Datang dari Turen, Gadis Cantik Ini Warnai Aksi Solidaritas SMPN 4 Kepanjen

KEPANJEN – Di tengah panasnya terik matahari, saat pelaksanaan aksi solidaritas dari alumni SMPN 4 Kepanjen serta puluhan watga Kabupaten Malang, ada pemandangan mengademkan, Selasa (10/12).

Di aksi yang dimulai dari perempatan jalan Kawi Kepanjen, terdapat sosok wanita berparas cantik.

Dengan menggunakan hijab berwarna cream, atasan putih serta celana berwarna cream, wanita bernama Sry Utami tersebut rela berjalan dan berteriak untuk menggalang tanda tangan.

Tanda tangan tersebut merupakan bentuk dukungan dari Alumni SMPN 4 Kepanjen serta warga Kabupaten Malang atas tindakan oknum Guru Tidak tetap (GTT) yang mencoba membungkam murid korban pelecehan.

“Ayo teman-teman kita tak boleh diam. Kita berikan dukungan kepada korban secara psikologis. Ayo kumpulkan tandatangan,” tutur salah satu orator massa aksi sambil berjalan.

mendengar seruan tersebut, perempuan asal Turen tersebut pun tak ketinggalan memberikan dukungannya. Ia juga ikut menandatangani banner putih selebar 4×1 meter itu.

Dalam tanda tangan tersebut tertulis “Stop kekerasan seksual kepada siswa SMPN 4 Kepanjen” beserta tanda tangannya menggunakan spidol berwarna hitam.

“Saya datang jauh-jauh dari Turen ke sini karena saya menghargai upaya teman-teman. Saya juga concern terhadap pelecahan ini. Saya harap dengan upaya ini memulihkan kondisi psikologi para korban,” tuturnya.

Sementara itu, saat ini dari pantauan radarmalang.id sudah terdapat ratusan tanda tangan di banner. Selain itu, sampai saat berita ini diunggah, perwakilan alumni SMPN 4 Kepanjen melakukan audiensi dengan pihak sekolah di salah satu ruang kelas.

Sebagai informasi, aksi cabul GTT yang merupakan guru Bimbingan Konseling (BK) tersebut dilakukan selama 2 tahun, mulai 2017. Oknum GTT bernama Chusnul Huda itu mengancam para korbannya agar diam dan tidak mengadukan ke siapapun dengan melakukan sumpah Al-Quran.

Namun, pada akhir tahun 2019, ada salah satu siswa korban yang berani mengadu masalah ini ke orang tuanya. Alhasil, pada tanggal 3 Desember 2019 wali murid tersebut melaporkan kasus cabul ini kepada Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Fia