Dana Subsidi Liga, Kapan Cairnya?

MALANG KOTA — Bagi klub-klub Liga 1, dana subsidi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) cukup besar artinya untuk meringankan beban operasional. Termasuk bagi Arema FC. Sayangnya, pencairan subsidi itu acap kali terlambat.

Bahkan, dana subsidi untuk musim kompetisi 2018 saja, belum semuanya cair. Dari Rp 7,5 miliar yang jadi hak Arema FC, baru cair Rp 5 miliar di antaranya. Sementara Rp 2,5 miliar sisanya, masih belum cair sampai kemarin.

Seperti diketahui, Rp 2,5 miliar yang dijanjikan PT LIB itu adalah untuk pos pembinaan pemain muda. “Arema sudah lengkap (untuk pembinaan pemain muda). Kami sudah lakukan kewajiban, tapi phaknya tidak diberikan,” kata General Manager Arema FC Ruddy Widodo.

Belum jelas, kapan Rp 2,5 miliar itu akan cair. Perubahan di tubuh PSSI, juga PT LIB bisa jadi bakal menghambat proses pencairan. Seperti diketahui, PSSI punya nakhoda baru, yakni Gusti Randa. Sementara Direktur Utama PT LIB saat ini dipegang Dirk Soplanit. “Informasinya dari PT LIB nunggu sponsor (membayar dulu),” ungkap Ruddy.

Arema FC memang berharap dana itu segera cair. Tapi, bisa dikatakan, Arema FC tidak terlalu ngotot mengejar pencairan dana itu. “Soal subsidi dalam dua tahun terakhir cara pandang kami tentang subsidi berubah. Kami menilai itu vitamin,” kata dia.

Jadi, subsidi dari operator kompetisi tidak menjadi sumber utama untuk menghidupi klub. Sama seperti musim lalu, sebagian besar operasional klub akan ditopang dari dana sponsorship. Baru setelah itu dari penjualan tiket.

Untuk musim ini, PT LIB juga kemungkinan bisa kembali memberikan dana subsidi untuk klub. “Tapi, sekarang ini bukan nilai yang kami ukur, tapi kepastiannya. Memang ada harapan lebih besar. Tapi kalau tidak bisa, kami ingin itu tepat waktu. Sebab, pembukuan klub ini terus berjalan,” jelas dia.

Idealnya, sebelum kompetisi bergulir, PT LIB menjadwal pencairan subsidi. Bisa dibagi dalam sejumlah termin. Bila sudah begitu, maka PT LIB harus menepati janjinya.

“Ya komitmen sesuai termin yang ditetapkan itu saja dulu. Kalau besaran kami ikuti. Namun, kalau turun (nominalnya), kami minta penjelasan dulu kenapa,” kata dia.

Pewarta               : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Indra Mufarendra