Dakwah Teknologi ITN Malang Kupas Hunian Islami

Ir. Budi Fathony, MTA., (kiri) dalam salah satu event Gema Ramadan 2019 di ITN Malang.

KOTA MALANG Kegiatan Dakwah Teknologi mengawali rangkaian Gema Ramadan di kampus biru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dan dosen ini mengharuskan setiap program studi berkontribusi dalam berdakwah yang berkaitan dengan teknologi di masing-masing prodi. Materi yang didakwahkan hasil dari menggali permasalahan yang ada di masyarakat. Kemudian dituangkan dalam bentuk artikel, desain, teknologi tepat guna, dan lain sebagainya.

“Dalam dakwah ini dosen dan mahasiswa berkolaborasi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Hasilnya nanti bisa dipublikasikan dalam bentuk tulisan, desain, atau dibuat produk. Harapannya ITN Malang sebagai kampus teknologi bisa berkontribusi dengan dakwah sesuai dengan teknologi di jurusan masing-masing,” terang Aladin Eko Purkuncoro, ST.MT, Ketua Kegiatan Gema Ramadan, Sabtu (25/5/19).

Menurut Sekretaris Teknik Mesin, Program Studi Sarjana Terapan ini, kegiatan tersebut menjadi ciri khas berdakwah ITN Malang sebagai kampus teknik. Dakwah menurutnya tidak hanya di atas mimbar, tetapi dakwah bisa dengan berbagai cara. “Misalnya Prodi Arsitektur bisa berdakwah dengan mendesain masjid yang bagus dan baik, beserta fasilitasnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Nah, ini bisa menjadi suatu keluaran dakwah teknologi di bidang arsitektur,” ungkap.

Peserta Dakwah Teknologi terdiri dari mahasiswa dan dosen, yang dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama terdiri dari 3 prodi yang expert pada teknologi sesuai jurusannya. Yakni Prodi Arsitektur beranggota Ir. Budi Fathony, MTA dan Afifa Tifliya Wulandar, Prodi Teknik Sipil dengan anggota Ir. Bambang Wedyantaji, MT dan Bayu Kriswahyudi, sedangkan Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) beranggotakan Dr.Ir. Agustina Nurul Hidayati, MT, Ramdhana Fikra Alfiansyah, dan Mita Nur Bulansari.

Dakwah Prodi Arsitektur mengupas hunian islami dengan judul “Menuju Arsitektur Rumah Tinggal Islami”. Dalam penyampaian dakwahnya, Islam tidak bertentangan dengan apa yang telah dicapai oleh perkembangan IPTEK. Tetapi dalam Islam terdapat batasan-batasan untuk membangun sebuah rumah. Bangunan rumah hendaknya dibuat sesuai dengan kebutuhan, fungsi, dan tidak bermegah-megahan sehingga dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan ketidakserasian ekologi.



Di sisi lain rumah tinggal bukan hanya sekedar dibentuk oleh struktur konstruksi, namun aktivitas di dalamnya juga dapat membentuk karakter dari rumah tersebut. Oleh sebab itu, dengan mengedepankan tujuan sebagai tempat bernaung, beristirahat, sekaligus beribadah dapat mewujudkan suatu rancangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pemilik.

Menurut Ir. Budi Fathony, MTA dosen Arsitektur ITN Malang, hunian islami harus memperhatikan beberapa hal. Seperti adanya tempat sholat, membedakan ruang sakral (mushola) dan profan (ruang kotor seperti WC, kamar mandi, dapur dll), hierarki peruntukan tata ruang, rasio pembangunan rumah, letak perabot, menghindari aksesoris berupa patung dan lukisan manusia serta hewan. Rumah harus sesuai dengan keperuntukan dan fungsi tiap ruangan, jadi tidak ada ruangan yang tidak dipakai.

