Ciptakan Alat Bantu Mikroskop Portable, Mahasiswa ITN Malang Lolos Pendanaan Menristekdikti

KOTA MALANG – Probe atau alat bantu pemutar lensa di mikroskop dewasa ini hanya terdapat pada mikroskop baru. Alat bantu yang digunakan untuk memperbesar (zoom) objek ini pun terbatas hanya bisa dipakai mikroskop bawaan, tidak bisa dipindah ke mikroskop baik yang lama maupun yang terbaru.

Permasalahan inilah yang membuat mahasiswa asal Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Tiar Bagus Musrofin bersama kedua rekannya, Muhamad Zaydi Muzzahab dan Mochamad Yajit Albustomi menciptakaan terobosan probe mikroskop yang portable. PKM Karsa Cipta 3 mahasiswa ini berhasil lolos Pimnas dan didanai Kemeristekdikti tahun 2019.

“Permasalahan ini saya temukan ketika kerja praktik di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Di sana mereka punya mikroskop baru dan lama, yang lama tidak punya probe atau alat pemutar yang berfungsi untuk ngezoom objek. Sedangkan probe di mikroskop baru nggak bisa dipindah-pindah. Harus nempel ke mikroskop bawaanya,” beber Tiar.

PKM-nya yang berjudul Optimus Arm (Optimization of Image Quality) Alat Bantu Autofocus Mikroskop Untuk Pengoptimalan Objek ini dilengkapi motor steper dengan tingkat ketelitian 1,8 derajat. Namun dalam tahap pengembangan ini mereka menemukan cara bagaimana steper kuat namun derajat perstepnya kecil.


“Akhirnya kita coba pakai gear box untuk menambah torsinya semakin kuat sehingga derajat perstepnya semakin teliti 0,9 derajat perstep. Probe ini akan menyajikan gambar objek yang halus. Ini sangat membantu jika dipasang di mikroskop lama, mengingat mikroskop lama nggak punya probe jadi harus manual pakai tangan,” terang mahasiswa semester 8 tersebut.

Untuk membuat Probe, mahasiswa asal Pasuruan ini mengatakan telah menghabiskan kurang lebih Rp 3 juta. Pihak LIPI Bandung pun berdasarkan keterangnya mengapresiasi karyanya dan berharap karya ini benar-benar bisa diproduksi massal.

“Probe itu harganya milyaran, tapi kalau sampai ini bisa benar-benar membantu dan banyak yang minta, maka alat ini akan jadi yang termurah. Udah murah, fleksibel juga. Kalau soal kira-kira harga jual sih nggak tau, yang jelas nggak sampai miliyaran,” tutupnya sambil tertawa.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Humas ITN Malang
Penyunting: Fia