Dari Pelayan Restoran hingga CEO Jawa Pos

MALANG KOTA – Beragam kisah inspiratif dan cara menggapai kesuksesan diuraikan secara gamblang oleh Azrul Ananda, CEO Jawa Pos Group, pada Workshop & Sharing Session di Universitas Islam Malang (Unisma) kemarin (7/10).

Mengusung tema Connecting the Dot (Menyambung Titik-Titik), Azrul mengawali kisah hidupnya sejak remaja hingga menjadi CEO Jawa Pos Group. Dia menyatakan, selama ini banyak yang mengira jika dirinya selalu hidup enak dengan kekayaan dari orang tuanya, Dahlan Iskan.

”Mungkin banyak yang mengira, enak ya Azrul kamu anaknya orang terkenal. Tapi, banyak yang tidak tahu bahwa keluarga saya tidak berkecukupan hingga saya kuliah,” ujarnya.

Azrul menceritakan, ketika masih kecil, dia pernah meminta mainan kereta kepada ayahnya. Namun, oleh ayahnya tidak dibelikan karena tak memiliki uang. Dia hanya diberi lidi dan karet. ”Supaya saya bikin relnya dulu dari lidi dan karet itu,” kenang bapak tiga putra ini.

Saat itu, ayahnya berprofesi sebagai wartawan. Penghasilannya tidak terlalu besar, tapi risikonya tinggi.

”Wartawan waktu zaman Orde Baru, banyak ancamannya. Sampai-sampai ayah saya bilang jangan sampai anak saya kerja di media,” lanjutnya. Jadi, Dahlan Iskan waktu itu mencari cara supaya anaknya bisa ke luar negeri agar terhindar dari ancaman-ancaman tersebut.

Karena itu, sejak SMP, Azrul rajin mengikuti tes beasiswa dan akhirnya berhasil sekolah gratis di Ellinwood High School di Kansas, Amerika Serikat, pada 1993–1994. Kota Ellinwood, kata dia, hanya berpenduduk sekitar 2.800 jiwa.

”Anehnya, ketika di Amerika, saya justru ditampung pemilik koran lokal sana (John Mohn, Red). Ini garis Tuhan. Saya dijauhkan dari koran, malah diasuh pemilik koran,” canda Azrul.

Karena berada di keluarga media, Azrul pun mendapat gemblengan langsung dari John Mohn. Ketika masih di SMA, dia dipercaya untuk mengelola koran sekolah. Dia oleh pemilik koran The Ellinwood Leader itu juga diajari fotografi, menulis, maupun layout.

Yang tidak banyak orang tahu, ketika masih SMA, pria kelahiran 1977 ini juga menjadi pelatih sepak bola untuk anak SD. Kebetulan, sepak bola telah menjadi hobinya sejak kecil ketika masih di Surabaya.

”Secara resmi profesi saya ya pelatih bola itu. Mungkin saking tidak banyak pelatih bola di sana, saya yang ditunjuk jadi pelatih. Tapi, lumayan gajinya USD 15 setiap satu jam,” ungkap Azrul dengan sedikit tertawa.

Tak butuh waktu lama bagi Azrul menyelesaikan sekolah di tingkat SMA. Dia mengaku, praktis hanya setahun. Itu karena nilainya yang di atas rata-rata. Jadi, dia bisa langsung kuliah di International Marketing California State University Sacramento.

Ketika kuliah, dia menceritakan pernah menjadi pelayan di restoran. Itu dilakukan karena kiriman uang dari orang tuanya dikurangi akibat terjadi krisis moneter di Indonesia. Sehingga Azrul mencari tambahan uang saku dengan bekerja sebagai pelayan resto.

”Tapi, alhamdulillah, saya juga lulus dengan cum laude,” kata Azrul yang disambut tepuk tangan ratusan audiens.

Selepas kuliah, Azrul kembali ke Surabaya dan diminta Dahlan Iskan untuk mengelola rubrik anak muda di Jawa Pos. Maka dia membuat rubrik Deteksi. Itu dia buat karena selama dia menilai, saat itu Jawa Pos membosankan.

Beritanya hanya cocok untuk orang tua. ”Maka saya mulai tahun 2000 bikin halaman khusus anak muda itu (Deteksi). Semua yang mengelola anak muda saja,” imbuh penghobi sepeda ini.

