Dear Para Pria, Vasektomi Bukan Kebiri dan Prosesnya Hanya 15 Menit

JawaPos.com – Sosialisasi vasektomi di masyarakat dinilai masih kurang. Banyak persepsi yang berkembang di benak warga mengenai KB pria tersebut. Salah satunya, mereka mengira metode kontrasepsi steril itu dilakukan dengan cara mengebiri akseptor. Padahal, tidak demikian. Akibatnya, persepsi tersebut memengaruhi minat warga untuk mengikuti program itu meski gratis.

Di Surabaya Barat sejak awal tahun hingga kemarin, setidaknya ada 50 warga yang ikut program kontrasepsi steril yang diadakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) provinsi itu. Angka tersebut dinilai masih kecil alias tak sebanding dengan banyaknya penduduk yang masuk target kegiatan itu.

Kasubdit Kesehatan Reproduksi dari BKKBN Provinsi Jawa Timur (Jatim) dr Sofyan Rizalanda MKes mengatakan, banyak faktor yang membuat masyarakat enggan ikut vasektomi. Faktor keengganan terbesar adalah pikiran bahwa vasektomi adalah pengebirian. ”Saat sosialisasi, sebagian besar pasti bertanya apakah nanti alat reproduksinya dihilangkan,” tuturnya kemarin siang.

Masyarakat juga menganggap bahwa setelah vasektomi, libido mereka akan berkurang. Itu akan memengaruhi hubungan suami istri. Menurut Sofyan, anggapan itu sama sekali tidak benar. ”Vasektomi hanya proses pemotongan dan pengikatan saluran benih. Prosedurnya pun cepat. Hanya 10–15 menit,” katanya.

Setelah saluran tersebut dipotong, benih yang nanti membuahi sel telur tidak ikut keluar bersama sperma. Jadi, ketika berhubungan suami istri, tidak akan ada perbedaan sama sekali antara sudah dan belum mengikuti vasektomi. Hanya, sperma yang keluar pasca KB steril itu tak dibarengi oleh benih.

Secara ilmiah, hal itulah yang menghalangi terjadinya kehamilan. Menurut Sofyan, persepsi yang berkembang pada masyarakat tak terlepas dari minimnya sosialisasi. Karena itu, pemahaman vasektomi di masyarakat sangat kurang.

Dia menambahkan, kalau sudah ikut vasektomi tetapi ingin memiliki keturunan lagi, mereka bisa menjalani operasi mikroskopik. Yakni, penyambungan kembali pada saluran vas deverens. ”Kalau sudah tersambung, ya bisa punya anak lagi,” terang alumnus kedokteran Universitas Airlangga itu.

Ketua kelompok KB pria Pakal, Suharto Ahmad melanjutkan, menjalani vasektomi akan menimbulkan dampak positif. Di antaranya, mencegah risiko kehamilan yang tidak diinginkan oleh sang istri. Sebab, usia 40–50 tahun sangat rawan jika terjadi kehamilan.

Lukman Hadinoto, peserta yang ikut vasektomi, kemarin mengatakan bahwa dirinya awalnya juga takut. ”Ternyata tidak sakit,” katanya setelah menjalani prosedur vasektomi yang diselenggarakan BKKBN provinsi dan pemkot di Pusyan Gatra Surabaya Barat kemarin.