Salah satu ciri hunian islami adalah kloset tidak menghadap atau membelakangi kiblat. Pasalnya, Islam menganjurkan umat Islam tidak membelakangi atau menghadap kiblat saat buang hajat. Membangun rumah secara berlebihan dan bermegah-megahan juga perlu dihindari menurut Budi. Penghuni juga harus memperhatikan ikatan sosial dengan masyarakat, serta dari mana dana hunian tersebut dibangun. “Posisi kamar mandi juga menjadi pertimbangan, pintunya tidak berhadapan dengan dapur, agar tidak menimbulkan perbedaan selera,” imbuh Budi Fathony. Dakwah Teknologi Prodi Arsitektur inipun sudah disampaikan oleh Budi Fathony saat kuliah subuh di Masjid Al Amin Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, pada Ramadan ke-20, hari Sabtu (25/5/19).

Melihat kebutuhan akan rumah islami apa lagi di perkotaan, maka bermunculanlah perumahan yang menawarkan pemukiman islami. Untuk memudahkan mendapatkan hunian islami, maka Dahwah Teknologi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang, mengupas tema“Pemukiman Islami”. Kawasan pemukiman diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. Sehingga kawasan pemukiman harus memperhatikan kondisi jalan, drainase, air bersih, dan air limbah.

Ada kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih pemukiman islami. Pemilihan lokasi rumah juga harus mengutamakan lingkungan yang shahih, dengan komitmen membentuk rumah tangga dalam iman dan Islam, begitupun dengan tetangga juga harus memiliki tujuan yang sama. Menghindari lingkungan yang merusak, dengan memilih tetangga yang sholeh. Memiliki batas dengan jarak yang cukup antar rumah, sehingga memperlancar ventilasi udara, tidak saling menganggu dan terganggu dengan suara-suara atau aktifitas keluarga. Syarat yang terakhir adalah mengutamakan pembangunan rumah dekat dengan masjid atau mushala.

Setelah pemilihan lokasi dan desain hunian islami sudah tergambar, maka giliran Prodi Teknik Sipil mengeksekusi bangunannya. Untuk memiliki rumah islami yang nyaman, indah, kuat dan aman faktor kuncinya pada lokasi, bahan bangunan, dan struktur bangunan. Struktur bangunan adalah penopang dari pertimbangan kenyamanan sebuah bangunan. Seberapa kuat bangunan menopang beban orang, peralatan rumah tangga, furniture, kondisi gempa, dan penurunan tanah.

Struktur bangunan yang baik memiliki tiga kategori dasar, yaitu kuat, aman dan ekonomis. Semua orang dari berbagai lapisan dan latar belakang merasa sangup melakukan, namun ada kalanya karena kemampuan yang terbatas dan bahkan baru mencoba menangani membuat owner/pemilik proyek menjadi ajang coba-coba untuk mereka yang berprilaku seperti itu.

Proses pembangunan perlu diperhatikan terutama pada proses struktur.Struktur bangunan perlu dihitung untuk dapat menentukan dimensi pondasi, kolom, balok, dan dimensi serta jumlah besi tulangan yang lebih efisien dan ekonomis. Banyak dari kita yang mengabaikan hal ini, sehingga yang terjadi adalah pembengkakkan dimensi struktur bangunan yang tentunya berpengaruh terhadap biaya secara signifikan. Bahkan, sebagian besar penentuan dimensi struktur (pondasi, kolom, balok, pelat beton) dan ukuran serta jumlah besi tulangan yang terlalu kecil dari yang seharusnya, sehingga terjadi runtuh atau umur bangunan yang tidak terlalu lama. Hal ini tentu membahayakan kita sebagai pengguna bangunan tersebut.

Penentuan dimensi struktur yang tidak memiliki dasar penentuan atau laporan struktur biasanya terjadi dan dilakukan para kontraktor gadungan ataupun kontrakor berpengalaman yang mengabaikan. Inilah yang menyebabkan banyak kasus bangunan runtuh yang kita temukan di beberapa berita di televisi atau yang kita dengar dari masyarakat.

Penulis: Mita Erminasari,humas ITN Malang
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Humas ITN Malang