara yang lain tidak,” tutur dia.

Jawaban Devi membuat dewan juri puas. Dia kemudian dinobatkan sebagai Raki Jatim 2018 pada 23 Maret lalu di Grand City Convention Hall Surabaya. Dia bergandengan dengan Raka Jatim 2018 Kyagus Badius Sani, putra daerah Kabupaten Probolinggo.

Malam itu merupakan malam penganugerahan yang tidak akan Devi lupakan sepanjang hidupnya. ”Saya harap, dengan menjadi Raki Jatim, saya terus berkarya dengan kemampuan penulisan ilmiah,” tutupnya.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Desak Putu