Cita Rasa Bertahan hingga 18 Tahun

Di Kepanjen, Kabupaten Malang, ada warung sederhana yang begitu diminati banyak kalangan. Kunci sukses warung ini adalah mempertahankan cita rasa makanan tradisional. Peminatnya mulai dari pelajar hingga pejabat.

 

Kuliner legendaris itu berada di sudut Kepanjen, Kabupaten Malang. Jika Anda dari Kompleks Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur), di Jalan Raya Kepanjen, Krajan, Panggungrejo, Kepanjen, Anda cukup jalan lurus sekitar lima kilometer.

Sepanjang perjalanan, Anda akan disuguhkan dengan banyaknya warung yang berada di pinggir sawah. Bangunan berbahan bambu itu berjumlah sekitar 15 lebih. Paling ujung, ada warung yang sepertinya tak pernah sepi.

Warung tersebut adalah Nasi Empok Bu Sulasih. Nama warung ini diambil dari nama pemilik warung, yakni Sulasih, 62, warga Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen. Saban hari, dibantu suaminya, Rojid, 59, keduanya mulai bersiap-siap sejak pukul 05.00 pagi.

Aktivitas ini dilakukan sejak tahun 2000, ketika warung ini mulai berdiri. ”Untuk bahan bakunya ya disiapkan dari rumah, di warung hanya perlu melayani pelanggan saja,” ucap Sulasih kepada wartawan koran ini, pekan lalu. Dia menceritakan, pada 2004, dirinya pernah bangkrut hingga warungnya tutup sekitar satu tahun. Ini karena dagangannya tidak laku. Bahkan, dalam sehari dia pernah hanya mendapatkan uang Rp 7 ribu.

Baru setelah itu, keduanya mencoba bangkit dan memberanikan diri untuk jualan lagi. Berbekal ilmu membuat cendol dari kedua orang tuanya, mereka membuat variasi. Rupanya, inovasi tersebut berbuah manis.

Rojid menambahkan, untuk saat ini, dalam sehari dirinya mampu menghabiskan sekitar 50 kilogram jagung dan 70 kilogram cendol. Jika dirata-rata, dalam sehari dirinya mampu menjual 200 porsi nasi empok dan 400 porsi es dawet. Itu hanya di hari-hari biasa saja, untuk hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dirinya mampu menjual 400 nasi empok dalam sehari.

Warung ini buka dari pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Pelanggannya mulai anak-anak hingga dewasa. Bahkan, jika memasuki jam makan siang, beberapa pegawai pemerintahan dan swasta sering berkunjung ke warung yang berlatar sawah tersebut. ”Pelanggan setia biasanya dari SMP, SMA, kuliah, dan saat ini bekerja menjadi pegawai, masih saja tetap ke sini. Bahkan, ada juga yang sudah di Jogja masih sering menelepon dan menanyakan,” terangnya.

Sebagaimana tempatnya yang sederhana, menu nasi empok di tempat ini juga sederhana. Satu porsi hanya Rp 3 ribu. Dengan harga yang sangat murah itu, pembeli sudah dapat nasi empok, sayur-sayuran, sambal terong, ikan teri, dan rempeyek. Sedangkan untuk menu tambahan, ada telur Rp 2.000 dan pindang Rp 1.500. Ketika dimakan, menu sederhana itu begitu mantab. Apalagi, ditambah minum es dawet usai makan.

Sementara itu, Djoko Susilo, 45, salah seorang pelanggan, mengaku sering ke tempat ini sejak masih remaja. Menurut dia, cita rasa warung ini tidak berubah meski sudah 18 tahun berdiri. ”Dulu saya sering ke sini dengan teman-teman waktu sekolah. Masih enak saja paduan nasi dan jagung, plus sambal terong dan juga terinya. Harganya juga ekonomis,” kata pegawai salah satu bank swasta ini lantas tertawa.

Pewarta: Miftahul Huda
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono