Dana Cekak Saat Leader Summit ke Malaysia, Mahasiswa UIN Lakukan Langkah Kreatif Ini

KOTA MALANG- Berkunjung ke luar negeri dan menjadi bagian dari suatu pertemuan International merupakan mimpi mahasiswa di Indonesia. Tetapi, mimpi tersebut kerap kali kandas karena beberapa hal, salah satunya pendanaan.

Hal itu juga yang nyaris terjadi kepada enam mahasiswa UIN Malang yang akan menjadi tim delegasi Indonesia pada acara AFLES (ASEAN Future Leader Summit) di Malaysia, 14-23 Juli lalu.

Mereka adalah Islakhiyah, Bagus Putra Adhyaksa, Lukmanul Hakim, Laila Winda, Prasetyo Puji Sahputro mahasiswa dari Fakultas Humaniora UIN Malang dan satu mahasiswi dari Fakultas Syariah, Latifatul Hasanah.

Salah satu peserta AFLES UIN Malang, Islakhiyah menjelaskan, ia dan teman-temannya sempat tak percaya diri untuk menggapai mimpinya itu dikarenakan dana yang begitu besar. Sementara, imbuh ia, dari pihak Fakultas dan Universitas juga tidak mempunyai dana untuk membiayai mereka.

“Temen-temen itu sudah pesimis karena tidak ada uangnya. Kita juga mengajukan ke Universitas dan Fakultas. Tapi tidak ada dana untuk kami ke Malaysia,” tuturnya.



Untungnya, kata Islakhiah, waktu itu masih bulan Mei atau dua bulan sebelum hari keberangkatan. Jadi, ia mengaku, mempunyai ide untuk mencari sponsor swasta demi keberangkatannya.

“Saya bilang ke teman-teman. Kalau acara ini dananya bisa buat proposal sponsor ke perusahaan. Apalagi saya cari informasi, kalau perusahaan itu pasti mau menjadi sponsor jika jarak waktunya masih dua bulan begini,” tutur mahasiswi jurusan Sastra Inggris ini ke radarmalang.id.

Namun, idenya tersebut, kata Is, sapaan akrabnya, sempat diragukan oleh teman-temannya. sebab ide mencari sponsor ini terbilang baru di UIN Malang. Selama ini mahasiswa, menurut Is, yang akan berkunjung ke luar negeri entah untuk seminar, student exchange atau summit, sebagian besar menggunakan dana sendiri atau beasiswa. “Benar memang pakai dana pribadi. Tapi ya kita ini kan mahasiswa tidak mampu. Akhirnya, saya yakinkan temen-temen kalau bisa kok dari sponsor,” tutur ia.

Dalam meyakinkan teman-temannya, Is berkata, proposal sponsor itu harus mengatasnamakan UIN Malang dan ditandatangani oleh pihak Fakultas sekaligus Universitas. “Saya ajak teman-teman ke fakultas saya untuk konsultasi. Sepakat dengan ide sponsorship, pihak fakultas juga menyarankan kami membuat proposal dengan ’embel-embel’ UIN Malang untuk meyakinkan pihak sponsorship,” ujarnya.

Setelah membuat propsal yang mengatasnamakan UIN Malang itu, ia dan teman-temannya bergegas mencari dana dari satu perusahaan ke perusahaan lain selama dua bulan sebelum keberangkatan. Dalam kunjungannya ke berbagai perusahaan, Is berujar, ia dan teman-temannya juga belajar bagaimana berkomunikasi layaknya seorang marketing.

“Kita ya bukan tanpa usaha. Kita masih ditolak sana-sini sama perusahaan. Tapi, kita survive sih. Cari dana lagi, evaluasi dan lebih memahami apa yang kita tawarkan dan perusahaan dapatkan jika menjadi sponsor kita. Dari situ kita belajar juga jadi marketing,” tutur Islakhiyah.

Akhirnya, sebelum berangkat ke Malaysia, Is mengatakan, seluruh dana yang dibutuhkan untuk tiket pesawat penginapan dan konsumsi selama di sana, yakni Rp 30 juta sebagian besar telah tertutupi oleh dana sponsor.

“Iya usaha kita nyari sponsor ini berhasil. Beberapa sponsor telah teken MoU dengan kita. Bahkan ada sponsor besar yang itu 70 persen mendanai kita. Jadi fix ini berangkat ke Malaysia,” tuturnya.

Untuk itu, selama mengikuti AFLES, selain mengikuti workshop kepemimpinan dan mengenalkan budaya Indonesia kepada seluruh peserta dari berbagai negara ASEAN ini. Is dan kawan-kawan juga mengenalkan produk-produk makanan atau minuman lokal di Indonesia. “Kita jadi ada dua tujuan saal di AFLES. Selain memperkenalkan budaya dan kultur indonesia. Kita juga lakukan endorse produk perusahaan sponsor kita dengan model dari negara-negara lain. Menarik kan? sebagai timbal balik dana mereka,” ujarnya tersenyum.

Dengan kisahnya ini, Is berharap, banyak mahasiswa UIN Malang untuk tidak takut bermimpi pergi ke luar negeri meskipun tidak ada dana atau beasiswa. “Ini loh jalan tidak hanya satu atau dua. Kita bisa kok ambil jalan lain. Jalan yang kreatif yakni dari sponsor dan menjadi marketing,” pungkasnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: istimewa
Penyunting: Fia