KOTA MALANG – Kedudukan Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, akan mengalami pergantian pada Kamis besok (28/2). Jabatan yang sebelumnya diisi oleh Dr. Lalu Mulyadi MT akan bergeser ke Wakil Rektor I ITN Malang, Dr. Ir. Kustamar MT.

Barangkali tak banyak yang tahu jika sebenarnya pria yang akrab disapa Pak Kus ini merupakan anak petani. Lahir di Blitar, 1 Februari 1964, Kustamar termasuk sosok yang rajin dan bertekad kuat. Salah satunya dengan berkeinginan masuk Sekolah Dasar (SD) di usia belia.

“Saya dulu ngotot masuk SD ke orang tua di usia lima tahun. Nggak tahu kenapa saya kok senang sekali belajar,” katanya

Usai menamatkan SD, ia melanjutkan pendidikan ke STN (Sekolah Teknik Negeri). Jenjang pendidikan selevel SMP dengan mengambil jurusan bangunan udara. Keputusan tersebut diambil dengan berkeinginan lekas bekerja setelah lulus sekolah.

Ya, mengingat kedua orang tuanya, saat itu memang kurang menyetujui jika dirinya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

“Saya ingin bisa bekerja di bidang kontraktor saluran udara, karena kan saat ini masih jarang yang seperti itu,” jelas dia

Sayangnya, karena postur tubuh yang kurang menunjang bapak tiga anak ini harus menunda keinginannya. Sehingga ia memilih melanjutkan studi ke STM (Sekolah Teknik Menengah) dengan jurusan bangunan air.

“Di situlah awal mula saya mulai sangat serius belajar. Sering juga menjadi jujugan teman-teman kalau ada PR atau tugas,” kenang Kustamar

Menurut Kustamar, tak semua jenjang karirnya mulus. Ia juga sempat mengembangkan jiwa wirausahanya dengan beternak ayam petelor di rumahnya saat masih duduk di bangku sekolah. Tak tanggung-tanggung, ada 1000 ekor.

Namun harus dijual untuk melanjutkan belajar di jurusan teknik pengairan, Institut Teknologi Nasional (ITN) Kota Malang.

“Ya otomatis saya tidak di rumah, ngga ada yang ngasih makan. Padahal dulu saya rajin ngasih makan sebelum berangkat atau pulang sekolah jam 2 siang. Dan hasilnya lumayan, bisa 750 butir telur sehari,” beber pria yang sudah menerbitkan tiga buku ini.

Untuk kebutuhan sehari-haripun, ia lantas menawarkan jasa untuk belajar bersama dengan upah traktiran makan. Ia juga kerap kali menerima banyak ceperan tatkala musim ujian tiba seperti seorang pembimbing. Lucunya, ia merasa kesulitan tatkala harus belajar dengan teman perempuannya.

“Biasanya ada kelas yang minta diajari, nah di situ saya selalu gugup dan kaku. Mungkin karena cewek itu,” tuturnya terkekeh

Pada 1986, iapun berhasil meraih gelar sarjana teknik pengairan. Kemudian, resmi menjadi dosen ITN pada 1991 setelah lulus ujian kopertis. Perjalanannya terus berlanjut hingga tahun 2014 diangkat sebagai Wakil Rektor I sampai saat ini.

“Intinya kita harus tekun belajar karena tidak ada orang bodoh. Yang ada adalah orang yang tidak belajar, selain itu harus membina kecerdasan kolektif untuk membangun apapun bersama-sama,” tutupnya.

Pewarta : Feni Yusnia
Foto : Feni Yusnia
Penyunting : Fia