Desa Wisata Sepi Pengunjung, Dewanti: Wajar

KOTA BATU – Libur Idulfitri telah usai, namun wisata desa nampaknya belum bisa legowo. Pasalnya, 33 ribu wisatawan per hari selama lebaran memilih mengunjungi tempat wisata buatan daripada wisata desa. Perbandingan yang mencolok di libur lebaran terlihat dari data Gua Pinus yang hanya dikunjungi 150 wisatawan perharinya, dan Museum Angkut dikunjungi 1.100 wisatawan per hari.

Beberapa pengelola mengaku akses jalan menuju wisata desa belum memadai, sehingga gairah wisatawan menuju wisata desa belum tinggi.

“Ya gimana lah ini nanti solusinya agar di sini ramai. Akses jalan belum memadai, kami harap pemerintah mengakomodir,” ujar pengelola Gua Pinus, Munir.

Saat sejumlah pengelola wisata desa sambat, Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko menyebut hal itu merupakan suatu kewajaran. “Bukan lebih tertarik, tapi wisata buatan di Kota Batu ini tidak ada di tempat lain, jadi wajar,” ujar wanita yang akrab disapa Bude ini.

Lebih lanjut menurutnya wisatawan bukan tidak tertarik ke wisata desa, melainkan lebih memilih untuk mengefektifkan waktu berwisata. Wisata desa dominan memiliki lokasi yang jauh dan membutuhkan waktu yang relatif lebih banyak.



“Kemudian fasilitas dan wahana di wisata buatan lebih lengkap ketika datang ke satu tempat, bisa seharian. Ya memang wisata buatan mereka lebih profesional. Kalau desa wisata kan cuma sebentar, satu wahana saja, paling 1-2 jam,” jelasnya.

Sehingga menurutnya, baik wisata desa maupun buatan memiliki plus dan minusnya masing-masing. Namun Bude mengaku akan terus mendukung adanya wisata desa untuk memberdayakan dan mengangkat potensi alam yang ada di desa.

“Untuk akses pemkot Batu pasti mendukung, beberapa perbaikan jalan juga sudah mulai dikebut,” tandasnya.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: dok JPRM
Penyunting: Fia