Dari Micky hingga Ricky: Rekam Jejak Pemain Papua di Skuad Arema

MALANG KOTA – Sejarah Arema tak bisa dilepaskan dari Papua. Sejumlah pemain kelahiran Papua tercatat pernah membela Singo Edan.

Pada gelombang pertama, atau ketika Arema tengah membentuk skuad untuk melakoni debutnya di Galatama VIII/1988, ada lima pemain Papua yang didatangkan.

Mereka adalah Micky Tata, Dominggus Nowenik, Panus Korwa, Donat Meuri, dan France Jasman.

Dari lima nama itu, tiga di antaranya bertahan. Sementara Donat dan France dicoret lantaran tidak sesuai dengan kebutuhan tim yang kala itu diarsiteki Sinyo Aliandoe.

Cukup lama trio Papua Tata-Nowenik-Korwa itu bertahan di Arema. Micky Tata bahkan sampai satu dekade (10 tahun) di Arema (1987-1997). Menjadikannya putra Papua yang paling lama membela Arema.

Setelah era Micky Tata berakhir, gelombang kedatangan pemain Papua ke Arema masih terus berlanjut.

Pada periode 2004-2006, Arema bahkan diperkuat oleh empat pemain asal Papua. Yakni Silas Ohee (kiper), Alexander Pulalo (bek), Erol FX Iba (gelandang), dan Marthen Tao (striker).
Kemudian, pada 2007, Arema diperkuat oleh dua pemain Papua berlabel tim nasional (timnas). Yakni Elie Aiboy dan Ortizan Solossa.

Setelah era Ortizan-Aiboy berakhir, Arema sempat lama tak diperkuat pemain dari Papua. Sampai kemudian Yohan Ibo datang memperkuat tim Arema yang bermain di Indonesia Super League (ISL) 2011/2012.

Estafet putra Papua lantas berlanjut ke Engelberd Sani, Marko Kabiaay, Oktovianus Maniani, hingga Israel Wamiau.

Di musim ini, Arema FC punya dua pemain Papua. Yakni Ricky Kayame dan Zidane Aldrin Pulanda. Dari dua nama ini, Ricky yang lebih dikenal. Sebab, Zidane, meski tercatat sebagai pemain senior, namun ‘dipinjamkan’ ke tim junior.

Nah, hadirnya pemain-pemain Papua itu acapkali diiringi dengan torehan gelar. Lihat saja bagaimana trio Tata-Nowenik-Korwa berkontribusi atas gelar Galatama XII 1992/1993.

Keberadaan Silas-Tao-Erol-Pulalo juga membuat Arema sempat menjadi tim tersukses di Piala Indonesia (dulu bernama Copa Indonesia). Arema meraih juara dua kali beruntun, 2005 dan 2006.

Terbaru, Kayame juga berkontribusi besar atas keberhasilan Arema FC menjuarai Piala Presiden 2019 lalu. Bahkan, Kayame menjadi top skor bersama Piala Presiden dengan torehan lima gol. Bersanding dengan Manuchekhr Dzhalilov (Persebaya), dan Bruno Matos (Persija).

Di Liga 1 2019, nama Kayame juga masih menghiasi skuad inti Arema FC. Bahkan, Kayame mencetak gol kemenangan timnya atas Barito Putera, Senin malam (19/8).

Flashback lagi jauh ke belakang, arus kedatangan talenta-talenta Papua tidak lepas dari peran Brigjen (purn) Acub Zainal dan Brigjen (purn) Sugiyono.

Dua pendiri Arema itu pernah memberikan warna bagi provinsi paling timur Indonesia itu. Acub pernah menjabat sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih antara 1970-1973, serta Gubernur Irian Jaya (nama lama Papua) antara 1973-1975.
Sementara Ebes Sugiyono menjadi Wakil Gubernur Irian Jaya periode 1983-1987.

Lama di Papua, membuat Acub dan Sugiyono tahu betul seperti apa talenta pesepakbola di sana.

Karena itu, tanpa kesulitan, Arema bisa mendatangkan bakat-bakat terbaik dari Papua.

Acub menyebut bahwa karakter pemain Papua itu cocok dengan karakter arek Malang : ngeyel, pantang menyerah, dan lugas.

Foto : Darmono
Editor : Indra M