Debat Jilid Dua, Dari Dukungan Rendra-Dewanti hingga Masalah Air

MALANG KOTA – Debat publik pasangan calon jilid kedua tadi malam (5/5) di Hotel Haris, Kota Malang, tak kalah seru dibanding debat jilid pertama beberapa waktu lalu.

Selain pasangan calon saling sindir, tema yang diangkat tadi malam cukup penting dan menjadi persoalan klasik. Yakni, tentang Sinergisitas Dengan Daerah di Malang Raya, Pemprov, Pemerintah Pusat.

Sebagaimana debat pertama, pasangan nomor urut satu dan dua yang datang cuma wakilnya. Yakni, calon wakil wali kota (cawawali) Ahmad Wanedi di nomor urut satu dan calon wakil wali kota Syamsul Mahmud di nomor urut dua. Calon wali kota mereka absen karena masih proses menjalani proses hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sedangkan pasangan nomor urut tiga hadir lengkap, yakni Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko.
Wanedi menyatakan, sebagai calon yang diusung dua kepala daerah tetangga, maka tidak sulit mewujudkan tema debat kali ini.

”Rendra (Bupati Malang Rendra Kresna) dan Dewanti (Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko) mengusung kami, jadi tidak sulit. Menurut saya, Pemerintah Kota Malang yang kemarin kurang sinergi dengan kabupaten,” kata politikus PDIP ini.

Untuk diketahui, Rendra yang merupakan politikus Nasdem dan Dewanti dari PDIP. Kedua partai ini mengusung pasangan nomor urut satu Ya’qud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi.

Sementara itu, Syamsul Mahmud akan menciptakan pembangunan yang berkelanjutan di Kota Malang pada khususnya, dan di Malang Raya pada umumnya.

”Prestasi Kota Malang selama ini akan kami lanjutkan dan kami akan berorientasi pada masalah pokok serta peningkatan taraf hidup,” kata Syamsul.

Sedangkan Sutiaji mengakui kalau selama ini ego sektoral masih terjadi. Dia mencontohkan pengelolaan air dan sistem kerja sama yang tidak tuntas antardaerah.

”Harus ada kajian hukum dan duduk bersama, kami akan buat rencana pembangunan. Kami sesuaikan dengan daerah lain,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Malang beberapa bulan lalu melakukan pemangkasan debit air dari 140 meter kubik per detik menjadi 70 meter kubik per detik dari Sumberpitu untuk PDAM Kota Malang. Alasannya, PDAM Kota Malang menunggak hingga Rp 3 miliar.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto