Daffa Atha Arkana, Siswa SD Sabilillah Juara Matematika di Tiongkok

Lahap 25 Soal dari Ibu Tiap Hari, Kursus hingga ke Surabaya

Daffa Atha Arkana menunjukkan medali dan sertifikat yang dia dapat di Singapura.

Umurnya baru 10 tahun. Juga masih kelas III SD. Tapi, prestasinya sudah bikin bangga. Tak hanya bagi orang tuanya dan sekolah, tapi juga Indonesia. Beberapa kali dia menjuarai kompetisi Matematika tingkat internasional. Seperti apa perjuangannya?

Mula-mula, bocah bertubuh gempal itu malu-malu saat diwawancarai koran ini kemarin (8/5). Tapi, lama-lama siswa SD Sabilillah Kota Malang itu terlihat enjoy menceritakan prestasinya di bidang Matematika.

”Suka Matematika sejak kelas 1 SD. Enggak taju kenapa bisa suka. Kalau pas ngerjain itu seru banget,” ucap Daffa Atha Arkana, siswa kelas 3 SD Sabilillah itu.

Mungkin, menurutnya, dia menyukai Matematika karena kebiasaannya belajar berhitung. ”Apalagi setelah kelas satu ikut lomba Matematika KMNR (Kompetisi Matematika Nalaria Realistik),” kata dia.

Kendati amat menyukai Matematika, kadang Daffa merasa bosan belajar. ”Pernah merasa bosen dan tidak semagat belajar. Tetapi saat melihat soal-saol Matematika menjadi semangat lagi,” katanya.

Pendidikan Daffa ini juga dia terima dari orang tuanya. Saban hari, dia mengerjakan 25 soal Matematika yang disiapkan orang tuanya. Tapi, orang tua Daffa membebaskan anaknya mengerjakan soal-soal itu semampunya. Bahkan bisa dikerjakan esok harinya jika tidak tuntas malam itu.

”Biasanya Ibu ngambil soal-soal dari buku atau internet. Disuruh dikerjakan semampunya. Tetapi saya bisa mengerjakan langsung 25 butir soal setiap hari,” ucap anak yang lahir pada 4 April 2005.

Daffa biasa mengerjakan soal-soal dari orang tuanya sejak kelas I SD. Hasilnya, dari kelas satu sampai sekarang (kelas 3), dia kerap jadi delegasi untuk mengikuti lomba Matematika. ”Kalau setiap harinya belajar setelah magrib. Namun saat persiapan untuk lomba, juga berlanjut setelah isya. Setiap hari jarang nonton TV. Sangat jarang.

Paling hanya 30 menit. Kecuali hari Minggu,” ucap anak dari Aditya Candra Buana dan Lely Widia Asri itu.

Barangkali bisa dikatakan, bagi Daffa, tidak ada hari tanpa belajar. Aktivitas sekolah, dari pagi sampai pukul setengah 4 sore, lalu pulang ke rumah. Istirahat sejenak, lalu belajarnya lanjut lagi. Setelah isya, dia belajar mata pelajaran selain Matematika. Ketika sudah mengantuk, Daffa langsung tidur. Waktu menonton televisi?

Paling lama hanya 30 menit. ”Kalau hari Sabtu setelah pulang sekolah berangkat ke Surabaya untuk les di KPM (Klinik Pendidikan MIPA). Kebetulan ayah juga bekerja di sana. Setelah selesai, pulang ke Malang. Dan kalau ngantuk langsung tidur,” ujarnya.

Hari Minggu pun Daffa les di RPM (Rumah pendidikan MIPA). Meskipun pagi sudah les, malamnya dia belajar lagi. Dengan catatan, jika ada waktu dan dia tidak lelah. Sebab, pada hari Minggu lah dia memiliki kesempatan bemain.

”Setiap hari tidurnya harus jam 21.00. Tidak boleh lebih,” ungkap siswa yang sebelumnya juga sekolah di TK Sabilillah. Dari pola hidupnya, terlihat jelas hidup Daffa amat teratur.

Orang tua Daffa, Lely Widia Asri, saban hari memang intens mendampingi anaknya karena dia memang tidak bekerja di luar rumah. Pendampingan intensif itu rupanya membuahkan hasil dengan berbagai prestasi yang didapat anaknya.

”Lomba Matematika pertama ikut KMNR. Saat itu bisa lolos sampai nasional. Kalau tidak salah dapat perak (juara 2),” ungkap sang ibu.

Peruntungan Daffa dalam olimpiade dalam 2 tahun terkahir bisa dikatakan sangat memuaskan. Penghargaan yang diterimanya berupa medali emas, perak, juga perunggu.

Selama kelas II, lomba yang dia ikuti di antaranya IMWIC (International Mathematic Wizard) di Tiongkok. Lomba tersebut tingkat International. Selain itu, Daffa juga berpartisipasi dalam ajang Jismo (Japan International Science and Matemathics Olympiads) yang diselenggarakan di sekolah international di Sidoarjo. Lalu, KMNR 12 di Malang tingkat nasional, dan HIMSO (Hidayatullah Mathematic and Science Olympiad) di Surabaya tingkat nasional.

”IMWIC di Tiongkok dapat Emas, JISMO dapat perunggu, KMNR 12 juga dapat perunggu, dan HIMSO dapat emas. Semua lombanya pada tahun 2017,” tutur bocah yang ingin menjadi insinyur tersebut.

Di samping itu, presatasinya saat duduk di kelas III juga tak kalah mentereng. Daffa berkompetisi dalam ajang internasional. Meskipun penyelanggaraannya dilaksanakan di Indonesia, tetapi kompetisi itu diikuti oleh beberapa negara di luar Indonesia seperti Jepang, Malaysia, dan Tiongkok.

”Kelas III ada SIMOC (Singapur Mathematic Olympiad). Mendapat perak. AMO (American Mathematic Olympiad) mendpat gold award, dan TIMO (Thailand International Mathematic Olympiad) juga dapat gold award. Dan yang terbaru, KMNR 13, tempatnya di Ancol, dapat emas. Itu bulan kemarin (April),” ucap bocah yang ingin mengikuti olimpiade Matematika hingga ke Paris, Prancis, ini.

Pewarta: Ali Afifi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Dokumentasi Daffa Atha