MALANG KOTA – Green School Festival (GSF) 2018 tidak hanya sebagai ajang untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap lingkungan. Tapi juga mengungkap berbagai macam inovasi siswa-siswi.

Ketika tim juri GSF melakukan penilaian di SMPN 3 Kota Malang kemarin (17/9) misalnya, siswa-siswi memamerkan inovasinya. Setidaknya ada lima inovasi yang dipaparkan oleh siswa-siswi SMPN 3 Malang. Lima inovasi hasil rancangan siswa itu sudah diterapkan setiap hari. Inovasi pertama, hand sanitizer atau sterilisasi tangan dari daun binahong. Sterilisasi ini disediakan di kantin dan digunakan minimal lebih dari dua kali sehari.

”Inovasi kedua adalah penyemprot antinyamuk dari bahan alami. Seperti kemangi yang dicampur cuka,” ujar Wakil Ketua Koordinator GSF SMPN 3 Drs Nur Rohmat.

Rohmat memaparkan, pembuatan hand sanitizer dan semprotan antinyamuk  ini butuh waktu lama. Sebab, produksinya melibatkan siswa dengan sistem piket bergilir. ”Tujuan kami meminimalisasi bahan kimia,” kata guru sains ini.

Sedangkan inovasi ketiga adalah pupuk organik dari campuran sabut kelapa. ”Pupuk ini buatan siswa yang ditugasi di kelompok kerja (pokja) air dan limbah,” kata pria berusia 50 tahun ini.

Dia yakin, pupuk ini tidak menimbulkan bau menyengat. Penggunaannya juga diyakini lebih aman daripada pupuk organik lain. Sebab, ada tambahan gula merah yang mengeluarkan aroma sedap.

Inovasi keempat berupa pengaturan limbah wudu untuk penyubur tanaman. Kepala SMPN 3 Kota Malang Tutut Sri Wahyuni menambahkan, air dalam kolam adalah limbah wudu. ”Cara kerjanya, limbah bekas air wudu masuk ke kolam dan mengaliri tabung tanaman,” ujar Tutut. Tabung tanaman ini diisi bibit sawi, kangkung, dan beberapa sayur mayur lainnya.

”Untuk air panas sekolah dan lampu taman, energinya dihasilkan dari panel surya,” tambah perempuan berambut pendek ini. Kegiatan ini pun sudah dilakukan sejak tahun lalu.

Sedangkan inovasi terakhir, yakni barcode tanaman. ”Siswa bisa tahu tanaman apa, jenis, dan dari genus apa hanya dengan di-scan,”tandasnya.

Tidak hanya tumbuhan, alat-alat laboratorium juga dipasang barcode untuk memudahkan siswa menghafal nama alat-alat tersebut. Tutut menyatakan, kelima inovasi ini, selain menjaga lingkungan yang hijau dan bersih, memang dibangun untuk melatih kemandirian siswa.

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Mahmudan
Foto: Falahi Mubarok