Singkat cerita, setelah enam tahun rubrik Deteksi dikelola secara total, maka nama Jawa Pos terangkat. Bahkan, pada 2006, tingkat keterbacaan Jawa Pos versi lembaga survei Nielsen, terbanyak di Indonesia. Itu karena Jawa Pos punya pembaca muda terbanyak. Bahkan, Deteksi juga terpilih sebagai koran terbaik dunia pada 2011.

Dari Deteksi ini pula, lahir Deteksi Basketball League (DBL), liga basket tingkat SMA terbesar di Indonesia. Mengawali menggelar DBL, imbuh Azrul, modalnya hanya Rp 40 juta. Dari konsistensi menggelar DBL, kini sudah memiliki GOR DBL Arena. Bahkan, DBL juga sudah bekerja sama dengan NBA (induk basket Amerika Serikat). Dari basket pula, muncul bisnis-bisnis lain. Salah satunya telah diproduksi sepatu khusus basket yang harganya terjangkau oleh para atlet basket Indonesia.

”Kalau kita menjalankan apa pun dengan niat baik dan tekun, akan ada banyak peluang yang datang,” pesannya.

Selain basket, hobi yang dia tekuni juga balap mobil (F1) dan sepeda. Dari dua hobi tersebut, Azrul berhasil menjadikan sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan bisnis.

Dengan menceritakan kisah hidupnya itu, Azrul ingin menunjukkan bahwa setiap peristiwa dalam hidup kita tanpa diduga sebenarnya saling menyambung.

”Ini yang dinamakan connecting the dot atau menyambung titik-titik. Anda akan melihat, kalau hidup ini dirunut ke belakang, itu titik-titiknya banyak yang nyambung. Saya harap, cerita hidup saya bisa menjadi contoh,” pesannya.

Dia menambahkan, kita sering tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan pada saat SMA atau kuliah bisa berpengaruh di masa depan. ”Coba kalau saya dulu mengeluh waktu tinggal di kota kecil Ellinwood, lalu stres dan pulang. Saya nggak akan bisa seperti sekarang ini,” kata dia.

Kesuksesan Azrul rupanya bukan hanya di media, tapi di dunia balap F1. ”Nggak ada kaitannya sama koran sama sekali, tapi saya mau menunjukkan kalau dari hobi yang dilakukan serius pun kita bisa sukses,” kata suami dari Ivo Ananda ini.

Berawal dari hobi menonton F1, saat ini sudah 10 tahun lebih dia menjadi komentator di TV untuk ajang F1. ”Waktu saya nonton di Malaysia, kebetulan ada orang Toyota yang bilang kalau saya jelasin tentang F1 itu enak dan lucu. Jadi, saya disuruh menjadi komentator,” katanya.

”Makanya kunci dari kesuksesan buat saya adalah kalau suka melakukan sesuatu, seriusi. Nanti entah kita akan dibukakan jalan atau kita peka saat ada jalan,” kata Azrul menutup sesi sharing-nya itu.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Kepala Perwakilan Unicef untuk Jateng dan Jatim Arie Rukmantara. Dari jajaran Unisma, di antaranya Wakil Rektor I Prof Dr H. Junaidi MPd, Warek III Dr Ir H. Badat Muwakhit, pengawas yayasan H.M.K Burhanul Arifin, pengurus yayasan Drs H. Solichin Mahfudz.

Rektor Unisma Prof Dr Masykuri Bakri tidak hadir karena sedang berada di Banyuwangi. Namun, dalam pesan tertulisnya, dia menyampaikan jika kehadiran Azrul telah memberi inspirasi kepada mahasiswa Unisma.

”Dengan pengalamannya yang segudang tentang entrepreneur telah diberikan kepada anak bangsa yang sedang kuliah di Unisma,” ujarnya.

Dia menambahkan, Unisma saat ini telah menjadikan program entrepreneur sebagai salah satu program unggulan untuk semua program studi. ”Bukan sekadar penyampaian teori, tapi juga ada kisah sukses orang hebat seperti Chairul Tanjung dan Azrul Ananda,” tandas Masykuri.

Pewarta: Tabita Makitan
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono