Dari Rumah yang Hampir Roboh, Jadi Galeri Seni

MALANG KOTA – Rumah tiga lantai yang terletak di Jalan Selat Sunda Raya D5-35 Sawojajar, Kota Malang, itu dulunya tak sebesar sekarang. Pada 2005 silam, penyangga atap rumah yang terbuat dari kayu itu bahkan hampir roboh dimakan rayap. Pemiliknya adalah seorang pelukis kelas internasional, Sadikin Pard.

Dua  tahun lalu, pelukis difabel beraliran impresionis itu merenovasi rumahnya. Dia mengubahnya menjadi sebuah galeri pameran lukisan. Namanya Sadikin Pard Gallery. Galeri ini yang dulu kantor sekaligus gudang itu siap di-launching hari ini (14/12).

Memiliki galeri merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam karirnya sebagai seorang seniman selama 30 tahun. ”Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Semoga saja galeri ini bisa bermanfaat untuk orang banyak nantinya,” terang Sadikin kemarin.

Galeri berdesain joglo khas Jawa itu terletak di lantai 2 dan 3 rumah pribadinya. Di lantai 2, Sadikin memfokuskan pada kafe dan ruang meeting. ”Kalau ada teman-teman seniman, atau teman media yang ingin meeting, bisa di sini nanti,” ungkapnya kepada wartawan koran ini.

Nuansa tradisional kental terlihat dengan penggunaan lampu gantung antik, furnitur kayu, dan adanya patung punokawan berwarna keemasan. Sebagai seorang seniman, tentu kecintaannya pada kerajinan dan barang seni sangatlah tinggi. Dengan diusungnya desain joglo ini, dia berharap dapat mengangkat budaya Jawa, khususnya untuk anak-anak muda.

Sementara itu, di lantai paling atas, salah satu member dari Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA) ini menjadikannya sebagai tempat pameran lukisan. Tempat seluas 200 meter persegi tersebut dapat menampung setidaknya 50 karya. Nantinya, Sadikin Pard Gallery tidak hanya berorientasi pada jual beli lukisan, tapi juga mencakup edukasi untuk masyarakat umum serta wadah pameran untuk pelukis lain.

Selain itu, salah satu tujuannya mendirikan galeri ini adalah untuk ikut membantu menyejahterakan ekonomi masyarakat sekitar. ”Harapannya, galeri ini bisa jadi salah satu destinasi wisata dan nanti perajin seni bisa menitipkan karyanya di galeri untuk dijual,” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebagai seorang difabel, pelukis kaki itu ingin membuktikan bahwa kemampuan difabel bisa melebihi orang dengan fisik yang normal. ”Bukan berarti difabel harus memohon belas kasihan atau dibantu, kita sama dengan orang nondifabel, hanya beda fisik saja,” imbuh dia.

Pada 15 Desember besok, rencananya galeri hasil kerja kerasnya itu juga akan menjadi tuan rumah diselenggarakannya lomba melukis se-Jawa Bali yang diikuti oleh 100 pelukis profesional.

Pewarta : ar1
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib