Debut di Vancouver Fashion Week, Diana Rikasari Persembahkan Koleksi ‘J’Aime l’Autisme’ Untuk Pengidap Autisme

ZETIZENID – Fashion blogger sekaligus fashion designer asal Indonesia yang saat ini berdomisili di Switzerland, Diana Rikasari, baru saja menampilkan koleksi terbarunya di Vancouver Fashion Week Spring Season 2020 pada Kamis (10/10) lalu di Vancouver, Kanada.

Tak hanya menjadi fashion show pertamanya menggunakan nama ‘Diana Rikasari’, koleksi bertajuk ‘J’Aime l’Autisme’ ini juga jadi debutnya dalam menjalankan misi personalnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit Autisme. Berangkat dari kisah pribadi, koleksi ini memiliki makna yang begitu personal baginya.

“Koleksi ini adalah persembahan untuk anakku yang autis, Shahmeer,” ceritanya melalui sebuah unggahan Instagram pada (12/10). “Ketika aku mengerjakan proyek ini, aku ingin koleksi pertamaku menggambarkan bagaimana diriku sebagai seorang perancang busana, saat ini dan kedepannya,” lanjutnya.

Ia mengaku ingin menciptakan dampak dari karya-karyanya. Tak hanya dampak fungsional, seperti pembuatan busana secara eco-friendly dan sustainable yang telah ia terapkan di brand Up dan Schmiley Mo miliknya, tapi juga berdampak secara emosional.

Keresahan Diana ketika belajar memahami bagaimana anaknya memandang ‘dunianya’ itu ia tuangkan dalam sejumlah busana penuh simbol yang didominasi dengan bahan transparan. “Busana lebar dengan bahan tule (transparan) mewakili kepolosan dan kemurnian, tidak ada yang disembunyikan. Sarung tangan panjang tanpa jari menunjukkan bagaimana mereka (anak autis) tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari semudah orang lain,” tulis Diana dalam sebuah deskripsi.

Masih tetap dengan gaya nyentriknya, koleksi perdana ini dihiasi dengan gabungan warna-warna cerah dan potongan unik yang memberi kesan sweet-but-still-quirky khas Diana Rikasari. Uniknya lagi, para model tampil dengan muka dicat biru. Riasan wajah tersebut merujuk pada idiom “Blue in the face” yang berarti rasa lelah untuk terus-terusan marah. “Menurutku, begitulah perasaan orang autis ketika disalahpahami atau bahkan tidak dipahami sama sekali,” jelasnya.

Koleksi ‘J’Aime l’Autisme menjadi bukti bahwa busana pun dapat berbicara dan fesyen dapat menjadi media penyambung pikiran. Sayangnya, sang perancang tak dapat hadir dalam acara tersebut untuk menerima langsung apresiasi dari para penonton Vancouver Fashion Week. Berdasarkan unggahannya di Instagram pada (4/10), ia tak dapat terbang kesana karena tersendat masalah Visa.

Penulis: Ananda Triana
Penyunting : Fia
Foto: Imaxtree / Andrew Warbuton